
Lucy sempat terpikirkan hal kecil, dari pada Pria itu selalu memakai barang yang sama.. sebaiknya ia menghadiahkan bros yang lain saja bekali-kali. Baginya kehormatan dan image Putra Mahkota merupakan hal yang lebih penting karena dia adalah figure yang akan menjadi Raja di masa depan nanti..
Tapi jika Yang Mulia sampai seperti itu.. saya juga tidak tahu harus bagaimana.
Sosok yang sederhana di depan rakyat memanglah citra yang teramat baik, namun tentunya berbeda ketika di depan para bangsawan. Reygan harus membuat auranya terlihat menekan dan berkesan menunjukkan eksistensinya sebagai Putra Mahkota.
“Yang Mulia memang terlihat cocok dengan bros ruby itu.” komentarnya yang merasa senang ketika Pria itu sampai mau mengenakan bros pemberiannya berkali-kali.
Sekilas Pria itu tertawa kemudian melipat kedua tangannya dengan rapih di depan dada bidangnya, sembari memalingkan wajahnya ke arah jendela, ia sedikit mengatakan sesuatu dengan nada bicaranya yang pelan. “Aku memang sangat menyukainya, karena dengan menggunakan ini.. aku juga selalu merasakan sosokmu yang berada di dekatku walaupun itu hanyalah ilusi semata.” ungkapnya yang terdengar sedikit malu-malu diiringi wajahnya yang sedikit bersemu merah.
Ahh.. “Terimakasih jika Yang Mulia menganggapnya demikian.” tutur gadis itu dengan ungkapan rasa tulusnya.
Bagaimanapun, selama ia tertidur dalam kurun waktu 3 bulan, itu merupakan hal yang membuat frustasi bagi seorang Reygan. Sepanjang hari, dari pagi hingga malam berganti sekalipun Pria itu tidak pernah tertidur dengan nyenyak akibat mengkhawatirkan tunangannya yang tak kunjung bangun hingga berbulan-bulan lamanya.
Disela dengkuran tipisnya yang tertidur dengan hening seperti mayat, sekalipun Pria itu tidak pernah melepaskan genggaman tangannya yang hangat ketika bersentuhan dengan kulit putihnya yang sedingin bongkahan es.
“Aku mohon... jangan tinggalkan aku lagi..” itulah kalimat yang terucap berkali-kali disela air matanya yang selalu ia bendung di pelupuk netranya yang menatap kekosongan.
Tapi...
Syukurlah.. ia teramat beryukur ketika mendapati tunangannya telah sehat dengan kondisi yang lebih baik dari pada sebelumnya. Bahkan saat ini perempuan itu terlihat berbicara dengan lembut di depan matanya.
Ini bukan mimpi, setidaknya aku mensyukuri kenyataan itu.
”Jadi... bagaimana pandanganmu setelah pergi keluar untuk yang pertama kalinya?” tanya Pria itu secara tiba-tiba.
“Ah.. ini biasa saja, karena kita pergi dengan jarak yang tidak begitu jauh. Sebentar lagi juga kita akan segera tiba di istana Ratu, tapi tidak begitu buruk. Pemandangan saljunya benar-benar menakjubkan.” bohongnya sembari menampilkan senyuman lebarnya seperti biasa.
“Itu benar.” tutur Pria itu yang mengiyakan ucapan Lucy dengan cepat.
Tidak begitu buruk, itu memang benar. Karena sepertinya aku akan mendengarkan hal yang menarik setelah sampai di istana Ratu. Aku juga memang dapat menikmati acara makan malam ini karena dirancang dengan tidak begitu formal, hal ini menjadikan alasan dirinya dengan berpakaian tidak begitu mewah karena bukan acara formal. Awalnya ia memang merasa malas sih, tetapi Ratu telah mengundangnya untuk menginap di istananya.
Tentunya aku juga tidak bisa menolak hal ini karena di cuaca yang dingin seperti ini membuatku terlalu beresiko jika kembali ke istanaku pada malam hari.
Mungkin saja Yang Mulia Raja juga tidak akan ikut serta karena beliau yang tidak sehat tidak mungkin akan meninggalkan istananya ditengah cuaca yang teranat dingin seperti ini.
Tapi tampaknya Lucy sedikit mengerti dan mulai menyadari dengan alasan tersembunyi sang Ratu ketika sampai memanggilnya begini ke istana.
Entah benar atau tidak, tebakanku ini pasti ada kaitannya dengan Kuil Suci kan? Karena sejak awal aku tidak begitu peduli untuk merapikan mantra pelindung pada cangkang batu suci yang mulai memudar.
Entahlah.. mari kita perhatikan dengan baik.
...***...
Lucy juga kini mengangkat gaunnya kemudian memberikan salam bangsawan sebagai bentuk formalitas sama seperti Reygan di sampingnya, “Senang bertemu dengan anda Yang Mulia Ratu, mohon maaf pada saat di acara perburuan kemarin saya tidak dapat menyapa Yang Mulia dengan benar.” tuturnya yang meminta untuk memaklumi tindakannya karena kondiai dan situasi yang tidak memungkinkan.
