Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 27 : Pertikaian


Hall utama tampak ricuh akan bisik-bisikan para tamu undangan yang tertuju kepadanya. Gadis bernetra emerald itu tampak menampilkan senyuman cerah sembari menarik gaunnya dan menyapa Putra Mahkota yang merupakan tamu spesial untuknya disana.


“Selamat datang Yang Mulia.” tuturnya benar-benar anggun. Netranya berkedip dengan perlahan sembari menatapnya sayu.


“Ini merupakan sebuah kehormatan untuk saya, terimakasih telah meluangkan waktu anda yang sibuk untuk menghadiri pesta kedewasaan saya yang kumuh ini.” tuturnya dengan nada suara yang seakan menghipnotis mereka, suara merdunya benar-benar terasa menenangkan hati dan pikiran.


Sedangkan sang Kakak hanya ikut menyapa di sebelahnya berniat untuk mendampingi sang adik.


Lucy hanya menatapnya dengan tajam, kumuh katanya? Lalu apa maksudnya ini, kenapa perempuan itu hanya menyapa Yang Mulia dan mengabaikan dirinya yang berada disampingnya?


“Tidak masalah.” Pria itu nampak membalasnya dengan raut wajah yang biasa saja. Tak lama kemudian mereka berbincang ringan dengan hanya sebatas basa-basi formal.


Hingga sebuah ide muncul di benakknya, ia memasang raut wajah menyedihkan ketika berdiri di samping Putra Mahkota, kepalanya tertunduk seolah-olah sedih dengan perasaannya yang diabaikan. Semua mata yang tertuju kepadanya mulai bergosip sesuka hati mereka.


“Lihat, bisa-bisanya mereka menganggap Lady Barayev tidak ada disana.”


“Benar, bagaimana bisa Nona Sheyra hanya menyapa Putra Mahkota saja.”


“Bukannya rumor tentang Yang Mulia yang mengabaikan Nona Lucy itu benar?”


“Entah, katanya ada skandal juga tentang hubungan Yang Mulia dan Nona Sheyra.”


“Lady Yang malang.”


“Hahaha.”


Tempat itu semakin ricuh diiringi desas-desus bangsawan, matanya membulat hebat ketika para bangsawan sialan itu malah mengasihani dirinya. Memangnya kalian itu siapa? Tanyanya yang tertanam di benaknya. Tapi ini lebih baik dari pada dirinya di cap sebagai penyiksa yang tidak terima karena kekasihya direbut.


Kini ia merasa kebingungan sembari menatap dua manusia itu. Kenapa mereka ini malah benar-benar asik mengobrol? Padahahl adegan ini saja belum di kisahkan di dalam novel, lantas kenapa dengan mereka berdua ini? Seolah bisikan para bangsawan itu tidak sampai ke telinga mereka berdua.


‘Sheyra? Apa dia benar-benar tidak memperdulikan reputasinya yang semakin buruk itu? Yang Mulia? Bukankah basa-basi formal itu secukupnya saja ya?!’


Tak ada habisnya Lucy untuk menggerutui mereka di dalam hati, ia merasa harus segera mengambil tindakan, jika tidak maka kedatangannya hari ini akan sia-sia begitu saja.


“Rey?” panggilnya yang benar-benar tidak dihiraukan olehnya.


Kini dengan cekatan Lucy menggenggam pergelangan tangan Reygan dan memanggil namanya dengan lantang. “Rey!” panggilnya lagi yang entag kenapa saat ini terlihat benar-benar kesal.


“Anda melupakan saya? Saya masih di samping Yang Mulia lho~” tuturnya dengan raut wajah murung.


Deg..


Reaksi pria itu cukup aneh, pandangannya kini sedikit kosong dengan tubuhnya yang mematung sejenak, sedetik kemudian ia menatap matanya dengan wajah yang kelihatan lebih segar dari sebelumnya.


Anehnya ketika jari Lucy bersentuhan dengan punggung tangannya, tubuh Reygan nampak tersentak seperti orang yang habis tersengat lebah.


