
“Diancam katamu?” lirih Baginda dengan alunan nada yang terdengar tajam.
Hening..
Untuk beberapa saat keheningan datang menyelimuti mereka, namun dengan cekatan Sheyra kembali menjelaskan situasinya diiringi raut wajah yang merasa bersalah.
“Benar Baginda, jika saya tidak mematuhinya maka pada saat itu saya akan dihabisi dengan pedang yang ia bawa. Entah sebuah berkah atau keberuntungan.. saya bahkan tidak menyangka.. hiks.. Nona Lucy bahkan mencoba menyembuhkan saya..” ucapnya sembari menutup mulut, bertingkah seolah gadis itu benar-benar menyesal atas perbuatannya.
“Kenapa anda tidak meminta bantuan, Sheyra..” bisik Reygan yang terlihat khawatir.
“Apakah akan ada yang mendegar ucapan saya? Saya hanya seorang Putri Baron.” tukas nya tiba-tiba.
‘Ha.. dia pandai berkata-kata.’ batin Emillo kesal.
“Ini masalah yang serius Nona, anda harus mempertanggungjawabkan segala ucapan anda di depan Baginda Raja.” Cerca Emillo dengan tegas.
“Apa bila saya mengatakannya, akankah keluarga kerajaan bersedia menjamin keselamatan saya hingga pelakunya tertangkap?” tanya perempuan itu seolah tengah bernegosiasi.
Situasi saat ini cukup sulit untuk dipahami, namun dengan segera Baginda Raja mengambil tindakan.
“Bagaimanapun juga perbuatanmu tidak dapat di benarkan, dengan beraninya kau menuangkan racun pada cangkir yang di minum menantuku, ini merupakan percobaan pembunuhan terhadap keluarga kerajaan. Sayangnya perempuan berbakat seperti dia bisa menetralisir racunnya hingga mematahkan rencanamu. Tak disangka juga dia sampai mencoba menyelamatkanmu. Aku menghargai kejujuranmu, jadi aku akan tetap menghukummu dengan hukuman yang sepadan.” ucap Baginda raja dengan keputusan yang bulat.
“Ya Baginda?!”
Memang benar pada saat acara perburuan tengah berlangsung, Sheyra dan Lucy duduk bersama di sebuah meja yang disediakan, tentunya mereka juga meminum teh dari sumber teko yang sama. Hanya saja kita semua benar-benar tidak menyangka bahwa perempuan itulah yang menuangkan sendiri racunnya kedalam teh.
“Saya terpaksa melakukannya Bagin—” protesnya yang kini terpotong oleh ujaran Baginda Raja. Sudah sepantasnya perempuan itu tidak bisa menolak ataupun mengelak, karna semua perkataan yang keluar di mulut Raja adalah sesuatu yang mutlak, tidak bisa dibantah.
“Pertama hukuman cambuk seratus kali, kedua, hukuman penahanan selama tiga bulan, kurasa hal ini cukup menguntungkan untukmu yang ingin menghindari penjahat itu.” Jelasnya bernada tegas. Perempuan itu kini hanya bergetar merasakan panik yang luar biasa. Sir Emillo hanya menduga-duga, ‘Sepertinya situasi ini tidak ada dalam rencana mu, Nona.’ lirihnya diiringi tawaan sinis.
“Bersyukurlah Nona, bahwa hukuman yang Baginda berikan bukanlah menghapus gelar Ayahmu.” sindir Riana. Dibalik kipas yang ia genggam hingga menutupi wajahnya itu, tampaknya wanita ini tertawa puas sembari menatapnya hina.
Sheyra yang menyadari gelagatnya hanya terdiam sembari menundukkan kepalanya.
Begitulah hukuman untuk Putri baron ditetapkan, sekilas di tahan 3 bulan cukup terdengar mengerikan bagi para Lady bangsawan, akan tetapi penahanan bagi seorang bangsawan sangatlah berbeda. Mereka akan tetap dilayani, diberikan makanan yang layak, bahkan diberikan tempat tidur yang nyaman, sungguh ironi bukan?
Hingga satu bulan semenjak kejadian telah berlaru. Pelaku itu akhirnya tertangkap, lebih tepatnya dia yang menyerahkan dirinya sendiri. Dia merupakan Viscount Rajeev, pesaing Count Barayev dari tambang berlian sebelah yang hampir terkena skandal pembunuhan Lucy saat berusia 10 tahun.
Sudah di siksa dan di interogasi berkali-kali untuk menanyakan atas dasar apa Pria itu melakukannya, dia tidak memberikan jawaban apapun. Pria itu hanya terlihat seperti boneka hidup, tatapan matanya kosong, dan hanya mengeluarkan sepatah kalimat yang sama secara berulang, “Saya pelakunya.”
‘Di pikirkan seperti apapun, ini aneh.’ pikir Sir Emillo yang selalu mengamati situasi.
Asumsi Sheyra, Viscount Rajeev melakukan ini karena ingin menghancurkan keluarga Barayev. Alasannya ia masih dendam perihal pertambangan dulu. Tapi jika alasannya demikian, sepertinya Sir Emillo tidak bisa menerima pernyataan itu, karena pertambangan Viscount sudah berkembang pesat ketika pertambangan milik Count Barayev mulai bangkrut.
