Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 78 : Topik Pembicaraan Yang Aneh


Mendengar pujian kecil terbit di bibir mungilnya, semua itu kini hanya membuat sang Ratu bereaksi dengan tersenyum hangat kepadanya. Tampaknya perasaan Ratu yang terlihat mencintai mereka bukanlah suatu hal kebohongan. Terlebih, ia merupakan selir ke tiga yang tetap bertahan dengan posisinya yang bahkan tidak memiliki seorang Putra di sampingnya.


Sejak kecil tampaknya latar belakang selir Riana merupakan sahabat baik untuk Ibunda Reygan yang menjabat Ratu di Kerajaan ini. Hingga saat beliau meninggal dunia, Riana lah yang menggantikan posisi beliau untuk menjalankan tugas Negara dalam waktu sementara. Hubungan Putra Mahkota dengan Riana pun dijalani dengan baik sejak Reygan masih kecil.


Yah.. tampaknya beliau memang menyayangi Reygan.. tentang perasaan Ratu kepadaku saat ini.. aku belum bisa menebaknya dengan pasti.


“Syukurlah jika Lady sangat menyukainya.” tukas wanita itu disela-sela suapannya yang tertunda.


Sekilas senyuman yang terbit diwajah sang Ratu kini kemudar, wajah ramahnya itu entah kenapa terlihat berubah menjadi murung. “Saya hanya senang sekali.. hari ini dapat bertemu dengan sosok Morticia yang hanya selalu tergambar dibalik tulisan kuno dalam sejarah. Saya hanya tidak menyangka bahwa gadis yang akan menjadi calon Ratu berikutnya, ternyata berparas cantik dengan netra safirnya yang jarang di temui di Kerajaan Garfield.” timpalnya dengan nada bicara yang entah terdengar senang atau malah sebaliknya.


Lho? Tunggu—


Kenapa arah pembicaraannya selalu kepadaku yang berkaitan dengan Morticia sih..


Eh… aku tidak salah mengira kan kalau Yang Mulia Ratu sepertinya...


“Yang Mulia anda terlalu berlebihan.. jangan terlalu menaruh ekspektasi yang tinggi kepada saya.. karena rupa Penyihir Morticia juga tidak pernah ada yang tahu seperti apa.. bisa saja saya hanyalah seseorang dengan raga yang dianugerahi kekuatan Morticia yang diturunkan kepada saya karena kami sama-sama seorang penyihir.” timpal gadis itu yang merasa ingin segera menyudahi perbincangan yang mengarah pada asal usulnya.


Usai menyimpan garpunya dengan rapih, kini sang Ratu cemberut sembari menopang dagu dengan jemari tangannya yang lentik. “Tapi beliau kan meninggalkan wasiat dengan mengatakan ‘akan terlahir dengan raga, rupa dan perasaan yang sama di kerajaan ini’..” protes sang Ratu yang kini hanya diberikan tatapan tidak percaya dari sang gadis sebagai bentuk responnya.


“Jika perihal itu.. ya itu memang benar.” timpal Lucy diiringi kedua jemari tangannya yang berpaut dengan gelisah. Jika dilihat dari sorot matanya yang mulai melayu, tampaknha gadis bersurai pirang itu mulai lelah menanggapi topik pembicaraan mereka yang aneh.


Brakk..


Tiba-tiba saja garpu dan pisau yang di genggam oleh Pria itu diletakan dengan kasar di atas meja. Sontak kedua mata mereka kini tertuju kepadanya.


“Yang Mulia? Ada apa?” tanya Lucy teramat penasaran. Entah kenapa wajah Reygan terasa kesal, wajahnya juga memerah padam seolah tengh memedam amarahnhya seorang diri.


Apa ada pembicaraan yang menyinggung hatinya? Ouh dia kenapa ya..


ataukah Yang Mulia menyadari bahwa aku terlihat tidak begitu nyaman dengan pembahasan ini?


“Pelayan, tampaknya Putra Mahkota tidak begitu menyukai hidangan ini. Cepat gantikan dengan menu makanan yang lain.” perintah sang Ratu sembari melambaikan tangannya kepada salah satu pelayan yang berjaga di belakangnya, tentunya pelayan itu kini mengangguk sembari mengikuti perintahnya dengan langkah yang baik.