“Lucy…. Maaf saya lupa dengan Lucy, padahal Lucy sangat bersinar seperti ini.” tuturnya sembari mencium punggung tangannya.


“Eh?” Agak menakjubkan untuknya, tapi kini ia bisa merasakan perubahan gelagat Rean dengan mata kepalanya sendiri.


Bukankah ini sedikit dejavu dengan mimpi? Lagi-lagi dirinya melihat bola mata itu, ia berpikir keras, apa hanya dirinya yang dapat melihat kejanggalan ini?


Saat ini, iris ruby itu tampak di penuhi kabut yang telah memudar ketika kulit mereka bersentuhan. Anehnya perubahan warna mata itu selalu dibarengi dengan sikapnya yang berubah-ubah.


Sebenarnya siapa perempuan itu? Apa yang sudah ia lakukan padanya? Kenapa Reygan terlihat seperti itu hanya ketila perempuan itu ada bersamanya?


“Eng— Yang Mulia saat dan—” ujarannya kini terpotong Lucy dengan tegas.


“Nona Sheyra, bukankah ini terlalu lama? Sebagai etiket sopan santun yang baik, anda harus berkeliling dan menyapa seluruh tamu undangan, bukan?” tanya Lucy diiringi senyuman cerah bagai malaikat. Lucy tampak begitu tenang ketika menyikapi sikap Sheyra yang dirasa tidak sopan.


“Maafkan saya Nona~ Ini karna saya terlalu senang bisa berbicang dengan Yang Mulia, hihi,” tuturnya dengan jemari tangan yang menyentuh pipinya seolah ia tengah merasa malu-malu.


‘Kau serius mau terang-terangan begini?’ Lucy berdecih di dalam hatinya. Ia merasa jijik dengan tingkah laku Sheyra.


“Aduh~ saya jadi sedih, padahal saya sudah berusaha datang ke pesta Nona, tapi Nona malah tidak menyambut kedatangan saya.” ungkapnya dengan tatapan sendu.


Perkataan Lucy sukses membuat kedua alis Sheyra berkerut, sudut bibirnya nampak terangkat untuk menampilkan senyuman miring. Sepertinya kali ini Sheyra berpikir akan mempermalukan Lucy di depan semua orang.


“Saya tidak mungkin menyambut tamu yang datang tanpa surat undangan, xixi.” Selorohnya dengan tatapan merendahkan.


Deg.


Tiba-tiba suasananya berubah menjadi sunyi, apa ini? mendengar penuturan Sheyra, wajah Dominique berubah menjadi pucat pasi. Ia tampak berbisik-bisik kepada Sheyra, “Apa yang kau lakukan bodoh?!” bisiknya yang entah kenapa masih kedengaran.


“Maksudnya Lady Barayev datang tanpa surat undangan?”


“Sepertinya begitu, tapi ia kan partner Putra Mahkota, bukannya itu tidak masalah?”


“Tapi bukannya memalukan ya? Datang ke pesta tanpa surat undangan.”


“Tetap saja, Nona Sheyra sangat tidak sopan, masa beliau hanya mengundang Yang Mulia sedangkan kekasihnya tidak diundang? Dia hanya cari perhatian saja kan?”


“Tadi juga dia mengabaikan Lady Barayev padahal dia ada tepat di depannya.”


Bisikan semakin terdengar ditelinga mereka, walaupun ini hanyalah masalah sepele, akan tetapi sukses menimbulkan pro dan kontra di antara mereka. Setidaknya dengan hal ini, Lucy dapat mengetahui dengan siapa saja yang berada di pihaknya.


Sedangkan tokoh yang menjadi perbincangan ini hanya terdiam dengan suara hatinya yang berteriak puas.


“Saya memang tidak mendapatkan surat undangan. Tapi saya dengar dari Yang Mulia bahwa anda meminta beliau untuk menjadi pasangan anda ya, Apa ini benar?” tanyanya dengan penuh tekanan. Auranya yang seperti antagonis tiba-tiba terpancar dari tubuhnya, tatapannya yang mencekam cukup membuat seseorang untuk tidak berkutik di hadapannya.


