
Raut wajah Lucy terlihat kesal, ia hanya bisa menggerutu sebal ketika mendengar lontaran tidak masuk akal dari penyihir wanita itu. Kesabarannya yang setipis tisu itu telah mencapai batasnya. Tampaknya Lucy ingin pergi dsri tempat ini, hanya saja bagaimaan caranya ia kembali ke atas, sedangkan ruang bawah tanah ini saja tidak memiliki pintu?
Samantha hanya terdiam melihat Lucy yang tidak percaya dengan perkataannya dan memilih berkeliling untuk mencari dimana pintu keluar itu berada. Namun dengan suara tajamnya diiringi lontaran kalimat yang menusuk itu berhasil menghentikan pergerakan Lucy untuk sesaat.
“Nona Raflesa. Sebaiknya anda duduk manis terlebih dahulu.” pinta wanita itu diiringi alunan nada yang datar.
Deg..
Raf-
Raflesa?
Tatapan wanita penyihir itu terlihat tajam sampai-sampai punggungnya yang kini tengah membelakangi terasa bergejolak panas. Kini dengan terpaksa ia menatap ke arah sumber suara diiribgi raut wajah tidak percaya, pada akhirnya ia kembali menghampirinya untuk duduk kembali dan berbincang dengannya.
Sepertinya ia merasa bahwa Samantha sudah berhenti bercanda. Tidak, apakah sejak awal dia memang mengatakan segalanya dengan benar?
“Anda— tidak, bagaimana bisa anda mengetahui nama saya yang dulu?” tanya gadis itu tidak percaya.
“Itu.. Anda kan yang mengatakannya di dalam hati.” ujar Samantha diiringi cengiran dengan tatapan tidak bersalah.
…
Krik..
Krikk..
Doeng..
“Apa?! Ah bodohnya aku mempervayai penyihir gadungan sepertimu!” gerutunya kesal. Giginya menggertak pertanda ia benar-benar murka. Bisa-bisanya penyihir itu mempermainkan perasaannya seperti ini?
Tapi memang benar ia tidak bisa di salahkan, karena bakat penyihir itu ialah menembus isi hati seseorang.
Tepat setelah ia mengatakan kalimat, “Saya merasakan gejolak energi sihir saya dari tubuh Nona.. sepertinya seseorang meminta saya untuk memutar waktu demi Nona.” Pasti saja Lucy kelihatan murka dengan pernyataan tidak berdasar itu.
Maka hatinya menggerutu kesal seperti ‘Aku ini Raflesa! Mana bisa seseorang memutar waktunya untuk ku yang bahkan tidak ada hubungannya dengan Lucy!’
“Jangan sembarangan bicara, aku bisa melihat masa depan lho~” elaknya diiringi senyuman ramah. Kenyataannya, Lucy hanya menganggap penyihir itu pandai beraktint disituasi serius seperti saat ini.
“Kalau itu, walaupun tidak sering.. saya juga bisa!” ocehnya sembari menarik kembali secangkir teh nya yang mulai terasa dingin dan hambar.
“Lantas jika ada yang memutar waktunya untuk Lucy, itu siapa?” tanya gadis bersurai pirang itu diiringi tatapan tajam.
“Lalu.. bagaimana bisa bahwa seseorang telah memutar waktunya untuk saya? Seperti yang sudah anda dengar dari isi hati saya. Saya hanyalah seseorang yang datang untuk menggantikan kehidupan Lucy yang menyedihkan!” ujarnya yang mencoba menyangkal segala ucapan yang keluar dari mulut Samantha.
Gadis bersurai perak itu terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, tak lama kemudian sudut bibirnya terangkat melengkung menampilkan senyuman aneh, “Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, anda terlihat asing dengan raga ini, namun bau dari jiwa kalian tetap sama, Nona. Seharusnya anda sudah bisa menyimpulkan hal ini sendirian bukan?” tanya wanita itu yang kini kelihatan dongkol.
Deg..
Ah.. jadi maksudnya jiwa kami benar-benar sama? Apa itu masuk akal? Memangnya aku bisa mempercayai hal itu begitu saja?
