Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 88 : Berbincang


Raut wajah Lucu kini tidak teratur, sembari berbenah dengan pakaian yang lebih baik. Ia tampak memikirkan beribu pikirannya untuk mengetahui maksud Raja memanggil dirinya. Seperti yang didengar, kondisinya di setiap harinya memang sangat memburuk. Untuk menjenguknya, Lucy juga pernah beberapa kali menemuinya untuk sekedar memberikan sihir yang dapat meringankan sakit di tubuhnya.


Tapi gejala itu.. memang telah tiba. Gejala yang menandakan bahwa tak lama lagi, ia akan segera pergi meninggalkan segalanya. Untuk masalah itu.. tentunya sihir penyembuhannya takan berpengaruh besar dan hanya akan berfungsi sebagai obat pereda rasa sakit saja.. karena ia tidak bisa melawan takdir.


Tahkta, kerajaan, dan semua itu takan berarti apa-apa jika kematian datang menghampirimu..


Hanya saja, namamu lah yang akan terkenang pada sejarah dan menjadi publik yang dihormati bagi rakyat-rakyat yang mencintai sosokmu.


“Tapi.. ku rasa.. ia seperti ingin menitipkan wasiat kepadaku jika dilihat dari caranya yang sampai mengancam untuk memaksaku datang menemuinya.” gumamnya disela kegiatan Flona yang tengah merias rambutnya dengan sederhana.


Huft..


Lucy kini menghela nafasnya dengan berat, ia hanya tersenyum nanar seolah menandakan bahwa ia tidak baik-baik saja. Jalan yang ia tempuh masih belum menemukan ujungnya, dan ia masih belum tahu harus melakukan apa.


“Kalau begitu, ayo kita pergi.” tukasnya sembari membangkitkan dirinya. Tampaknya ia telah siap untuk segera pergi ke Istana utama yang dihuni oleh Raja Kerajaan Garfield saat ini. Seorang Raja Callius Garfield yang sangat dihormati oleh rakyat karena kebijakannya dalam mengambil keputusan.


“Baik, Nona.” imbuh Flona sembari mengikuti disetiap langkahnya.


...***


...


Disetiap langkah kecilnya, ia nampak sedikit bertanya-tanya. Apakah Ratu Riana akan menangis


karena sang Raja tidak kunjung sembuh juga? Lalu hari ini ia melakukan keributan besar dengan memanggil keberadaannya menggunakan kata ‘Terakhir’ yang notabenenya teramat keramat bagi seorang Lucy.. ataupun Lucia.


Entah..


Aku juga tidak tahu perasaan yang mereka miliki merupakan rasa cinta yang dalam atau hanya sebatas hubungan politik saja...


Tapi jika memang hubungan mereka didasati karena politik..


Kurasa selir yang tidak bisa memiliki anak tidak mungkin bisa bertahan sampai detik ini juga dan menjadi Ratu menggantikan Ibu Putra Mahkota yang telah lama meninggal dunia...


Yang ia ketahui, Raja saat ini hanya memiliki tiga selir dengan Putri-Putri mereka yang lain. Untuk saat ini.. tidak ada perebutan tahkta karena anak mereka hanyalah seorang Putri yang telah dinikahkan dan menjadi Ratu di kerajaan lain. Posisi mereka sangatlah terhormat sebagai bentuk perdamaian yang terus terjalin di setiap keturunannya.


Terlalu lama melamun di setiap langkahnya membuat sang gadis tidak menyangka bahwa ia telah sampai ke tempat tujuan. Dan pemandangan yang ia lihat saat ini, ia melihat Ratu Riana yang menangis di depan pintu kamarnya. Persis seperti yang ia duga sebelumnya. Lalu.. ini tidak begitu mengejutkan, ia melihat Putra Mahkota yang berusaha terlihat tegar demi menghibur sang Ratu yang bersedih.


Rasanya.. waktu tekah lama berlalu dengan kita semua yang tidak pernah bertemu..


Awalnya.. aku menolak beberapa panggilan mau permintaan dari Raja, Ratu, maupun Rey..


Tapi aku tidak menyangka.. Raja sampai mengundangku dengan cara seperti itu..


Apa musim semi yang indah dan selalu aku nanti-nantikan ini akan menjadi musim semi yang menyedihkan bagi mereka yang ditinggalkan?


“Lucy... aku—” tiba-tiba saja Pria itu bersuara kepadanya. Tapi.. wakah Lucy entah kenapa terlihat tidak berekspresi.


Ah.. selain Flona dan Emillo.. aku lupa. Masih ada Yang Mulia yang selalu memanggil nama biasaki, di era tembalinya Lucia yang selalu ditunggi-tunggu oleh semua orang.


