
Kedatangan Federica Halstead yang mendekati Lucy cukup menarik perhatian para bangsawan.
Federica merupakan Kandidat terkuat yang cocok menjadi Ratu di kerajaan Garfield, hanya saja cukup disayangkan bahwa dirinya yang sempurna akan kekuasaan itu tidaklah memiliki kekuatan sihir seperti Lucy. Jadi ia dikeluarkan dari kandidat calon Ratu begitu saja. Lucy nampak tersenyum miris, baru kali ini ia mendengar bahwa kekuasaan tidak bisa menjamin adanya pernikahan politik?
Akan tetapi, ‘Pada akhir Novel, Sheyra dan Yang Mulia tetap menikah kan? Lantas apa cabe merah itu punya kekuatan sihir? Tidakkan?! Lucu sekali, apa kekuatan cinta dapat mengubah peraturan dan aturan sejarah yang sudah ditetapkan sejak lama? Karna dari setiap keturunan kerajaan, untuk menikahkan Raja dengan seorang penyihir wanita.’ Lucy nampak berpikiran keras memikirkan masalah mereka yang sepertinya tidak akan pernah ada habis-habisnya.
Tapi kepala kecilnya nampak memikirkan satu hal, ada perihal apa dengan Lady dari keluarga terpandang itu datang menghampirinya?
Tampaknya sedari tadi juga perempuan itu hanya menikmati dan mperhatikan situasi ini dari jarak jauh.
Pada akhirnya Lucy membangkitkan dirinya kemudian berbisik dengan kipas renda birunya yang menutupi wajah, “Sepertinya tidak perlu tuan Putri.Yang Mulia juga tidak menolak ajakan perempuan itu karena merasa kasihan kepadanya. Anggap saja kejadian tadi demi menutupi reputasi Sheyra yang semakin rusak.” bisiknya dengan nada yang bermaksud merendahkan Sheyra.
Netra Violetnya tampak bergetar ketika mendengar penuturan kata demi kata darinya, ucapan Lucy benar-benar begitu mengejutkan untuknya.“Wah~ Lady ternyata orang yang asik ya!” celotehnya dengan wajah ceria.
“?!!” Wajah Lucy nampak terkejut dengan respon Putri Halstead, ini agak canggung menurutnya.
“Pokoknya Lady hari ini kelihatan lebih bersinar dari pada tokoh utama pesta!” serunya sembari menggenggam kedua tangan Lucy.
“Untuk itu saya setuju!” seru Silvhia tiba-tiba yang ikut menimpali. Keduanya kini menatap wajah Silvhia.
“Ah Nyonya Theiryl, saya lupa untuk menyapa anda karena Lady Barayev terlihat begitu bersinar. Senang bertemu dengan Nyonya, kudengar saat ini Nyonya tengah mengandung 2 bulan ya?” sapanya yang beralih kearah Silvhia.
“Tenyata tuan Putri sudah mendengarnya, itu benar, karna demi menjaga kesehatan bayi saya, selama dua bulan ini saya jarang mengikuti pesta, saya juga minta maaf untuk tidak mengikuti perkumpulan pesta minum teh akhir-akhir ini.” jawab gadis itu sembari tersenyum malu-malu dengan tangan yang teralih untuk mengusap perut kecilnya.
“Tidak masalah Nyonya Theyril, kesehatan andalah yang paling utama,” jawabnya dengan ramah.
‘Ini diluar dugaan ternyata teman Lucy tengah hamil muda? Betapa menyenagkannya ini jika Lucy yang asli mendengar kabarnya.’ ujarnya yang benar-benar takjub.
“Selamat atas kehamilann anda Nyonya muda, tuan Putri dan Nyonya Theyril juga tampak menawan hari ini.” balas Lucy dengan senyuman tipis.
“Saya pikir Lady agak sulit untuk didekati.” tutur nya dengan ramah, sekilas ia nampak terlihat kecewa karena Lucy agak sulit diajak bertegur sapa jika bukan perihal penting. Tapi disaat yang bersamaan juga netra Violet itu terlihat tajam ketika memandangnya.