Dominique hanya menepuk kepalanya ketika mendengar perbuatan adiknya yang terbilang sembrono ini.


‘Begini kan yang kamu inginkan? Lucy yang tajam seperti pedang? Lucy yang bertingkah seperti antagonis? Sayangnya kamu tidak akan melihat tokoh wanita jahat yang bersikap serampangan seperti imajinasi bodohmu itu, karna aku bukanlah Lucy.’ tuturnya dengan tatapan puas.


‘Hey, tokoh Protagonis gadungan. Mau kuajarkan bagaimana caranya untuk menjadi sesosok antagonis yang sebenarnya?’ tanyanya di dalam benak.


Menjadi antagonis yaitu bersikap tenang dengan tali kendali yang ada di genggamannya. Terlihat rapuh dan terluka, padahal semuanya bisa di kendalikan tanpa harus mengotori tangan sendiri.


‘Bukannya malah bersikap menyerang secara terang-terangan seperti orang bodoh begini. Cara mu terlalu klise, Sheyra.’ serunya, tak ada henti-hentinya Lucy untuk menghujani gadis itu dengan ejekan dan makian didalam hatinya.


Keadaan semakin berbalik menyalahkan dirinya, wajahnya mulai terlihat panik, dengan segera ia mengeluarkan jurus andalannya. “Nona Lucy, sejujurnya saya takut untuk mengundang anda, karna sebelumnya Nona mengguyurkan wine dikepala saya.” ungkapnya diiringi tetesan air mata. Setelahnya ia mengusap air matanya dan bersikap sebagaimana seorang korban.


“Tapi Nona sampai mau datang seperti ini, bahkan tanpa diundang sekalipun, saya benar-benar terharu. Jika seperti ini, saya akan memaafkan Nona tanpa mempermasalahkan hal itu lagi,” lanjutnya dengan tawaan ramah. Tidak, sudut bibirnya menampakan senyuman sinis.


‘Ha~ dia mengungkit-ungkit masalah itu ya? Yang ada citramu semakin memburuk Sheyra. Benar-benar deh pemikiran yang dangkal.’ Netra coklatnya kini menatap.


Sedangkan Sheyra nampak tertawa kecil seolah dirinya merasa telah memutar balikkan keadaan.


Reygan yang ingin ikut campur mengurungkan niatnya ketika Lucy menggenggam erat jemarinya seolah melarangnya untuk melakukan sesuatu.


“Ah~ karna itu ya. Itu sih karna Nona tidak sopan kepada saya~ saat itukan pesta kedewasaan saya, semuanya datang dan bersyukur atas kesembuhan saya. Tapi—” ia nampak menghentikan ucapannya. Kini raut wajahnya berubah menjadi murung seolah ia merasa terluka dan kecewa atas tindakan Sheyra kepadanya.


“Bisa-bisanya Nona belarian kesana kemari untuk menyapa para tamu undangan dengan gaun putih, bahkan sebelum saya menampakkan diri disana?” tanyanya yang mempertanyakan apa maksud dari perbuatannya, sikapnya saat itu memang terbilang tidak tahu malu.


“Itu kan seperti Nona yang ingin menjadi bintang utama di acara yang di gelar untuk saya. Padahal itu pesta kedewasaan saya loh, tapi Nona malah merusak suasana.” tukasnya dengan tatapan tajam. Kali ini yang tersenyum puas ialah dirinya. Sedangkan gadis itu hanya terbata-bata merasa kewalahan untuk menyikapi sikapnya.


“Ugh! Saat itu saya hanya—”


“Cukup Nona Sheyra, berhenti bertingkah tidak sopan kepada tunangan saya.” Reygan yang merasa tidak tahan lagi kini mencelanya dengan tajam.


Sorot matanya benar-benar menyiratkan rasa kebencian padanya. Genggaman erat tangannya juga saat ini masih saja bertaut, seolah ia tidak ingin melepaskannya.


“Tunangan katanya?”