Walaupun tatapan mereka bertemu. Tapi berkat keheningan yang Lucy bawakan kepadanya, mereka kini hanya terdiam untuk waktu yang cukup lama hingga ajudan Raja Callius mau bersuara dan memecah suasana keheningan diantara mereka. Riana yang tidak bisa menahan isak tangisnya tidak begitu mengerti akan suasana yang telah Lucy ciptakan saat ini.


“Lady.. masuklah.” tukas Nicho yang merupakan ajudan Raja di ambang pintu kamarnya. Perempuan itu kini hanya mengangguk sembari melangkahkan kaki untuk membuntutinya kedalam.


Sir Emillo saat ini juga mengikutinya dan tak lama kemudian berdiam diambang pintu ketika Lucy menghampiri Yang Mulia Raja yang tengah terbaring lemah di tempat tidurnya. Sekilas, ia melakukan salam hornat kepadanya,tak lama kemudian gadis itu pun duduk pada sebuah kursi yang disediakan secara sengaja untuknya.


“Lama tidak bertemu, Baginda Raja.” sapanya dengan ramah diiringi senyum formalnya.


Sebagai bentuk responnya, sang Raja kini hanya tertawa kecil kepadanya. “Selama ini, menantuku banyak menagalami masa sulit ya. dan aku sekalipun jarang berkunjung untuk menemui calon menantuku karena kondisi kesehatan ku yang semakin memburuk disetiap harinya.” tuturnya tiba-tiba, ia berkata seolah merasa bersalah karena ia sebagai seorang Raja yang berkuasa tidak dapat melakukan apapun untuk calon menantunya sendiri.


Tunggu.. memangnya ia mengetahui apa penderitaan ku.. permasalahan ku yang tidak begitu banyak kuceritakan pada sembarangan orang?


“Saya sungguh tidak apa-apa. Kesehatan Baginda merupakan yang paling utama bagi saya. Saya juga meminta maaf, menantu yang kurang ajar ini sangat jarang menjenguk anda..” sesalnya dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Entahlah, Sir Emillo yang memperhatikan juga tidak begitu mengerti akan raut wajah yang Lucy tunjukksn saat ini.


Wajah Callius tampak berkerut, “Tolong jangan berkata seperti itu kepada, Lady Lucia.” sanggahnya dengan cara bicara yang berkesan canggung, walaupun begitu entah kenapa dia rasanya seolah mencoba untuk mengakrabkan diri kepadanya.


Keningnya sedikit berkernyit dengan kedua netranya yang menyipit. “Baginda.. memanggil nama saya yang dulu dengan akrab. Apa Baginda juga telah mengetahui identitas saya sejak lama?” tanyanya yang terlihat penasaran akan hal serius itu.


“Intuisi Lady bagus ya. Sejujurnya sejak awal aku telah mengetahui sosok aslimu. Sejak kematian kakak mu yang teragis.” ungkapnya dengan jujur tiba-tiba.


Apa?


Tunggu-tunggu.. kenapa pembicaraan ini dimulai dengan topik bicara yang berat..


“Tidak mungkin.. bagaimana bisa.. bahkan untuk saat ini, berita tentang saya malah menjadi suatu hal yang sangat populer di Ibu Kota. Karena sejak awal mereka tidak pernah menyangka bahwa saya bukanlah penyihir biasa.” sangkalnya yang merasa tidak setuju akan pernyataan Callius yang tiba-tiba.


“Hahaha!” tawa kecilnya yang semakin membuat respon Lucy kebingungan dibuatnya. Tapi walaupun Callius terlihat ramah, iya terlihat berwibawa yang bahkan pada kondisinya yang sedang sakit.


“Tepatnya setelah kematian kakakmu. Saat itu aku mendapatkan mimpi tentang kehancuran yang terjadi di kerajaan ini setelah aku pergi. Mungkin.. Dewa memberiku sebuah peringatan. Karena kehancuran Kerajaan ini.. sudah pasti ada sangkut pautnya dengan penyihir kegelapan yang masih berkeliaran diluar sana. Hingga usai mendapatkan mimpi itu, aku—” Callius nampak menyendat ucapannya ditenggorokan, namun Lucy yang entah kenapa bisa mengetahui apa kelanjutannya kini mulai membuka suara.


“Baginda datang ke kuil suci dan melihat sebuah lukisan dengan rupa yang sama seperti saya? Setau saya.. pavillium Morticia telah lama diabaikan. Jadi, seseorang yang dapat mengenali kemiripan kami sangatlah minim. Makanya saya terkejut ketika mendengar bahwa baginda engetahuinya.” timpalnya yang langsung tepat sasaran.


“Seorang calon Ratu di masa depan memang sangat luar biasa..” timpalnya diiringi senyuman simpulsimpul beserta anggukan kepalanya yang menandakan bahwa tebakan Lucy tidak melesat sama sekali.


Benar-benar diluar dugaan.