
Federica dan lainnya sebenarnya ingin membantu Lucy, hanya saja mereka berpikir dua kali untuk melakukannya. Karena jika mendekat, yang ada mereka hanya akan membebaninya, bukan menolongnya.
Monster seperti ini hanya bisa ditangani oleh sihir, jika tidak oleh ksatria untuk melumpuhkan tenaganya. Pada dasarnya dimedan perang, penyihir melakukan perlawanan dengan penyerangan jarak jauh sedangkan prajurit menyerang musuh mereka dengan jarak yang dekat.
Urusan menebas itu bukan aku sialan! Sihirku juga tercipta bukan untuk menciptakan kehancuran seperti Penyihir Kegelapan! Ah andai saja mereka yang ada disini sedikit berguna.
Walaupun sihir para penyihir tercipta bukan untuk menghancurkan dunia, tapi bukan berarti mereka tidak bisa melakukan perlawanan sama sekali. Tentu mereka bisa bertarung melawan dan menciptakan pertempuran dahsyat maupun hal lain asalkan tidak melewati batas aturan dan perjanjian dengan dewa.
Konon katanya, perjanjian itu dilakukan oleh penyihir yang pertama kali muncul di tanah ini, namanya Morticia.
“Hey Tuan ksatria! Bantu aku dong sialan!” makinya dengan suara lantang sampai-sampai menjadi buah bibir diantara para bangsawan.
Ah, sumpah. Jika semua ini berakhir, aku akan meminta Yang Mulia memecat mereka.
Tapi.. perilaku tidak tahu diri macam apa itu?! Bangsawan sialan.
“Ugh!“ ia meringis ketika Calrhintis menunjukkan perlawanannya, alih-alih kekuatan sihirnya melumpuh, monster itu malah bergerak semakin kencang seolah menolak untuk ditaklukan.
Kakinya yang kini memijak tanah tanpa beralas itu kini ikut terseret tarikan oleh rantai sihirnya. Lucy hanya bisa meringis dan merintih walaupun ranting pohon yang berserakan itu terinjak tanpa di sengaja. Walaupun ingin menyerah, ia dengan sekuat tenaga menahan dan mencoba menariknya kembali.
Tidak! Seharusnya tidak begini! Seharusnya setelah dikekang monster itu akan melemah karena aku menekan kekuatan sihir miliknya! Lalu apa ini?
“Ahh jaraknya semakin mendekat..” ringisnya sembari memegangi rantai sihirnya dengan erat.
Ia mengeluh dan mengeluh, mengapa semuanya harus menjadi seperti ini? Bagaimana jika ada korban dan ia menjadi di salahkan? Tidak.. Lucy hanya memohon dengan segenap hatinya agar hal itu tidak akan pernah terjadi.
Para ksatria yang sampai mendengar makian dari mulut seorang tunangan Putra Mahkota, pada akhirnya mereka kini bangkit untuk menghunuskan pedang ke arah tubuh Calrhintis. Dan itu benar-benar tindakan yang bodoh untuk dilakukan.
“Buat Kaki tangannya lemah!” teriaknya di penuhi amarah.
Satu tangan ia lepaskan untuk melemparkan sihir penekanan kepadanya, walaupun ini di posisi yang sulit namun Lucy melakukannya dengan baik.
“𝓑𝓻𝓮𝓶𝓼𝓲 𝓜𝓪𝓰𝓲𝓪𝓷 𝓟𝓸𝓽𝓮𝓷𝓬𝓸𝓷.” ujarnya yang tengah merafalkan mantra diiringi lingkaran sihir yang berasal dari ujung telapak tangannya.
Fakta yang telah ia lupakan sebelumnya bahwa monster ini memiliki kelemahan di lehernya, menurut buku pembelajarannya di akademi, semua sihir monster itu terkumpul pada leher belakangnya, namun jika kita menyegel dan menekannya maka ia bisa lumpuh untuk sementara waktu. Dalam artian ia mungkin saja takan pernah mati, kecuali sesuatu yang lebih kuat menikam ulu hati monster itu.
Tapi.. apa itu?
Usai mendapatkan luka tebasan pada pergelangan tangan dan kaki monster Calrhintis diiringi rafalan mantranya, Calrhintis kini terlihat melemah. Sayangnya walaupun ia terluka, itu hanya akan mencabik jiwa dan perasaannya saja. Karena yang mengendalikan tubuhnya saat ini ialah sihir hitam yang membangunkan tidur panjangnya.
Ini membuat hatiku sakit, betapa menyiksanya semua ini bagimu.. tapi jika aku tidak melakukan ini.. yang lain bisa saja terluka.
