Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 94 : Pertemuan Pertama


Dibalik kesibukan antara Harrison dan Raja Callius, tampaknya disudut ruangan tersebut ada sesosok gadis yang kebosanan dan juga kesepian. Ia hanya terdiam sembari melamun disela kegiatan memperhatikan sesisi ruangan tersebut dengan lekat. Tak lama kemudian ia bangkit, beranjak dan mendekati meja kerja Callius dengan gagah berani.


“Yang Mulia.. Yang Mulia.. saya boleh bertanya?” tanya gadis itu diiringi wajah cemberutnya.


“Lucy! Jangan bertingkah tidak sopan di dekat Yang Mulia Baginda!” gerutu sang Ayah dengan wajah keringatannya. Alih-alih marah, Callius hanya tertawa renyah kepadanya.


“Hohoho! Atur ekspresimu, kita kan sepertinya akan segera berbesan di masa depan, aku teramat tidak masalah mau putrimu melakukan apapun. Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan Lucy?” tanya Callius yang kini beralih tatap kepadanya.


“Yang Mulia Pangeran itu— orang yang seperti apa? Saya sangat penasaran!” serunya dengan tatapan yang berbinar-binar.


“Hmm~ Putri bungsumu juga tertarik pada Pangeran ya, sepertinya dia juga penyihir kan?” bisik Callius terhadap Harrison yang kini membuat wajah sang gadis nampak kebingungan.


“Baginda itu— sepertinya Putri sulungku telah mengetahui adanya perjodohan tentangnya, jadi—” Seperti yang kalian duga, tampaknya Harrison agak kewalahan untuk mengartikan situasi ini seperti apa.


Akan tetapi dengan keputusan yang tegas. Ia berkata, “Aku tahu itu~ jika kamu penasaran, kamu bisa mencarinya di Istana Cathalia~ Pangeran sehabis latihan selalu berkunjung kesana, nah sekarang pergilah bersama ajudanku!” serunya yang diberi anggukan oleh Nicho, sang asisten sekaligus ajudannya. Jika di masa modern kita bisa mengatakannya seorang sekretaris.


Tak lama kemudian ia menggiring Lucy untuk segera keluar dari pintu ruang kerjanya.


“Huh? Ayah?! Aku—”


Blam!!


Pintu itu kini tertutup dengan rapat yang kini menyisakkan keheningan diantara mereka, lantas kini Harrison menggaruk kepalanya yang tidak gatal diiringi raut wajah gelisahnya yang entah karena memikirkan hal apa.


“Ba—baginda! Apa tidak masalah mempertemukan mereka di usia yang begini, saya takut pertemuan pertama mereka menjadi lebih berkesan.. tidak— sepertinya saya senang, tapi putusan pernikahan itu kan diberikan pada Putri sulungku..” Awalnya ia cukup kelabakan dengan mengatakan beberapa keluhannya secara panjang dan lebar, namun tak lama kemudian sang Raja memotong ucapannya dengan suatu kalimat yang memang tidak dapat dibantah lagi.


“Aku tahu— putusan pernikahan tetap akan diberikan pada Putri tertua dikeluarga Barayev, kecuali aku menemukan penyihir wanita dikeluarga bangsawan yang lain. Untuk sekarang, membuat mereka berteman tidak buruk juga, aku menyukai Putrimu dan menganggapnya seperti Putriku sendiri, jadi tidak perlu sungkan.” bantahnya yang membuat Pria itu terdiam cukup lama.


Eugh.. Lucy ku.. apa memang akan berjalan sesuai ramalannya?


...***...


Cuaca hari ini nampak terik, sembari berada dipangkuan Nicho, Lucy nampak memperhatikan istana ini dengan tatapan terkesimanya. Namun tampaknya kali ini mereka tidaklah berkeliling di istana Cathalia yang tidak berpenghuni itu, melainkan mereka menyusuri taman untuk menemukan keberadaan orang yang ia cari-cari sedari tadi, yaitu Pangeran Reygan, sang Putra Mahkota.


Kenapa Lucy bisa tiba-tiba tertarik padanya? Itu karena ia pernah bertemu dengannya lewat mimpi.


Ya, mimpi kecilnya yaitu bertemu dengan sosok Putra Mahkota yang telah dewasa, ia menatap wajahnya dengan dingin. Ketika ditanya ia siapa, ia berkata “Aku adalah Putra Mahkota yang akan menjadi Raja di negeri ini, pergilah. Jika tidak ingin mati.” Perkataannya memang terdengar seperti teka-teki, tapi saat itu ia hanyalah gadis kecil yang tidak begitu mengerti akan banyak hal.


Baginya, memastikan apakah wajahnya memang seperti yang ia lihat di mimpi atau tidak, karena kala itu ia masih belum sempat memperhatikan lukisan potret keluarga kerajaan. Yah ia belum sempat melihatnya.


Lantas..


“Ah-Nicho~ dia ada dimana?” tanyanya keheranan. Ngomong-ngomong, sampai kapan ia akan digendong begini sih?


Bugh.


Bugh..


“Hey! Turunkan aku!” gerutu bocah lima tahun itu sembari memukuli pundaknya yang bahkan tidak menimbulkan rasa sakit sedikitpun.


