Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 71 : Warna Mata


Benar adanya jika Lucy mengalami pingsan setelah menggunakan kekuatan sihirnya dalam sekala yang berlebihan, akan tetapi jika itu benar-benar terjai, bukankah sudah sepatutnya bahwa para pelayan yang ada di kamarnya saat ini memasang raut wajah senang kemudian berlari menghampirinya dan membantu merawat kondisi tubuhnya agar lebih baik lagi?


Tapi Mata, mereka hanya diam terpaku setelah mengatakan ada sesuatu dengan mataku..


“Cermin.. aku butuh cermin..” gumamnya yang kini beralih untuk menuruni tempat tidurnya dengan tergesa.


Tindakannya yang tiba-tiba hanya mengundang kekhawatiran para pelayan di depannya, Flona yang terdiam mematung itu kini memasang raut wajah panik yang semakin menjadi-jadi. “Nona! Anda jangan langsung berdiri—” Satu tangan terangkat untuk menunjukan isyarat berhenti kepadanya, namun semua itu kini telah terlambat.


Brukk..


Lucy yang memaksakan dirinya untuk berdiri agar dapat menghampiri cermin yang berletak di samping tempat tidurnya kini terhuyung hingga membuat tubuhnya terjatuh dan memeluk hamparan lantai kamarnya yang terasa dingin.


“Ugh—” sesaat ia meringis kesakitan, wajahnya hanya menyiratkan pertanyaan ‘Kenapa aku tidak bisa berdiri?’ tentunya hal itu kini tiada artinya ketika sang gadis tetap memaksakan kondisi tubuhnya yang buruk dengan menyeretnya hingga sampai ke tempat dimana cermin itu berada.


Tahu apa yang terjadi selanjutnya? Boom! Itu benar, disana hanya menyisakan ledakan pertanyaan yang teramat membingungkan. Semua orang juga tentunya tidak akan ada yang percaya, bahwa ketika 3 bulan lamanya telah berlalu tanpa adanya kepastian bahwa gadis itu akan kembali, kini malah memberikan mereka kejutan dengan membawakannya suatu perubahan kecil pada wajahnya yang terlihat tirus.


Aku sendiri tidak dapat mempercayainya, apa yang kulihat dibalik pantulan cermin ini hanyalah gadis kurus dengan baju tidurnya yang sederhana. Tidak, kelihatannya warna rambutku juga berubah semakin terang.. selain itu—


“Mata ini.. kenapa mata Morticia ada padaku?” bingungnya yang masih saja meninggalkan keheningan di tempat itu.


Dengan perlahan kini Flona menghampirinya kemudian meraih tangan sang Nona untuk membantunya duduk dengan posisi yang lebih baik. “Saya tidak memiliki tenaga berlebih untuk mengangkat tubuh Nona ke tempat tidur, jadi sampai Sir Emillo tiba.. Nona bersabarlah dengan posisi yang seperti ini.” pintanya yang kini menatap wajahnya dengan raut muka yang merasa tidak enak.


“Hana! Cepat panggil Sir Emillo di depan!” gerutu Flona disampingnya.


“Ah- ba-baik!” pekiknya yang terlihat enggan untuk membalikan diri.


“Aku tidak masalah.. Flona.” jawab gadis itu yang masih saja lekat memandangi wajahnya dibalik cermin. Perlahan jemarinya terangkat untuk menyentuh kulit putihnya yang lembut.


Ah.. ini tidak salah lagi.


Mta yang indah ini merupakan warna mata yang dimiliki Morticia, penyihir abadi yang telah tiada itu.


Benar juga, para pelayan bersikap aneh juga karena mereka semua telah terhipnotis dengan netra yang indah dan jernih laksana permata safir yang kilauannya sangat menawan seperti langit malam yang benderang. Semua orang yang ada bukan terpaku karena telah menyaksikan kejadian janggal dimana netra coklatnya yang menjadi ciri khas Lucy menghilang, namun mereka semua terdiam membeku karena telah menyaksikan betapa memesonanya netra itu.


Sekalipn aku tahu, walaupun tidak pernah melihatnya secara langsung, ini merupakan mata Morticia yang selalu di puja-puja dan di deskripsikan dengan kiasan yang manis oleh Cesarre.