‘Tapi benar sih, aku memang malas mengikuti perkumpulan nona bangsawan dan lebih memilih berpoya-poya sendirian.’ pikirnya yang merasa perkatan Putri Halstead tidaklah salah.
“Saya dengar kakak Putri telah mendapatkan gelar ksatria sword master ya? Wah selamat ya~” ucapnya yang mengalihkan pembicaraan, dengan sigap alis perempuan itu sedikit mengerut.
“Benar Lady, terimakasih,” jawabnya yang benar-benar terdengar akrab.
Terpampang dari kejauhan, mereka bertiga begitu nyaman untuk membicarakan sesuatu yang ringan. Para bangsawan berpikir bahwa mereka berdua akan merekrut Lucy untuk masuk ke perkumpulan bangsawan kelas atas.
Lucy memang selalu menjadi bahan perbincangan diantara mereka, namun ia bukan merupakan bagian dari mereka. Jika diperhatikan kembali, Putri Halstead yang merupakan ketua perkumpulan itu sampai menghampiri Lucy seperti ini, bukankah kemungkinan besar itu akan terjadi?
Tentunya perkiraan mereka tidaklah salah. Karna Putrri Halstead tampaknya menghampiri Lucy dengan niat seperti itu.
“Anu— Tuan Putri—” Silvhia sepertinya ingin menampaikan sesuatu, namun perempuan itu terlihat ragu-ragu.
“Ya Nyonya Theiryl?” alih gadis itu kearahnya.
“Bagaimana jika kita mengajak Nona Lucy ke perkumpulan kita, kebetulan akhir pekan ini kita akan mengadakan pesta minum teh di kediaman saya kan.” pintanya secara tiba-tiba.
Walaupun ia agak terkucil, rumornya tentang tuan Putri beredar bahwa ia merangkul Marchionest muda itu dan berteman akrab dengannya tanpa memandang status masalalunya.
‘Jika melihat hubungan mereka yang cukup baik, berarti itu benar. Apa dia menghampiri saya karna Silvhia juga sedang bersama saya?’ batinnya yang tiba-tiba kepikiran.
“Itu ide bagus, bagaimana jika Nona mau menerima undangan kami di akhir pekan nanti?” tanyanya tiba-tiba, wajahnya— tidak! Wajah mereka sepertinya terlihat penuh harap untuk mendengar jawaban baik darinya.
‘Apa kalian berdua bersengkongkol merencanakan ini untukku ?! Silvhia sih tidak apa-apa, karena saya diberikan ingatan tentangnya secara tiba-tiba. Kalau tuan Putri ini agak— Lucy juga tampak tidak memberi respon ketika saya berada di dekatnya. Ini menandakan bahwa mau di kehidupan novel ataupun saat ini mereka tidak memiliki hubungan apapun dengan Lucy.’ asumsinya tiba-tiba.
Tapi menurutnya, tidak ada salahnya untuk Lucy menerima ajakan tersebut. Hanya saja, sepertinya agak sulit untuknya berpergian ketika dirinya sendiri juga tengah di kurung di istana Putri Mahkota. Tapi tawaran ini tidak boleh ditolak begitu saja, ia hanya perlu memikirkan beberapa alasan untuk dibicarakan kepada Reygan nanti.
Wajah tirusnya kini mendongak menatap mereka berdua setelah mempertimbangkan ajakan mereka, Lucy pun menjawab, “Dengan senang hati!” diiringi senyuman lebar yang merekah.
Lucy tahu bahwa Putri Federica Halstead tidaklah sepolos itu, tatapan matanya yang cukup tajam memang agak mencurigakan. Ia hanya berpikir sepertinya perempuan itu mendekatinya tidak begitu tulus seperti Silvhia, hanya saja pasti ada udang dibalik batu. Yang ia rasakan terhadapnya bahwa Putri Duke itu ingin memuat koneksi kepadanya yang merupakan tunangan Putra Mahkota.
Lagi Pula, bukankah tidak masalah untuk mengikuti aliansi bangsawan seperti ini? Lucy juga tidak begitu memiliki banyak teman dan kekuatan dibelakang punggungnya selain gelar penyihir terbaik diusianya yang cukup muda, satu hal terpikirkan di benaknya, bagaimana jika ia berteman baik saja dengannya?
