Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 75 : Undangan Makan Malam


Usai membersihkan dirinya dengan air yang hangat, gadis itu kini mengenakan gaun birunya dengan motif yang tidak terlalu mewah, namun tentunya itu berakhir dengan pujian elegan berkat wajahnya yang teramat luar biasa. Tampaknya hari ini merupakan pertama kalinya bagi Lucy untuk meninggalkan istana Putri Mahkota lebih jauh karena ia telah mendapatkan undangan makan malam bersama di Istana Ratu yang tak mungkin ia tolak begitu saja.


Katanya ini sebagai bentuk perayaan kesembuhan Lucy yang mulai beraktivitas lagi kedepannya. Putra Mahkota juga pasti mendapatkan undangan itu jika melihatnya hari ini sampai repot-repot datang untuk menjemput kekasihnya dengan kereta kuda.


Di balik pantulan cermin yang kini memantulkan seluruh sosok tentang dirinya, ia berputar mengayunkan gaunnya kemudian berceloteh kecil yang hanya dapat ia dengarkan seorang diri. “Jika seperti ini, warna biru memanglah warna yang serasi dengan warna mataku.” komentarnya yang hanya diberikan raut wajah tanda tanya oleh Flona.


“Gaunnya memang cantik untuk di cuaca musim dingin seperti ini, namun Nona tetap harus memakai mantel bulu ya.” peringatnya sembari memasangkan mantel tersebut dengan hati-hati di pundaknya.


“Ya~ aku tahu.” ocehnya yang tak lama kemudian diberikan deheman kecil oleh seseorang di ambang pintu, usai ditelaah pada sumber suara, ternyata ia merupakan Reygan yang tengah menunggunya dengan sigap sembari berpakaian rapih seperti biasanya.


“Rey, semua urusan mu telah selesai? Seminggu lebih anda tidak mengunjungi saya, itu sedikit membuat pikiran saya memburuk.” jujurnya yang berkesan tengah melakukan protes kecil kepadanya.


“Fffuf!” pria itu kini hanya menehan gelak tawanya di tenggorokan, tak lama kemudian matanya tertuju kepada aksesoris jepit rambut yang terpasang di rambut Lucy.


“Itu—” bingungnya yang hanya diberikan tatapan aneh olehnya. Netra ruby itu menatap hiasan rambutnya dengan lekat sehingga membuat gadis itu tersadar bahwa kemana pandangan mata Pria itu mengarah sampai tatapannya selekat itu.


“Ah— jepit ini, karena Yang Mulia yang memberikannya. Saya jadi ingin memakainya lagi. Lagi pula hiasannya terlihat senada dengan warna gaun yang saya gunakan.” ungkapnya sembari menyentuh hiasan rambutnya dengan ragu-ragu.


Kata demi kata yang terucap di bibirnya entah kenapa diungkapkan dengan perasaan yang hati-hati walaupun reaksi Reygan saat ini hanya mengangguk sembari menatap matanya dengan dalam. Namun entah kenapa rasanya satu kekecewaan sedikit tersirat di benaknya.


Hari ini, Yang Mulia juga tidak menanyakan atau mengomentari apapun soal perubahan warna mataku.. dari sekian hebohnya penghuni istana, hanya anda yang bersikap tenang di kala situasi yang mengejutkan muncul sampai seperti ini..


Awalnya gadis itu berpikir mungkin saja Reygan tidak begitu mempedulikan perubahan kecil yang terjadi pada wajahnya. Namun semua pemikiran kecilnya itu kini terpatahkan ketika pria itu memujinya dengan tulus. “Aku benar-benar tidak masalah soal itu. Jepit itu benar-benar cocok dengan warna matamu yang indah.” pujinya yang kini membuat gadis itu sedikit tertegun.


Ah.. ya, benar juga. Baru kali ini Yang Mulia mau mengatakan hal yang berhubungan dengan warna mataku.. memang terdengar serba salah sih..


Bibirnya kini mengatup, walaupun ia memujinya. Rasanya tidak begitu berarti karena selama ini Pria itu tidak pernah berkomentar sekalipun tentang penampilannya. Rasanya memang menyedihkan, apa penampilannya yang tiba-tiba berubah seperti itu memang mengganggu pikirannya sampai Pria itu tidak bisa berkata-kata?


