Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 62 : Sebutan Aneh


Wajah Lucy sedikit mematung ketika Federica Halstead memanggil namanya dengan sebutan yang lain. Pikirnya aneh sekali, bagaimana bisa untuk seorang Putri Duke melupakan nama lengkap seseorang seperti Lucy begitu saja. Itu kan hal yang mustahil, tapi..


“Lucia de Lamorie Ticy— ah tidak! Putri, anda bercanda? Nama saya adalah Lucy Fleur Baray- yev?” ungkapnya yang kini diiringi tatapan bingung.


Ah tunggu—


Lucy kini hanya terlihat kebingungan ketika Sheyra menatap wajahna dengan tajam. Raut wakah Sheyra benar-benar menunjukkan betapa ia menaburkan kebenciannya ketika menatap matanya.


Lucia..


Lucy..


Sebelumnya Sheyra memanggil namaku dengan sebutan Lucia juga kan? Tunggu aku kira itu hanya kesalahan kecil karena kupikir nama kami mirip. Tapi— aku benar-benar Lucia? Memangnya dia siapa?!


“Apa itu? Ini sangat tidak masuk akal. Nyonya Theyril, saya akan kembalikan tongkat sihir ini kepada anda, dan—” kalimatnya kini terpotpng ketika mendapatkan dorongan penolakan dari Sylvhia.


Usai mendorong Tyson Rose itu, ia hanya tersenyum kecil ketika menatap wajahnya. “Tongkat Tyson Rose hanyalah milik Nona Lucia seseorang. Blue Rose juga merupakan kesukaan anda dan menjadi ciri khas bahwa anda adalah penyihir abadi kami.” ungkapnya yangdiberi gelengan tak percaya oleh Lucy.


Lucia dan penyihir abadi, dia kan Morticia.. itu benar-benar tidak ada sangkut pautnya. Situasi canggung macam apa ini?!


“Kalian.. berhenti mempermainkan aku— lalu yang terpenting, sebaiknya integorasi Sheyra atas kejadian in— loh? Perempuan itu saat ini ada dimana?” tanyanya diiringi tatapan kebingungan.


Usai di tatap dengan saksama kesana kemari, rambut merah itu tidak terlihat sama sekali. Hanya saja setelahnya beberapa gadis heboh dan memundurkan langkahnya ketika mendapati Sheyra tang terkapar ak sadrkan diri di atas tanah berumput. Gaun birunya yang memang kini kelihatan usang kini sedikit terbuka menampilkan beberapa lekuk tubuhnya yang dipenuhi cakar yang meninggalkan bekas di tubuhnya.


A— apa?! Kau mau melarikan diri dengan cara seperti ini?! Ah bodoh.


“Anu— sepertinya karena banyak luka dan memar di tubuhnya. Dia tak sadarkan diri, kami juga lupa untuk memberinya pertolongan pertama.. bagaimana ini.” panik salah satu Lady yang kini mencoba mengecek denyut nadi di pergelangan tangan Sheyra. Namun gadis itu sedikit bersyukur ketika ternyata Sheyra masih hidup.


Jadi begitu, ini adalah situasi yang membingungkan.


Dengan berat hati ia melangkah mendekatinya untuk menyentuh pergelangan tangan Sheyra menggunakan kekuatan sihirnya. “Denyut nadinya lemah.” tukasnya yang sukses membuat semua orang terkejut. Mau Sheyra di kucilkan seperti apapun juga tampaknya mereka takut bahwa posisinya akan terancam karena dibelakang Lucy, mereka mengganggu Sheyra diam-diam.


Ternyata karena posisinya tidak disukai oleh tunangan Putra Mahkota yang memiliki hubungan harmonis itu, mereka memang benar-benar menggangu Sheyra mengikuti dalih mengkhawatirkan Lucy.


Aku benar-benar tidak menyangka dengan situasi yang akan seperti ini, enah kenapa aku tidak suka mendengarnya. Tapi.. mengapa raganya benar-benar sperti hancur lebir begini. Ternyata Sheyra benar-benar pingsan.. ku pikir ini trik murahan lainnya untuk menipu mataku. Atau cara terbaiknya untuk menghindari interogasi seperti di tahun yang lalu. Tapi..


Mungkin ini bayaran yang pantas untuk mu yang telah mengacaukan acara berburu sesuka hati.


Tanggannya kini terangkat untuk meminta sesuatu kepada salah satu Lady. ”Tolong ambilkan kain, tidak baik jika para Pria kembali dan melihat tubuh seorang Lady seperti ini, lalu—” tuturnya yang diberi anggukan kecil oleh Rebecca.


