
Apa ini hanya perasaan Flona bahwa semenjak kembali dari festival malam itu, Lucy terlihat berbeda? Memang sejak awal sifatnya memang pendiam namun pada dasarnya Lucy adalah gadis yang hangat. Memang semenjak lupa ingatan, menurut Flona sifat Lucy agak berubah menjadi urak-urakan.
Tapi apapun itu saya tidak peduli asalkan Nona dapat merasa nyaman dan bahagia! Tapi— kenapa semenjak malam itu Nona hanya berdiam dan terus-terusan murung seperti ini?!
“Bagaimana Sir? Menurut anda Nona kenapa?” tanya gadis itu yang sedang mengawasi Lucy dari jarak jauh, karena Lucy saat ini terlihat melamun di bawah pohon tempat ia menghabiskan masa kecilnya dengan Yang Mulia Putra Mahkota dulu.
Pria itu nampak menggelengkan kepalanya, “Mungkinkah beliau merindukan Yang Mulia?” tanya Sir Emillo yang kini mencoba menebaknya. Gadis berpakaian maid itu menggeleng sebal.
“Saya rasa Nona memiliki masalah, tapi beliau seperti biasa hanya akan memendamnya sendirian.” ujarnya diiringi tatapan sayu. Pria itu hanya menghela nafas dan menepuk bahu Flona beberapa kali, sepertinya ia hanya ingin menghiburnya.
Sedangkan Lucy yang merasa terawasi hanya dapat menggerutu sebal, mereka ini ngapain sih? Kedengaran tahu!
Begitulah isi hatinya. Ia hanya ingin sendirian untuk menjernihkan pikirannya yang sedang kalang kabut. Disisi lain ia terlihat bersyukur karena semakin hari mereka terlihat semakin akrab tanpa ada suasana canggung seperti sebelumnya.
“Yah, dasar pasangan gila.” ocehnya sebal, moodnya tidak begitu stabil. Lucy kini hanya terdiam sembari melanjutkan bacaan bukunya yang berbahasa kuno. Itu merupakan buku yang diberikan Samantha 2 hari yang lalu.
Hanya saja, baru halaman pertama tapi ini rasanya menyesakkan. Menggunakan kekuatan sihir sudah pasti aku bisa menerjemahkan buku ini, tapi ini melelahkan!
Dia hanya bisa mengeluh ketika baru bisa menyelesaikan satu halaman pada buku ini. Anehnya buku ini berisikan catatan dan pengetahuan tentang penyihir abadi yang melawan penyihir kegelapan di masa lalu.
Tapi bagaimana bisa Samantha memiliki buku yang seperti ini? Apa dia mencurinya?
Bukankah buku penting seperti ini akan dijaga ketat di perpustakaan kerajaan?
Pantas saja aku mencari-cari buku yang lain tapi tidak pernah menemukan jawaban dan penjelasan yang aku harapkan, apa semua pertanyaan yang ku simpan di dalam hati ini akan terjawab setelah membaca buku ini?
Gadis itu terlihat bergelut dengan pikirannya sendiri. Namun seorang bayangan yang muncul tiba-tiba kini membuat Lucy teralih dan menoleh ke arahnya, dibawah sinar matahari yang terik Reygan muncul dengan senyuman kecilnya. Ia tampak terengah-engah seolah habis berlari demi menemukan keberadaannya, satu tangannya kini menyangga ke batang pohon untuk menopang kekuatannya disana.
Lucy yang mendongak dan menatap ke arah terlihat kaget, “Yang Mulia?” tanyanya yang merasa tidak sadar bahwa 5 hari telah berlalu semenjak Reygan pergi ke wilayah duchy.
“Rupanya ada di sini.” tutur Pria itu yang kini duduk di sebelahnya. Pria yang terlihat kelelahan itu kini menyender di pundak Lucy untuk mengistirahatkan dirinya disana.
“Jangan bilang anda berlari kesini untuk mencari saya?” tanya gadis itu yang kini menyembunyikan bukunya dibalik gaun besar yang ia kenakan.
“Hehe, ketahuan ya~” lirihnya diiringi mata terpejam.
Lucy sendiri tidak begitu mengerti dengan sikapnya, bukankah ia bisa datang pelan-pelan untuk menemuinya? Tapi kenapa Reygan sampai berlari seperti ini demi menemukan keberadaan Lucy. apakah dia takut bahwa gadis penyihir ini pergi melarikan diri?
Tangannya nampak terangkat untuk mengusap surai hitam legam itu, namun langkahnya kini terhenti ketika ia teringat suatu ucapan penyiihir putih di toko antik itu.
Jika jiwaku memang jiwa yang sama dengan Lucy ini, bukankah sudah seharusnya aku membenci Pria yang membiarkan aku mati di lahap api itu?
Gadis itu kini nampak memaksakan dirinya untuk tersenyum, “Saya baik-baik saja. Sebaiknya anda kembali saja, anda pasti lelah.” tutur gadis itu yang mencoba membangkitkan dirinya untuk pergi. Namun pergelangan tangannya kini di cekal Reygan dengan perasaan yang aneh.
“Apa Lucy tidak merindukan saya, saya sampai berlari hanya karena ingin bertemu dengan Lucy..” tukasnya yang merasa sedikit kecewa.