Karna setidaknya, ‘Saya membutuhkan kekuatan dan koneksi untuk melawan dan menekan Sheyra.’ pikirnya yang benar-benar jauh.
Jika pernikahannya akan digelar dengan Putra Mahkota, setidaknya dia membutuhkan kekuatan untuk melindunginya dari tuduhan penyihir gelap itu. Intinya selain melindungi dirinya dari ancaman itu, ia juga bisa menautkan keuntungan politik diantara mereka.
Sir Emillo yang berpakaian rapih itu menghampiri Lucy dengan wajah yang tegas tapi juga terlihat ramah. Pria dengan surai putihnya itu juga sebenarnya mendapatkan undangan pesta ini dari Sheyra, karna bagaimanapun desas-desus doalnya yang anak haram, ia tetaplah Putra Duke yang berjasa besar di medan perang.
Note : Sebenarnya ia tidak ingin menghadiri pesta yang di gelar oleh Sheyra, namun ia datang karena ingin mengawal Putra Mahkota kesana. Begitu pula Putra Mahkota merasa untuk tidak berkepentingan dalam menghadiri pesta kecil ini, akan tetapi Lucy seperti menginginkannya, pada akhirnya ia menawarkan diri untuk menjadi pasangannya.
Walaupun pada akhirnya mereka tidak berdansa
‘( ͠° ͟ ͜ʖ ͡ ͠°)’
“Ada apa sir?” tanyanya kebingungan.
Diiringi senyuman yang ramah, ia mengajak Lucy untuk berdansa dengannya. Matanya nampak membulat terkejut, situasi saat ini saja sudah keruh dengan Putra Mahkota yang berdansa dengan Sheyra di depan semua bangsawan.
Tapi tatapan matanya terlihat meminta untuk tidak menolak permintaannya, ‘Benar juga, saya harus membalas perbuatan Reygan yang menyebalkan itu. Apa dia akan cemburu jika saya berdansa dengan tuan ksatria yang di titipkan anda untuk melindungi saya?’ tanyanya benar penasaran.
Pada akhirnya Lucy menerima uluran tangannya dan mereka berjalan ke tengah ballroom untuk mengikuti dansa, dimana para bangsawan juga tengah berdansa disana. Sebelumnya ia tampak berpamitan terlebih dahulu kepada Nyonya Theyril dan Putri Haidsteal yang tengah berbincang bersamanya tadi.
Tidak lupa saat ini, setiap langkah demi langkah mereka di teriakk para Lady yang begitu berdebar ketika melihat Sir Emillo akan segera berdansa, bagaimanapun Sir Emillo memiliki wajah tampan yang bukan main.
Alunan music klasik yang dimainkan para orkestra menampilkan alunan melodi yang begitu indah untuk di dengar, ia berputar dan berayun bersama pemuda tampan itu yang mencoba memimpin dansa untuknya.
Lucy merasa tidak masalah jika hari ini hanya bisa berdansa dengan Sir Emillo, karna dansa pertamanya dulu sudah ia lakukan bersama Reygan walaupun kemampuan menarinya masih buruk.
Jika tidak bisa berdansa dengannya bukankah ia hanya perlu memperlihatkan tarian ini kepadanya kan?
Rambut pirang yang bergelombang begitu indah dan terlihat bersinar diiringi ketukan di setiap kakinya. Lucy benar-benar terlihat indah dengan tarian dansanya yang terlihat tanpa celah itu.
Putra Mahkota nampak kebingungan ketika memperhatikan mereka berdua yang berdansa diatas ballroom. Pria dengan iris Ruby itu terlihat kesal ketika menatap matanya. ‘Pandanhan kami bertemu.’ disisi lain entah kenapa sorot matanya terlihat dingin seperti jiwa yang kosong.
‘Lagi-lagi sorot mata itu.’