Gadis itu kini bergegeas untuk mencari kain besar yang dapat melindungi tubuh Sheyra dengan baik, walaupun ia dibantu beberapa ksatria karena telah memasuki tenda yang telah rubuh berkat hempasan angin ang di ciptakan oleh Calrhintis sebelumnya.


“Aku bisa memberinya sedikit sihir penyembuhan dari kekuatanku yang tersisa, setidaknya ia bisa bertahan hingga bantuan dan dokter tiba nanti.” lanjutnya diiringi kelopak mata yang terpejam. Telapk tangan Sheyra yang pucat seperti mayat hidup itu kini digenggam erat olehnya.


Berbeda jika dilakukan kepada tubuhnya sendiri karena itu memiliki batas maksimalnya. Awalnya wajah Sheyra yang terlihat geliah dipenugi kerinat dingin karena demam panas kini menunjukkan rait wajahnya lebih baik lagi. Sepertinya ia saat ini dapat tertidur dengan lebih tenang.


Jika diperhatikan, ujung bibirnya dan gaunnya juga dipenuhi bercak darah. Sepertinya ini adalah tebusan yang kamu terima ya.. tapi kamu takan mati Sheyra. Karena aku bukan mengalirkan sihir pemurnian, melainkan ini adalah sihir penyembuh yang dapat membuat dirimu lebih baik.


Oh benar.. tentu aku takan membiarkanmu mati semudah ini atas segala yang telah kamu lakukan ke padaku loh!


Hanya saja raut wajah Lucy kini terlihat sedikit murung, “Tubuh yang lemah seperti ini.. bagaimana bisa ia hidup selama ini? Dia seperti boneka tanpa jiwa.” gumamnya dengan menahan segala perkataannya di bibir.


Lihatlah, semua orang kini menatapku dengan tatapan berbinar seolah aku adalah penyelamat hidup mereka. Mereka bertingkah seolah lupa dengan semua tuduhan dan perilaku tak tahu diri yang mereka tunjukkan kepadaku ya.


Dalam hati gadis itu mengumpat kesal, namun bagaimanapun itu semua memang seorang tabiat bangsawan sejati yang pols pikirnya takan bisa diubah.


“Tapi.. kenapa rasanya aku melihat kunang-kunang yang berputar dikepalaku ya..” tuturnya yang mulai limbung.


Sepertinya ini merupakan batas wajar terakhirnya yang terlalu memaksakan diri. Ah ini tidak baik untuknya, jika terus seperti ini ia bisa tak sadarkan diri.


“Yang Mulia! Anda tidak perlu memaksakan diri!” teriak Sylvhia yang kini menarik pergelangan tangan Lucy untuk segera menjauh dari Sheyra.


Ugh.. rasanya kesadaranku kini kembali.. loh.. genggaman tangannya sedingin es. Rupanya Nyonya membagikan kekuatan sihirmu kepadaku ya..


Sylvhia, anda sepertinya memang teman yang baik untuk seorang Lucy ya..


Wajahnya kini menampilkan senyuman tulus ketika menatap matanya, “Saya sangat berterimakasih atas bantuan Nyonya.” tuturnya yang kini mencoba membangkitkan diri walaupun ia terlihat sempoyongan berkat pandangannya yang terlihat memburam.


“Lalu tuan ksatria.. tolong bantu baringkan Nona Sheyra ketempat yang lebih layak.” pintanya diiringi suara yang mulai melemah.


“Ah— tapi saya tidak begitu berkontribusi banyak, padahal Tuan Putri juga sangat membantu di situasi seperti ini!” gumamnya dengan perasaan yang gugup.


Dia kenapa? Padahal ini situasi yang menguntungkan untuk mu agar lepas dari pengucilan orang-orang loh.. Ah apa dia takut jika posisinya akan lebih unggul dari pada seorang Putri Duke?


Uhm..


“Tentu, Yang Mulia Putri, Gracia, Rebecca juga kalian semua (bohong) sangat membantu saya dengan baik. Saya benar-benar berterimakasih atas bantuan kalian semua.” imbuhnya diiringi alunan nada yang terdengar lembut.


Tak lama kemudian Lucy kini menolah kearah Sylvhia, “Lalu Nyonya Theyril, terimakasih selama saya beada di pertempuran kecil ini, saya tahu bahwa anda tiada hentinya membantu saya dengan menjerat para Calrhintis menggunakan akar pohon, serta membagikan kekuatan sihir milik Nyonya kepada saya sehingga saya dapat bertahan dengan baik.” ucapnya sembari menarik gaunnya untuk memberikan salam terimakasih secara formal.


Hingga pada akhirnya mereka bertepuk tangan untuk mengapresiasi keberhasilan mereka yang berkontribusi dalam pelumpuhan Calrhintis dengan sekuat tenaga.