Anehnya kali ini ia merasa tidak tersenyuh dengan tatapan memelas itu, “Saya.. ternyata begitu ya. Baiklah, tapi sebaiknya anda beristirahat dulu sebentar. Apa anda tidak berkaca bahwa mata panda anda terlihat begitu tebal? Sepertinya Yang Mulia tidak tidur beberapa hari.. bagaimana kalau anda jatuh pingsan.” tutur gadis itu bernada datar.
Ia merasa dikhawatirkan, tapi perasaan Pria itu seperti tidak mengkhawatirkannya. Sebenarnya ada apa dengan Lucy? Namun jika Lucy sampai berkata seperti itu, sepertinya gadis itu memang sedang tidak mau di ganggu. Yang bisa Reygan lakukan saat ini hanyalah memeluknya dengan menyalurkan rasa kerinduannya yang dalam.
“Apa Lucy melupakan kesepakatan awal? Katanya Lucy setuju mau membangun hubungan ini dari awal, tapi kenapa Lucy memanggil saya dengan sebutan formal lagi.. apa Lucy juga tidak ingin menanyakan apakah pekerjaan saya berhasil? Kenapa Lucy bersikap dingin begini kepada saya?” tanya Pria itu yang merasa kecewa dengannya.
Lucy sedikit terpaku mendengarnya, bagaimana seorang Putra Mahkotabisa bersikap lemah begini di depannya? Kini Lucy terlihat menghela nafas, “Maafkan saya Rey. Saya hanya khawatir karena anda kelihatan kurang tdiur. Jadi rasanya lebih baik menunda obrolan ini dari pada kondisi anda semakin tidak baik.” ujar perempuan itu sembari memejamkan matanya, tak lama kemudian ia kembali duduk di sampingnya.
Pria itu nampak tertawa kecil, tak lama kemudian ia membaringkan dirinya dengan menjadikan pangkuan Lucy sebagai bantalannya. Wajahnya kini terlihat bersemangat kembali. Ia pun menyuruh Lucy untuk mengusap kepalanya dengan lembut. “Aku akan baik-baik saja jika bisa tidut selama 2 jam, jadi biarkan aku tidur seperti ini ya?” pintanya diiringi senyuman kecil.
Lucy hanya bisa mengangguk, “Terserah, jika itu bisa membantu Yang Mulai.” ucapnya yang hanya bisa menurut pasrah.
Tak berselang lama, Pria yang terlihat kelelahan itu kini tertidur di pangkuannya dengan pulas. Deru nafasnya tang hangat membuat Lucy merasa tenang seketika, ia baru sadar bahwa hati kecilnya berkata bahwa ia merindukan Pria petakilan yang aneh seperti ini. Tampaknya sudut bibir gadis itu terangkat menampilkan senyuman tulus.
“Selamat tidur, Rey.” ucapnya yang kini bernada lemas.
Aku sebaiknya tidak terlalu terpaku dengan kejadian yang ada di masa lalu, lagi pula mau bagaimanapun Yang Mulia tidak pernah menyukai wanita itu barang sedikit pun.
Aku tidak tahu.. perasaan bercampur aduk ini karena Lucy atau karena memang perasaanku sendiri.. perkatan Samantha benar-benar keterlaluan! Jadi sebelum ada jawaban yang bisa kupastikan kebenarannya, aku takan begitu mempercayai perkataanmu.
Prioritas Lucy saat ini ialah bertahan hidup sampai akhir, jadi ia sudah bertekad untuk menjalankan kehidupan saat ini seperti biasanya, juga melindungi orang-orang berharga yang mau membantunya. Untuk itu— setidaknya ada satu ucapan yang bisa ia percayai dari Samantha. Bahwa masa depan yang dia lihat, tidak mungkin sama dengan apa yang telah terjadi di masa lalu.
Apa ini menjadi jawaban dari masa depan yang aku lihat dari Sir Emillo dan Flona? Di novel, mereka bahkan tidak pernah mengobrol lebih dari satu kalimat, tapi berbeda dengan sekarang.. walaupun hanya sapaan kecil, tapi mereka sering berinteraksi.
Jadi perubahan yang Samantha katakan, salah satunya ada pada mereka berdua? Sebenarnya terkadang aku bisa melihat masa depan pada seseorang, tapi tidak bisa seperti Samantha yang bisa memimpikan masa depan dunia, bencana, atau peristiwa.
Ia merasa bahwa kekuatan yang Lucy miliki ialah ambigu, keterampilannya dalam sihir cukup banyak. Namun rasanya ada yang aneh dan ia sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang mengganjal isi hatinya. Seperti muncul gejolak sihir yang kuat namun ia sendiri tidak begitu tahu caranya untuk menggunakan dan mengendalikan sihirnya sendiri.
“Jadi Yang Mulia, sampai akhir Yang Mulia harus memihak saya ya..” titahnya diiringi raut wajah yang murung.
Jika dirinya memang ada kaitannya dengan Lucy yang asli, rasanya ia bisa saja untuk memaafkan Pria ini yang membiarkan dirinya mati seperti cerita sebelumnya. Karena ini merupakan kehidupan yang berbeda.
Tapi ia merasa bahwa dirinya tidak mungkin akan memaafkannya lagi jika hal mengerikan itu terjadi untuk kedua kalinya di kehidupan kali ini.