“Baik-baik Nona kecil, silahkan berjalan sendiri~” malasnya yang berujung membuat gadis itu berlari dengan bebas dibawah hantaran rerumputan musimpanas yang luas.


Ditatap pada ujung tempat yang lumayan agak tinggi untuk dipandang, ia menemukan seseorang yang tengah berteduh dibawah pohon yang rindang dengan santai. Ia seperti mengenali rupa itu yang mirip dengan seseorang. Dengan segenap kekuatannya ia sedikit berlari dan berteleportasi untuk memangkas jarak diantara mereka. Wajahnya yang cantik nampak tersenyum dengan berseri-seri.


Kyaaa!


Brukk!


Saking bersemangatnya ia sampai terpeleset ketika menginjak akar pohon hingga membuat wajah dan lututnya itu mencium tanah dengan keras, mendengar jeritan kecil itu membuat laki-laki berusia 7 tahun itu melirik dan menoleh kearahnya.


“Kamu? Siapa? Memangnya sembarangan orang boleh masuk ke tempat ini?” tanyanya dengan tajam.


Uhk..


Alih-alih menjawab, gadis kecil itu hanya menahan tangisnya sembari memperhatikan luka kecil di lututnya. Reygan yang tidak menerima respon apapun kini menghampirinya dengan tatapan kesal.


“Kamu siapa?!” gerutunya sampai memegangi kedua pundak sang gadis dengan kasar.


Eh..


Tanpa sengaja, tatapan mereka bertemu. Sentuhan yang diberikan Reygan secara tiba-tiba membuat netra coklatnya menembus pada iris kemerahannya yang berkilau. Tak lama kemudian perempuan itu menampilkan senyuman lebar kearahnya.


“Tuan yang hadir dimimpiku! Akhirnya ketemu~” gemasnya dengan kedua pipi yang bersemu kemerahan.


Eh? Apa katanya? Tuan yang hadir dimimpinya? Bocah gila yang aneh.


“Pergilah, mengganggu saja.” gerutunya sembari menyandarkan dirinya pada batang pohon yang besar itu, ia tampak membuka sedikit kancingnya untuk menerima udara sejuk pada tubuhnya yang banjir akan keringat.


“Yang Mulia, apa anda mempercayainya? Tiap hari saya memimpikan sosok dewasa anda yang gagah berani~ lalu saya melihat diri saya yang sudah besar tumbuh dengan cantik! Tapi— saya tidak begitu mengerti karena ada sesuatu yang berbeda dari penampilan saya.. tapi saya melihatnya! Saya memakai pakaian pengantin dan bergandengan tangan dengan anda!” serunya yang bercerita panjang lebar seolah ia melupakan rasa sakit yang baru saja ia alami sebelumnya.


Pe-pengantin? Bocah gila! A-apa katanya? Aku menikah dengannya?


“Ha? Kau begitu banyak mengarang cerita, apakah kau sebegitu menyukainya aku? Duh, bocah ini imajinasinya..” risihnya diiringi tatapan mata yang aneh, tapi sepertinya ia tidak begitu sadar bahwa sudut bibirnya kini melengkung menandakan bahwa ia mulai tertarik dengannya.


Tidak— pipinya nampak bersemu kemerahan karena menahan malu.


Ia juga bertingkah seperti ingin mengusirnya, tapi dirinya saja masih duduk bersender di pohonnya tanpa meninggalkan tempat itu jika ia benar-benar muak pada kerandoman Lucy yang tiba-tiba. Disamping itu, Nicho sang ajudan Raja nampak berlari terengah-engah untuk menghampiri mereka yang sibuk ribut sendirian.


“Hah—ahhah.. dasar anak kecil, kenapa larinya secepat itu sih?” gerutu Nicho sembari mengusap keningnya yang dipenuhi bulir-bulir keringat.


“Itu! Karena melihat tuan penghuni mimpi disini, saya sedikit berlari diiringi berteleportasi heheh!” polosnya yang menjawab pernyataan Nicho tanpa beban.


?!


“Kau penyihir? Siapa namamu?! Lyonora?” tanyanya yang teramat penasaran soal calon tunangannya, tapi seingatnya, Lyonora itu merupakan gadis yang dengan usia yang seumuran dengannya.


Sekilas sang gadis terlihat berpikiran keras untuk mencerna seluruh pernyataan yang keluar dari mulut Reygan, tak lama kemudian ia menjawab pertanyaannya dengan nada yang ramah.


“Apakah Tuan mengenali kakak saya? Nama saya bukan Lyonora, tetapi Lucy Fleur Barayev.”



𝐇𝐚 𝐓𝐞𝐦𝐚𝐧-𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧! 𝐇𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐞𝐭 𝐭𝐞𝐥𝐚𝐭 𝐮𝐩 𝐲𝐚𝐚𝐚, 𝐬𝐨𝐚𝐥𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐦𝐞𝐢𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐤𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢𝐧 𝐤𝐨𝐧𝐝𝐢𝐬𝐢 𝐚𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐚𝐢𝐤-𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐬𝐚𝐣𝐚. 𝐒𝐞𝐞 𝐲𝐨𝐮 𝐧𝐞𝐱𝐭 𝐜𝐡𝐚𝐩𝐭𝐞𝐫<𝟑