“Ah— apa yang telah terjadi kepada ku..” gumamnya yang tidak begitu kedengeran jelas ditelinga Flona.


“Nona?” sahut seorang Pria yang kini muncul di ambang pintu kamarnya.


Awalnya ia tidak percaya, namun ia melihat Lucy yang saat ini memang seperti Lucy yang sebelumnya, namun bagaimana caranya netra yang coklat itu berubah hingga menjadi permata safir yang selalu menyiratkan kepedihan seperti yang selalu mereka dengar lewat buku sejarah?


Untuk itu.. “Sekarang musim dingin Nona, sebaiknya anda beristirahat saja di tempat tidur.” pintanya yang kini menggendong perempuan itu seperti tuan Putri pada dunia dongeng.


“Sir, Yang Mulia ada dimana? Tunggu— musim dingin?! Tidak, aku ingin melihatnya terlebih dahulu!” gerutunya yang kini hanya membuat rait wakah Pria itu terlihat kebingungan.


Sekilas pemuda itu menatap wajah Flona yang berdiri disampingnya. Tak lama kemudian ia mengantarkan Lucy pada sebuah jendela dengan tirai yang belum terpasang setelah mendapatkan anggukan kecil dari Flona. Ohh, itu merupakan pemandangan luar biasa ketika bayangan hantaran salju yang membentang di depannya kini terpatri di balik netranya yang jernih.


Musim dingin yang indah dipenuhi tumpukkan salju telah tiba dihiasi dengan langit putih, warna salju yang lembut telah berpadu dengan indahnya bunga-bunga yang tertanam pad tanaman di istananya. Oh— musim gugur yang baru aku lihat selama dua hari itu telah sirna tergantikan dengan musim dingin yang tidak berperasaan.


Usai memperhatikannya dengan lekat, wajah gadis itu terlihat memurung. Dengan itu, Sir Emillo kini menyerukan sesuatu dengan hati-hati kepadanya. “I—itu Yang Mulia.. pagi ini beliau pergi ke Kuil Suci, Nona.” ucap Ksatria itu yang berniat menjawab pertanyaan Lucy sebelumnya.


Beliau pergi..


Apa Yang Mulia pergi tanpa mengatakan sesuatu kepada mereka karena tidak ingin mengganggu tidurku yang kelihatan nyenyak.


Aneh, kenapa anda tidak menunggu lagi di sampingku? Bagaimana jika sesuatu yang buruk telah terjadi hingga membuatku sama sekali tidak terbangun walaupun 3 bulan telah berlalu dengan singkat..


“Jangan bersedih, beliau akan segera kembali. Maka dari itu tunggulah disini bersama Flona.” ujarnya yang kini mendudukan gadis itu di atas tempat tidurnya.


Perempuan itu hanya tersenyum tanpa memberikan sepatah jawaban yang lain, ia hanya berpikiran kecil, pantas saja ia tidak bisa berdiri bahkan berjalan kecil sekalipun karena selama ini ia hanya terbaring lemah dalam waktu yang cukup lama.


Oh.. musim gugur yang kunantikan telah menghilang.


Baginya, musim gugur jauh lebih baik dari pada musim dingin yang banyak membawakan duka dan kenangan buruk kepadanya. Menyedihkannya setelah sekian lamanya berlalu, pemandangan guyuran daun maple yang selalu ia nantikan kini tergantikan oleh sambutan guyuran salju pada musim dingin yang tidak pernah ia nantikan.


Berkat mimpimu yang mengatakan telah kehilangan orang terkasih di mana pada saat salju pertama turun...


Semua keindahan musim ini menjadi tiada lagi artinya bagiku, apalagi jika berpadu dengan semua kenangan buruk yang pernah aku alami dikehidupan ku yang sebelumnya.


“Aku.. benci musim dingin.” tuturnya yang kini membuat Flona terdiam tanpa berkata-kata. Satu pelayan lainnya juga telah pergi untuk membawakan minuman dan sarapan kepadanya.


Sir Emillo yang belum beranjak juga tidak mengerti harus bereaksi apa pada perkataan yang Lucy lontarkan sebelumnya.


Jauh dilubuk hati Flona, ia hanya kebingungan dan bertanya-tanya, yang saya tahu.. di setiap tahunnya bukankah Nona selalu mengharapkan musim dingin yang hangat segera tiba?