“Terserah Nona mau mempercayai hal ini atau tidak. Kenyataannya saya melihat aliran sihir milik saya di tubuh Nona, dan sihir itu merupakan sihir pemutar waktu.” tekannya bernada datar seolah ingin menunjukkan bahwa dia tidak bermain-main dengan perkataannya.
Kini wanita itu membangkitkan diri, tak lama kemudiam ia melangkah mendekati rak buku dan terlihat seperti mencari-cari sebuah buku penting di sana, sedangkan Lucy hanya terkekeh kecil.
“Keahlian Nona penyihir benar-benar banyak ya, jika anda tidak bisa melihat masa lalu. Bukankah masa lalu itu adalah apa yang akan terjadi di masa depan? Lantas mengapa?” tanya perempuan itu yang terlihat putus asa. Banyak sesuatu yang sudah ia anggap biasa untuk menerima kenyataan aneh yang terjadi di dunia ini.
Tapi ini berbeda, apa ia akan dengan mudahnya menerima segala lelucon yang Smantha lontarkan kepadanya? Itu tidak mungkin.
“Itu sesuatu yang berbeda, Nona penyihir kecil. Bisa di bilang ini adalah kehidupan yang berbeda. Karena jika terjadi perubahan kecil setelah waktu diputar balikan, maka perubahan kecil saja benar-benar berdampak pada masa depan. Jadi, masa depan yang saya lihat saat ini.. belum tentu sama dengan apa yang telah terjadi di masa lalu.” jelasnya diiringi mata yang terpejam. Ia terlihat kesulitan untuk menjelaskan hal seperti ini kepada Lucy. Terlebih, ini bisa berakibat fatal.
“Lagi pula Nona, saya tidak bisa menceritakan masa depan saat ini kepada siapapun, karena itu dianggap telah menyalahi aturan yang akan menghancurkan takdir.” lanjutnya yang kini menghampiri Lucy sembari memberikan sebuah buku dengan sampul hitam yang lusuh.
Belum sempat memikirkan soal buku itu, Lucy hanya ingin menanyakan apa yang ingin ia tanyakan seterusnya. “Lantas, apa yang harus saya lakukan? Apa anda tahu soal penyihir kegelapan yang akan bangkit itu—” ujarnya yang kini dipotong begitu saja.
“Saya tahu anda khawatir, tapi tenanglah Nona. Saya akan membantu anda kedepannya, jadi jangan khawatir bahwa saya akan mebocorkan hal ini kepada siapapun. Karena saya merasa bertanggung jawab atas Nona yang telah kembali ke masa lalu karena saya.” ujarnya yang kini menggenggam erat pergelangan tangan Lucy.
Entah karena apa, wanita penyihir itu terasa gelisah. Namun berkali-kali pun bahwa waktu telah diputar karena sihir wanita itu, Lucy hanya bisa terdiam tanpa mempercayai segala ucapannya.
Buku itu kini berada digenggaman Lucy, ia tidak tahu dengan apa tujuan Samantha memberikan buku lusuh ini kepadanya. Namun yang wanita itu lakukan hanyalah menaruh jari telunjuk di depan bibirnya pertanda bahwa ia tidak perlu menanyakan hal seperti itu kepadanya.
“Sepertinya acara kembang api akan segera dimulai, Nona sebaiknya pergi ke tempat lain.” titahnya yang kini memegang pergelangan tangan Lucy. Diiringi jentikan jari seperti sebelumnya, mereka telah kembali ke atas sana, dimana toko antik itu berada.
Benar, ia rasa perbincangannya dengan Samantha sudah memakan waktu lama. Bisa-bisa Flona dan Tuab Ksatria itu datang kemari untuk menemukan keberadaannya. Pada akhirnya saat ini Lucy berencana pergi dan berpamitan terlebih dahulu kepadanya. Namun tiba-tiba saja wanita aneh itu mencekal kepergiannya dengan segurat pertanyaan aneh.
“Bukankah ada tujuan lain yang belum Nona dapatkan saat ini?” tanya wanita itu seperti memberikan sebuah teka-teki menyebalkan.
Tiba-tiba saja pandangan matanya kini teralih kepada suatu benda berwarna merah yang menyala.