“Tidak masalah Lady Barayev. Kalau begitu mari ikuti saya, Yang Mulia Putra Mahkota juga. Terimakasih kepada kalian yang telah memenuhi undangan makan malam yang kecil-kecilan ini. Saya teramat senang melihatnya.” tutur wanita bernama Riana itu sembari memandunya pada ruang makan yang letaknya paling ujung di kediaman Ratu.
“Ah, ini tentu suatu kehormatan bagi kami.” timpal Reygan dengan alunan nadanya yang terdengar bersahabat.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di meja makan yang teramat panjang, walaupun begitu mereka tentunya duduk pada jarak yang berdekatan agar tidak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Kini hidangan pembuka pun hadir dibawakan para pelayan hingga tertata dengan rapi di atas meja makan, seperti undangannya yang merupakan makan malam biasa. Disini tidak begitu memiliki banyak aturan seperti acara formal pada umumnya, tentunya mereka juga dapat mengobrol dengan nyaman tanpa perlu merasa sungkan karena batasan etiket.
“Seperti kabar yang beredar, saya tidak begitu tahu dengan kejadian seperti apa yang terjadi di perburuan kemarin karena saya pulang duluan. Tapi saya sekarang benar-benar memercayai hal ini setelah melihat warna mata anda yang benar-benar berubah..” jujur Ratu Riana dengan kesungguhan hatinya yang terlihat begitu tulus.
Tapi pada akhirnya.. topik utama acara ini tentang itu kan?
Huft..
Ratu.. memang hanya menyaksikan sebagian dari sikap pertahananku kan? Yah tentunya dia banyak melewatkan hal yang dianggapnya menarik untuk dijadikan tontonan. Melihat masa lalu yang diceritakan Sir Emillo kepadaku, sepertinya ia memang terlihat perhatian kepada Lucy yang telah pingsan karena diracuni.
Tapi baginya itu tidak ada bedanya dengan sosok Ratu yang memang harus bersikap secara rasional, karena ya.. mempertahankan sosok Lucy dengan sosoknya sebagai penyihir termuda juga gelarnya yang merupakan seorang Putri bangsawan Count terdengar lebih cocok menjadi Ratu ketimbang Sheyra yang hanya seorang Putri Baron tanpa adanya bakat sihir. Terlebih saat itu Reygan terlihat tidak berkutik di depan Sheyra seperti dibutakan karena cinta, dan hal itu membuat sang Ratu cemas akan masa depan kerajaan ini yang akan menjadi seperti apa.
Itu bukan hal yang salah sih, jika aku juga seorang Ratu, aku juga tetap akan berpikir rasional seperti itu.
“Lagi pula itu bukan merupakan sesuatu yang harus Yang Mulia Ratu saksikan karena itu berbahaya. Saya hanya khawatir akan terjadi sesuatu kepada Yang Mulia jika tetap ada di tempat kejadian...” ucapnya bernada ceria sekaligus rasa kekhawatiran yang begitu dalam.
“Saya jadi tersanjung Lady.. walaupun begitu anda harus memperhatikan kondisi tubuh anda sendiri Lady. Lady benar-benar membuat seisi istana mengkhawatirkan Lady seorang..” tuturnya sembari memasang senyuman kecil di wajahnya.
Ah ini memang seperti obrolan para bangsawan seperti biasanya, benar-benar dipenuhi bualan dan basa-basi yang tipis. Sejujurnya berakting seperti ini membuatku lelah..
Reygan hanya terdiam sembari mengoleskan mentega pada potongan rotinya, ia hanya terlihat asik mendengar obrolan mereka yang terlihat akrab. Padahal pada dasarnya mereka hanya mengakrabkan diri karena untuk kedepannya mereka berdua juga akan segera menjadi keluarga yang sering berselisih muka di setiap harinya.
“Uhum. Ini memang terdengar lancang, tapi saya begitu penasaran dengan rumor yang beredar belakangan ini. Apa Lady tidak keberatan jika saya meminta Lady untuk menunjukan Tyson Rose itu disini?”pinta wanita itu dengan hati-hati. Sepertinya ia mengkhawatirkan kalimatnya yang takut menyinggung perasaan Lucy tanpa disengaja, terlebih ia juga baru saja memulihkan tubuhnya akhir-akhir ini.
“Yah, sa—saya sih tidak keberatan..” jawabnya yang kini dahi mungilnya dibanjiri keringat dingin.
Tyson Rose? Pedang sekaligus tongkat sihir yang itu? Ah ya.. dia kan memang belum sempat melihatnya..
Tentu! Aku tidak begitu mempermasalahkannya jika Ratu ingin melihat tongkat sihir itu.. tapi,
Aku benar-benar lupa bagaimana caranya mengeluarkan benda yang tiba-tiba muncul itu diujung kepalaku!!