“Kau tahu apa yang lebih menarik?” tanya Putra Mahkota sembari cengengesan. Mereka saat ini tengah berada di ruang kerja Reygan.
“Setelah menggila beberapa hari, katanya alasan perempuan itu tidak bisa memberikan kesaksian karena ia tertidur selama 5 hari. Lalu apa yang dia katakan saat pertama kali terbangun dari tidurnya?” lanjut Pria itu dengan tatapan serius.
‘Yang Mulia.. ucapan anda seolah tengah membenci Lady Barayev..’
“Dia berkata, ‘Anda siapa’ kepada pelayannya (Flona) yang telah melayaninya bertahun-tahun.” Lanjutnya diiringi kekehan kecil.
“Apa kau mempercayainya? Dia bertingkah seolah lupa ingatan, tapi para pelayan kediaman Count mengatakan tingkah nona muda terasa berbeda, dan katanya setelah pingsan 5 hari, ia bangun dan bertingkah seolah melupakan segala kejadiannya yang terjadi di perburuan kemarin.” lanjutnya dengan wajah antusias.
“Tentu karna kekuatan sihirnya yang terkuras habis. Tapi Ayah bilang, itu ada pemicunya, seolah ada sesuatu yang dengan sengaja menyerap kekuatannya untuk membunuh perempuan itu.” ucapnya yang entah kenapa raut wajahnya kini terlihat bersedih.
“Mohon maafkan saya jika lancang, tapi saya penasaran akan satu hal, kenapa Yang Mulia bersikap seolah membenci tunangan anda sendiri.” tanyanya setelah sekian lama mempersiapkan keberaniannya.
Lucy memang sudah di angkat sebagai tunangan Putra Mahkota, hanya saja pertunangan mereka belum dilakukan secara resmi, namun bukankah hubungan yang terjalin sejak kecil itu akan membuahkan chemistry yang lebih baik? Lantas ada apa diantara mereka ini?
Deg..
Tiba-tiba Pria itu mematung, “Entah.. aku tidak tahu, aku hanya merasa benci ketika melihatnya, tapi aku tidak pernah benci sentuhan tangannya..” ungkapnya sembari memandangi kedua telapak tangannya.
‘Hah?’ Sir Emillo tak bisa berkata-kata lagi. Ia kini hanya termenung sembari menelan bulat-bulat pertanyaan lainnya.
‘Sebenarnya kenapa anda tiba-tiba tertarik kepada Lady dari keluarga Baron itu?’
...***...
Begitulah sekiranya tragedi yang terjadi di perburuan tahun lalu. Lucy hanya menganga tak percaya ketika mendengar segala cerita yang dijelaskan Sir Emillo dengan antusias.
‘Benar-benar kejadian yang mengerikan.. aku baru tahu.. Lucy pernah hampir mati.’ tuturnya tak menyangka.
“Jadi ada kejadian seperti itu ya…”
‘Terlebih.. Lucy hampir mati karena kehilangan banyak kekuatam sihirya.. bagaimanapun juga penyihir tanpa kekuatan sihir takan bisa bertahan hidup.’
Perempuan itu terdiam sejenak sembari memikirkan beberapa hal. ‘Sebenarnya.. kenapa kamu sampai histeris seperti itu? Apa yang terjadi? Apa yang kamu lihat.. Lucy?’ tanyanya dengan beberapa pertanyaan yang berputar di kepalanya.
Setiap penyihir pada dasarnya memiliki beberapa elemen yang dapat dikuasainya, namun tidak ada sihir yang dapat menyerap atau bahkan merampas kekuatan sihir milik penyihir yang lain. Namun jika hal itu sampai terjadi.. bukankah..
“Tunggu Sir, apakah tadi benar, sebelumnya saya menggila histeris dengan mengatakan kegelapan?” tanya gadis itu tiba-tiba, kali ini Lucy kehilatan benar-benar serius dengan sorot matanya yang terpancar mencari kebenaran akan semua masalah ini.
“Ya, Count Barayev mengatakan hal ini sehingga anda tidak bisa memberikan kesaksian apapum kepada Baginda raja.” jawabnya dengan wajah mengernyit.
Gadis itu menggigit kukunya dengan tubuh gemetaran, ‘Apa jangan-jangan Lucy sebelumnya bertemu dengan penyihir kegelapan itu? Tapi siapa? Dimana dia? Kenapa? Yang bisa membunuh penyihir dengan cara seperti itu hanyalah…’
“Penyihir kegelapan..” gumamnya tiba tiba.
“Hng?” Pria itu tampak bingung dengan perubahan Lucy yang tiba-tiba.
‘Tapi siapa? Tidak terlihat ada orang lain di sekitar sana. Menurut kesaksian bangsawan lain juga, yang masuk kedalam hutan hanya mereka berdua. Lantas..’
Deg..
Deg..
“Sheyra?”
Note : Ada Revisi pada Chapter sebelumnya, mohon maaf atas ketidaknyamanannya