“Bukankah desas-desus bilang bahwa Putra Mahkota bersikeras tidak mengakui pertunanan mereka?”


“Entah, kemarin juga saya melihat beliau berkencan di ibu kota.”


“Nona Sheyra tampak mengagung-agungkan hubungannya dengan beliau yang bahkan belum pasti ya?”


“Wanita itu memang terlalu percaya diri. Lagian dia bukan penyihir seperti Nona Barayev. Mana mungkin bisa naik kasta jadi ratu karena dalih cinta.”


“Fft...”


“Hahahah!”


Bisikan itu semakin membeludak memenuhi kepala Sheyra, opini tentangnya memang bukan main-main. Alasan para bangsawan itu hadir ke pestanya juga memang hanya karena untuk menonton pertikaian seperti ini. Makanya gadis itu membulatkan tekadnya untuk menghadiri acara ini walaupun sebenarnya ia malas, karna yang ia ketahui, dimana Sheyra dan Lucy bertatap muka. Sebuah pertikaian pasti akan terjadi diantara mereka.


Baron Chevelle nampak menggertak keras ketika memperhatikan Putrinya yang bersikap memalukan itu, ia yang sebelumnya juga tengah berbincang dengan bangsawan lain tampak memalingkan wajahnya kemudian pergi meninggalkan aula.


“Padahal kalau aku jadi Putri Mahkota, kalian semua takan berkutik di depanku.” gumam gadis itu pelan-pelan. Tangannya mengepal keras pertanda bahwa dirinya sedang marah.


Lagi pula jika dipikirkan, image Lucy saat ini benar-benar seolah memaklumi Sheyra bahkan tidak ada kepikiran buruk untuk membalas dendam kepadanya.


Jika Lucy memang sejahat itu, mungkin saat ini ia akan datang menghadiri pestanya dengan memakai gaun putih yang bersinar dan merebut seluruh perhatian tamu undangan kepadanya.


Namun kenyataannya, ia malah datang mengenakan gaun indah berwarna safir seolah menunjukkan eksitensinya yang seorang keluarga kerajaan.


Jika dibandingkan, Nona Lucy sangat bersikap dewasa ya? Pikir para bangsawan disana.


Lalu jika di perhatikan kembali, bukankah yang kurang ajar itu memang Sheyra itu sendiri?


‘Matamu yang menatapku dengan kebencian itu tidak mudah di sembunyikan loh~ apa kau kesal karna rencana menjatuhkan ku tidak sesuai dengan ekspektasimu?’ ricaunya dalam hati.


Wajah Lucy tampak berbinar-binar bahagia yang saat ini malah di salah pahami bahwa dirinya tentag tersenyum dengan ramah.


“Anu— Yang Muli—”


“Sudahlah! Yang Mulia Putra Mahkota, Lady Barayev. Mohon maaf atas ketidak sopanan adik saya, dia hanya wanita polos yang baru saja menginjak usia dewasa.” tutur Dominique sembari membungkukkan badannya. Tidak apa, hal ini memang lumrah dilakukan bangsawan kepada yang statusnya lebih tinggi.


“Enyahlah.” Reygan hanya membalasnya dengan sepatah kata, namun auranya yang tajam benar-benar mengintimidasi dirinya. Dengan segera ia menarik pergelangan Sheyra dan membawanya pergi dengan dalih untuk menyapa tamu undangan yang lain.


‘Mau Lucy atau Putra Mahkota, mereka memang pasangan yang mengerikan.’ batin Dominique sembari meneguk ludahnya.


Reygan tampak bernafas lega, kini ia menatap Lucy dengan lekat, tak lama kemudian ia mencium keningnya dengan lembut. “Maaf ya,” tuturnya tiba-tiba.


“Maaf?” Gadis dengan surai blonde itu hanya menatap dengan wajah tanda tanya, lebih tepatnya ia meminta maaf untuk perihal apa?


“Apapun yang terjadi, ketika saya di dekat perempuan itu. Lucy hanya perlu menggenggam tangan saya.”