Entahlah..


Benar, siapapun pasti akan merasa aneh dan sulit untuk beradaptasi ketika warna mata seseorang tiba-tiba berubah begitu saja.


Memang seharusnya aku yang mengerti tentang itu.


Bodoh sekali aku..


“Yang mulia terlalu memuji, saya juga sudah siap. Kalau begitu mari kita berangkat.” ajaknya yang kini diberi respon anggukan kecil oleh pria itu.


Tangan kekarnya kini terulur untuk menuntunnya pergi bersama-sama. Diiringi langkah kakinya yang pelan, tak lama kemudian mereka pun pergi meninggalkan istana Cathalia dengan menggunakan kereta kuda istana untuk segera pergi ke istana Ratu.


Suasana diluar memang terlihat indah dimana buih-buih salju yang turun kini telah memenuhi pekarangan i sepanjang perjalanannya di istana. Walaupun begitu, hal ini merupakan hal yang menarik bagi Reygan. Karena dengan permintaan Ratu yang tiba-tiba, akhirnya untuk yang pertama kalinya gadis yang terkasih itu mau menghirup udara luar setelah sekian lamanya ia mendekam di istana Cathalia.


Iris ruby yang berkilau iti kini hanya terfokus pada wajah perempuan yang duduk di depannya pada sepanjang perjalanan berlalu. Satu hal yang ingin Pria itu katakan, ‘Bahwa matamu yang seperti permata itu benar-benar indah, Lucy. Keindahanmu yang luar biasa benar-benar sulit membuatku berkata-kata sehingga aku memilih diam pada kenyataan pahit yang sulit ku percaya.‘


Yah.. seperti biasa, Pria itu hanya merangkai kalimat yang sulit di pahami untuk siapapun. Terlebih ia mengatakannya di dalam benaknua dimana gadis yang duduk di depannya itu tidak dapat mendengarnya sama sekali.


Ketika menyadari betapa lekatnya tatapan Reygan, Lucy pun mengerutkan dahinya dan mulai bertanya kepadanya. “Apa yang sedang anda perhatikan, Yang Mulia?” tanyanya bingung ketika tanpa sadar Reygan tengah terpaku untuk menatap netranya dengan lekat.


Reygan hanya memalingkan wajahnya kemudian memandangi jendela dengan tatapan sayu, “Tidak ada, Lucy hanya selalu terlihat bersinar seperti biasanya.” ungkapnya yang membuat gadis itu menghela nafas dengan berat.


Dia ini kenapa...


Huft..


Ah benar juga..


“Sepertinya saya juga baru menyadari satu hal, ternyata Yang Mulia juga selalu memakai bros pemberian saya ya? Saya juga dengar dari Sir Emillo lho, katanya anda selalu menggunakan aksesoris itu di setiap acara penting.” jelasnya yang kini membuat Pria itu terlihat menahan malu dengan garis wajahnya yang terlihat memerah padam.


“Ah Crylo sialan.” gumamnya sembari memejamkan netranya yang berniat untuk menahan rasa malu yang ia coba sembunyikan diam-diam.


Jika begini sih, namanya ia tengah tertangkap basah. Dimata orang lain mungkin memakai aksesoris yang sama disetiap acara adalah hal yang memalukan karena orang itu seperti tidak memiliki banyak uang dan tidak begitu memperhatikan penampilannya. Tapi aturan itu tidak berlaku untuknya yang begitu menghargai barang pemberian yang ia terima dari seseorang yang spesial di hidupnya.


Tapi sepertinya Pria itu sedikit kesal ketika semua yang ia perbuat diam-diam dengan kebiasaan kecilnya, ternyata selalu di sampaikan dengan baik kepada tunangannya sampai serinci itu. Pada akhirnya Pria itu kini hanya bisa menahan malunya seorang diri.


Yah.. Yang Mulia yang selalu menunjukkan perasaan anda kepada saya di setiap harinya... seharusnya kejadian ini tidak begitu memalukan di mata anda. Tapi wajah anda yang tertangkap basah itu benar-benar menggemaskan tahu~ ffuft!


Yang Mulia benar-benar deh..