
Ya menyesali semuanya merupakan hal yang sangat bodoh dan juga hal sia-sia bukan?Perselisihan mereka yang tidak pernah berakhir. Mau pada saat di kehidupan Lucy yang pertama kalinya berinkarnasi, ataupun kehiudpan selanjutnya dimana waktu telah diputar kembali, permusuhan mereka tidak pernah berakhir. Maupun rasa bencinya kepada Sheyra yang benar-benar telah mendarah daging.
Walaupun awalnya diirku membaca kisahnya lewat buku dan ikut membencinya dengan sosok ragaku yang bernama Raflesa.. tapi..
“Tragedi kecelakaan keret kuda itu memang benar terjadi.. semuanya bisa saja terjadi karena di tengah perjalanan Sheyra yang ingin menemui keluarganya.. Iris muncul untuk menyerang dan membunuh mereka.. tapi—” di samping isak tangisnya yang tidak dapat ia bendung, perempuan itu kini terlihat menyendat beberapa kalimat akhir di tenggorokanya.
Dengan perasaan yang teramat berat.. ia kini mau mengakui satu hal. Bahwa Sheyra telah meninggal tanpa tahu apa yang terjaid. Mau bagaimanapun.. awalnya ia merupakan seorang penyihir yang bersekolah di Akademi Sihir. Tanpa tahu apa yang salah darinya.. jiwanya telah mati dengan raganya yang telah direbut berkat keegoisan seseorang yang serakah.
Membunuh para penyihir bukanlah yang pertama kalinya bagi Iris.. lantas karena keegoisanku yang ingin mati.. dan juga tindakan ku yang tidak bisa membunuh seorang teman berhargaku..
Semuanya.. telah menjadi korban karena bentuk keserakahan ku yang tidak dapat mengambil keputusan dengan baik..
...***...
Sesuai arahan dan perintahnya, Sir Emillo kini telah meninggalkan satu surat untuk Samantha di sebuah toko antik yang kosong. Lucy bilang.. dia tidak perlu memanggil namanya, Pria itu hanya cukup mengantarkan suratnya dan segera pergi meninggalkan tempatnya saat itu juga.
Sesuai janji yang dibicarakan, untuk pembicaraan lebih lanjutnya.. Samantha meminta dirinya diundang secara terpisah untuk mengunjungi Lucy di Istana Cathalia, dan Lucy kini menepatinya dengan mengundang beliau ke Istana Putri Mahkota.
Walaupun semuanya akan lebih mudah jika aku berpergian menggunakan sihir teleportasi..
tapi untuk saat ini.. rasanya aku tidak ingin pergi keluar.
“Yah.. hari ini.. jam segini.. merupakan janji temu yang tertera pada surat itu. Jadi Flona.. kamu mempercayaiku kan? Dan aku melakukan sesuatu demi keselamatan ku juga keselamatan kalian yang... aku mohon, jangan berpikir yang tidak-tidak atas apa yang akan kulakun kedepannya. Kita teman sejak kecil kan?!” tanyanya yang entah kenapa kini berkesan seolah merengek.
Flona yang ditanyai kini tengah menyediakan sebilah camilan dan juga teh yang Lucy pesan sebelumnya, hatinya sedikit sakit mendengar semua perkataan itu. Walaupun Lucy berkata jujur akan menyiapkan sesuatu secara diam-diam. Tapi entah mengapa rasanya seperti ada sesuatu yang berbeda..
Sang Nona terlihat kehilangan kepercayaannya pada diri sendiri.. walaupun ia selalu hebat dengan segala pencapaiannya selama ini, ia tiba-tiba meringkuk dengan pemikiran dirinya yang telah lunglai dan gagal. Dari pada melihat Nonanya yang seperti itu..
“Lebih baik anda mengeluh saja kepada saya Nona, jadikan saya sandaran yang dapat mendengar seluruh keluh kesah, kesedihan dan kepiluan anda selama ini.. Nona tidak perlu khawatir. Anda adalah penyelamat hidup saya, dan saya akan selalu mendukung untuk apapun yang akan anda lakukan kedepannya. Tidak peduli anda adalah Morticia… dimata saya, Nona hanyalah Nona Lucy kecil yang rapuh..” imbuh gadis itu sembari memeluknya dengan hangat.
Sudah berapa banyak penderitaan yang Lucy miliki selama ini, dan itu cukup membuatnya menyesal karena pembantu seperti dirinya tidak bisa melakukan apa-apa. Sir Emillo yang mendengarnya dibalik dinding kamar juga merasa pilu.
Di samping itu semua, Lucy hanya bisa tersenyum hangat dan merasa bersyukur. Setidaknya mereka sangat tulus mencintainya. Ia hanya takut.. Iris akan menargetkab orang-orang yang sangat ia sayangi ini di kemudian hari.
Aku... aku sangat berterima kasih banyak kepada kalian.. kalian semua selalu mencoba mengatakan suatu hal yang selalu ingin ku dengar…
Tanpa kalian.. aku tidak bisa apa-apa..
Tapi sampai detik ini, aku masih belum bisa untuk menemuimu Yang Mulia..
Aku masih takut dengannya..
Bagaimanapun karena aku adalah orang yang sama, secara alami aku akan membencinya sekalipun ia selalu menjadi cinta pertama di hidupku..