Awalnya aku terlalu menyepelekannya dengan berniat memberikan sihir pemurnian agar Calrhintis dapat terbebas dari pengaruh sihir kegelapan, namun kenyataannya itu hanya membuang tenagaku dengan sia-sia.
Sihir kegelapan yang kuat tidak mungkin mudah dimurnikan semudah membalikkan telapak tangan. Ia juga menyesal telah berfikiran lambat karena terlalu terpaku pada Sheyra sendiri.
Ia juga berfikir, demi evakuasi yang lain berjalan lancar. Pikirannya menjadi sempit dan naif hingga memilih sihir pertahanan untuk menahan monster itu. Beruntungnya sekarang ada beberapa bangsawan yang bergerombol itu berhasil diamankan dengan tertib berkat bantuan ksatria, ada dari mereka yang memilih meninggalkan tempat ini duluan dengan kereta kuda juga ada beberapa yang menetap karena khawatir kepada pasangannya yang tengah berburu di dalam hutan.
“Walaupun hari ini aku mati, apakah itu adalah anugerah dan jalan yang terbaik untuk ku?” tanyanya diiringi tawaan pasrah.
Sayang sekali walaupun dilukai berkali-kali, Calrhintis bergerak atas dasar perintah sihir hitam yang mengerubungi tubuhnya. Ia merasa tersiksa namun terus melakukan perlawanan, ini adalah sisa dari kekuatan terakhirnya yang ia pertaruhkan dengan setengah mati.
Brukk..
Namun tarikan paksa yang dilakukan Calrhintis itu kini membuat daya tahan tubuh Lucy menjadi melemah. Usai sihir tali pengekang itu hancur, Lucy kini terhuyung jatuh di dekatnya.
Sebelumnya, para ksatria yang berhasil melukai tangan kakinya kini terhempas oleh hembusan elemen angin miliknya. Lucy merasa dejavu dengan kejadian ini, namun ia merasa bahwa itu lebih baik dari pada tubuh mereka tercabik oleh cakarnya menjadu 3 bagian.
Kalian lebih beruntung dari pada aku yang kini terbaring lemas di dekatnya.
“Nona Lucy!” teriak Federica diiringi tatapan khawatirnya. Awalnya Machionest Theyril juga hendak pulang, namun ia tengah menunggu kereta kuda yang dipaksakan melaju memasuki area peristirahatan karena ia tidak bisa melangkah jauh diposisi perutnya yang sakit.
Mereka sepertinya mengkhawatirkan Lucy yang terkapar lemas di dekat Calrhintis. Sayangnya ke khawatiran kalian itu sama sekali tidak membantu.
Kalian akan sangat membantu jika menyingkir dan pergi dari tempat ini.
Tapi..
“Yang Mulia.. anda ada di mana..?!” lirihnya frustasi.
Seharusnya Calrhintis itu telah lumpuh. Tapi ini sulit karena sihir hitamnya terlalu kuat. Kamu membayar semua ini dengan apa Sheyra? Sesuatu yang kuat, tentu saja ada ganjaranya.
Apa Kamu berharap aku mati ditangan monster yang bahkan tidak pernah menyentuh manusia? Atau kamu berharap ada banyak korban dan aku yang menjadi pusat kesalahannya?
Ia kecewa dengan kekuatan sihirnya yang terlalu lemah, sekaligus menggerutu dan mengumpat dengan kesal.
“Aku tidak pernah melukai kalian, tapi kenapa para manusia berusaha menyakitiku?!” geram Calrhintis dengan nada beratnya. Nada bicaranya terdengar seolah membenci manusia—
Tunggu! Apa aku berhasil mengurangi kadar sihir kegelapan itu? Ia berbicara seolah kehendak isi hatinya sendiri—
Ah.. tatapannya tajam.. ia pasti membenciku.
“Manusia dengan sihir yang lemah, jangan menghalangiku! Aku harus membunuhnya!” tekannya yang kini mencoba menghampiri Lucy.
“Menghalangi? Membunuh? Apa maksudnya?! Siapa yang harus kau bunuh?!” kecamnya yang kini berusaha memundurkan diri.
Sakit, ia tidak bisa melangkah maupun berlari. Telapak kakinya terlalu dipenuhi banyak luka yang bahkan ada luka tusukan yang lebih dalam.
Jika banyak bergerak, rasanya aku mau mati.
“Matilah penyihir sialan.” hardiknya yang kini telah melayangkan pijakkan kakinya yang besar, tepat berada diatas wajahnya yang tengah mendongak ke atas langit.