Lucy menampilkan dansanya dengan baik, bermaksud untuk memperlihatkan kepada Reygan dan berkata ‘Lihatlah aku.’ Wajah Emillo yang berada di hadapannya terlihat memerah ketika memandang Lucy dari dekat, “Rupanya Nona pandai berdansa,” tuturnya yang bermaksud untuk memberikan sebuah pujian untuk Lucy, ia yang mendengarnya hanya merespon dengan tawaan kecil.
“Sir juga ternyata bisa menari dengan terampil,” jawabnya dengan nada yang lembut.
Sepertinya pemuda itu terlihat malu-malu. Namun raut wajahnya itu segera ternetralisir dengan rahang wajahnya yang terlihat tegas.
‘Benar, wajahnya seperti mahakarya. Hanya disayangkan ia bukan calon penerus keluarga Duke karena hanya anak haram, tapi rambut putihnya saat ini benar-benar berkilau menyilaukan mata.’ puji gadis itu sembari menatap wajahnya dengan lekat.
‘Padahal ada seseorang yang mencintainya dengan tulus begini disampingnya, tapi Lucy tetap memilih Reygan ya? Wajahnya juga tampan, tapi perasaan memang tidak bisa diubah seenaknya. Perasaan Lucy memang begitu dalam kepada Yang Mulia, terlebih sepertinya kehidupan saat ini, Emillo juga tidak akan mencintai saya, saya hanya merasa seperti itu.’ tuturnya dengan mata yang terpejam.
‘Aku berpikir begini, karna seseorang tampak mengirimkan gambaran masa depan kepada ku. Tapi itu bukan Lucy, lantas siapa? Masa depan itu menggambarkan dirimu dengan seseorang yang mencintaimu, Sir saya harap anda tidak perlu menanggung derita dengan menahan rasa bersalah ketika Lucy telah tiada.’ ia sempat menghentikan pikirannya, kemudian bibir tipisnya itu menampilkan senyuman yang begitu tulus.
‘Karna saya tidak akan mati.’ lanjutnya penuh keyakinan. Ia benar-benar ingin mengubah segala alur yang sejak awal telah berantakan ini. Jika sebelumnya judul dari novel itu adalah Sheyra pemenangnya, maka ia akan membuat bahwa Lucylah pemanangnya.
Pikirannya kini terbuyarkan dengan Sir Emillo yang mengajaknya berbicara.
“Alasan saya mengajak anda berdansa karna demi menghindari kecurigaan para bangsawan.” tukasnya dengan jemari mereka yang masih bertaut, mereka masih menari dan takan pernah berhenti ketika lagu yang dimainkan tersebut belum selesai.
“Apa itu?” tanyanya bingung.
“Ini tentang Nona Sheyra.” ujarnya lagi benar-benar pelan.
?!
“Bukankah itu bisa dibicarakan di istana?” tanyanya yang merasa heran.
“Ada hal yang mendesak dan mencurigakan, saya ingin menyampaikan hal itu sekarang. Jika saya dan Nona pergi ke balkon bersama-sama, maka Nona akan mendapatkan rumor tak mengenakan. Maka setelah dansa ini usai, saya akan pergi meninggalkan pesta dan menunggu Nona di balkon dari luar.” pintanya dengan suara kecil, Lucy nampak berputar sembari menganggukkan kepalanya.
Dalam hatinya berpikir, apakah kecurigaan mereka terhadap Sheyra sama? Tampaknya Emillo juga ingin menceritakan asal-usul Sheyra kepadanya.
Sorot mata Sheyra saat ini seperti memperhatikan tingkah Lucy dengan saksama, jika dilihat-lihat senyuman yang terpampang di bibirnya seperti menertawakan dan meremehkan dirinya yang tidak bisa berdansa dengan Putra Mahkota.
‘Nikmati saja situasimu saat ini, karna kenyataan yang ada, kaulah wanita yang berusaha merebut perhatian dari Ptia yang sudah bertunangan. Statusku saat ini terlihat sebagai perempuan menyedihkan yang diabaikan diantara kalian.’ pikirnya dengan tenang.
‘Lihat saja, apakah kemenangan sesaat mu itu akan berpengaruh lebih lama dibandingkan pandangan simpati para bangsawan terhadapku?’