Ini menyesakkan.. aku bingung harus melakukan apa..
“Terimakasih Flona.. saat ini aku membutuhkan bantuanmu. Nanti akan ada tamu yang datang ke kamarku, jadi tolong jaga sekitar ya.. jangan sampai ada pelayan lain yang berlalu-lalang di depan kamarku.“ pintanya yang menyisakan tanda tanya diwajahnya.
Deg..
“Eugh.. baik Nona tidak perlu khawatir. Saya permisi dulu.” pamitnya yang kini membangkitkan diri untuk segera pergi meninggalkan kamarnya.
Aku sebenarnya bisa melindungi kamarku dengan barrier sihir, walaupun begitu.. entah kenapa rasanya aku bisa berbicara dengan leluasa dan nyaman jika tidak ada seseorang yang mengawasiku di tempat ini.
Tak berselang lama, ia dengan gaun hijaunya kini mematung dihadapan jendela kamarnya yang menjulang tinggi. Hatinya kini menggerutu dengan kesal. Ia sedikit bertanya.. kapan musim dingin yang memuakan ini akan segera berakhir?
Tentunya tak ada jawaban yang ia terima sesuai keinginan hatinya.
Tak memerlukan waktu lama pun, tiba-tiba lingkaran sihir yang unik muncul di kamarnya hingga menampilkan wanita bersurai putih dengan iris matanya yang merah seperti permata ruby.
Oh.. tampaknya itu benar-benar penampakan yang tidak asing.
“Akhirnya anda mengundang saya juga ya. Saya sudah menantikannya sejak lama.” Timpalnya dengan lantunan nadanya yang terdengar rendah seperti biasanya.
“Ya.. anda datang seperti yang anda janjikan sebelumnya, Samantha.” timpalnya yang kini mendudukkan diri pada sofa.
Fufu, wanita penyihir itu terlihat tertawa lebar-lebar dihadapannya. Tak berselang lama ia pun mengikutinya untuk segera duduk dan berbincang membicarakan hal yang sudah pasti dengannya. Sebelum itu, tampaknya dengan senyuman miring ia menorehkan satu sapaan hangat untuknya.
“Halo, apa kabar Lady Barayev? Tunangan sang Putra Mahkota kerajaan ini, atau haruskah saya sebut Nona Lucia? Sang penyihir Abadi yang rumornya telah tersebar di sepenghujung Ibu Kota…?” sapanya dengan ramah, ia tampaknya cukup mandiri dengan menuangkah tehnya terlebih dahulu kepada cangkir Lucy yang masih kosong.
Ho~ ini sambutan ramah ya..
“𝐉𝐨𝐬𝐞𝐩𝐡𝐢𝐚 𝐀𝐥𝐝𝐫𝐢𝐜𝐡𝐲, atau haruskah kupanggil nama aslimu saja. Samantha Amilie? Sosok mata-mata yang pernah menyamar menjadi dayang ku pada ratusan tahun sebelumnya..” sindirnya dengan alunan nada yang terdengar begitu datar.
Deg..
“Bagaimana bisa?” tanyanya tak percaya ketika identitasnya dengan mudah diketahui manusia yang tengah duduk rapi di depannya ini.
Tidak..
Sekilas matanya melotot karena kaget, tapi kini ia hanya bisa tersenyum dan menampilkan tawaan renyah ke arahnya. “Pasti anda mengingat saya karena kebangkitan itu yaa? Saya senang sekali~ baiklah Lady, saya memang pernah menyamar menjadi sosok dayang demi memata-matai keluarga kerajaan. Maafkan saya, itu hanya masa lalu saya yang tidak penting.” celotehnya sembari memejamkan matanya dengan berat.
Walaupun begitu, Lucy nampak ingin mendengar seusatu yang lebih pasti darinya. Pada akhirnya diiringi helaan nafasnya yang berat, ia pun mulai menceritakan seperintil kisah masa lalunya kepada Lucy.
Sebenarnya, Samantha Amillie hanyalah seorang penyihir sesosok roh yang tinggal di dalam batu spirit. Ia sejenis penyihir yang serupa seperti Iris dan juga Lucia. Walaupun begitu peran dan takdir mereka berbeda..
𝐏𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐒𝐚𝐦𝐚𝐧𝐭𝐡𝐚 𝐝𝐢 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐢𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐬𝐨𝐬𝐨𝐤 𝐩𝐞𝐧𝐲𝐢𝐡𝐢𝐫 𝐡𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐭𝐮𝐫 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐦𝐚𝐬𝐚 𝐥𝐚𝐥𝐮, 𝐦𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 𝐦𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐞𝐩𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐚𝐛 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐚𝐩𝐚.
Tidak, halusnya, ia hanya bisa memantau takdir dan hanya bisa merubah beberapa perintilan takdir kecil yang akan terjaid di masa depan mendatang.
Samantha yang merupakan seorang Roh penyihir dapat melakukan kontrak kerja sama dengan manusia melewati ikatan janji pada batu spritinya yang berharga. Namun sayangnya, seseorang yang menjalani kontrak dengannya merupakan keluarga bajingan yang mengancam dan memanfaatkan dirinya untuk melakukan pekerjaan kotor yang menjijikkan.