Reygan hanya berkata “Terimakasih.” sembari menyeka ujung bibirnya menggunakan serbet. Yah sepertinya dia tetap mengatakan terimakasih sebagai bentuk hormatnya walaupun sepertinya penyebab Pria itu terlihat kesal bukan karena makanan..


“Tadi kita sampai mana ya? Ah benar juga us Lady. Jika kita memang ingin memastikannya dengan perasaan lega, sebaiknya kita memsng harus segera memastikan faras kalian seperti apa. Cukup disayangkannya semua barang peninggalan Penyihir Morticia telah di awetkan beratus tahun menggunakan sihir dan terseimpan di kuil suci dengan aman.” keluhnya yang terlihat ingin melanjutkan obrolan mereka dengan harmonis.


Eh..


Tapi sepertinya aku juga telah mendengarkan hal yang serupa dari para pelayan sebelumnua.. katanya pahatan patung Morticia juga ada di kuil suci ya? Tapi— ini sepertinya ada yang aneh..


“Mohon maaf sebelumnya jika saya terlihat lancang. Tapi saya teramat penasaran akan satu hal, Yang Mulia Ratu. Bolehkah saya menanyakan satu pertanyaan terkait kuil suci?” tanya gadis itu tiba-tiba, tentunya dengan senang hati sang Ratu pun menganggukan wajahnya.


“Tentu saja Lady—”


“Ekhem!” dehem seseorang yang memotong pembicaraan mereka begitu saja.


“Ah, Putra Mahkota.. apa ada masalah?” tanya wanita itu disertai keringat dingin yang mulai mengalir di pipinya.


“Tidak.. mohon maaf tenggorokan saya tidak begitu baik Yang Mulia Ratu. Lanjutkan saja..” timpalnya dengan raut wajah yang terkesan terpaksa ntuk menampilkan senyuman ramahnya.


“Ah—baik, tadi— oh tentu saja Lady. Tanyakan saja mau soal apapun itu.” jawabnya yang entah kenapa kali ini wanita itu mengatakan pernyataannya dengan hati-hati.


Heuk, Rey! Dia juga sebenarnya kenapa sih? Hari ini dia terlihat aneh..


Bagiku topik ini memang agak sensitif karena aku merupakan reinkarnasi dari seseorang yang ada di masa lalu.. tapi kenapa pembicaraan ini juga membuat Pria itu tidak nyaman?


Ah dari pada itu.. Yang paling penting saat ini adalah..


“Setahu saya, kuil suci dan pars penyihir memiliki perselisihan berat yang sulit untuk didasari hubungan yang baik. Karena mereka menganggap bahwa Dewa terlalu menyayangi para Penyihir dan menganggapnya bahwa mereka lebih spesial. Walau secara skala kekuatan tentu mereka mekiliki keunggulan yang berbeda, hanya saja jika dilihat daei buruknya hubungan mereka.. mengapa semua peninggalan Morticia disimpan di kuil suci?” tanya gadis itu yang merasa penasaran akan pokok permasalahan hal ini.


“Begitu, sebaiknya makan malam ini kita akhiri dengan hidangan penutup saja.” timpal sang Ratu ketika melihay keduanya yang kini tidak menyentuh makanan mereka lagi.


Geraksn tangan yang melambai terlihat seperti sebuah kode yang membawakan para pelayan untuk menghidangkan makanan penutup dengan desert yang mungil. Diiringi guyuran teh yang menerpa ujung cangkir mereka, sang Ratu tampaknya mulai bersuara dengan serius.


“Sebenarnya, memang benar hubungan kuil suci dengan para Penyihir tidaklah baik. Walaupun begitu, Morticia merupakan sosok pahlawan yang membantu Yang Mulia Raja terdahulu dalam peperangan. Sebagaimanapun mereka selalu mencoba untuk terlihat saling menghormati.. dan point yang lebih penting disini adalah..” sesaat Riana tampak menggantungkan ceritanya.


Tampaknya ini memang informasi penting yang tidak begitu banyak diketahui selain keluarha kerajaan saja. Apa tidak masalah jika aku meminta menceritakan masalah ini karena termasuk calon anggota kerajaan?


“Kenyataannya pihak kuil suci mengajukan perdamaian terlebih dahulu setelah setahun lebih Morticia telah tiada dengan pengorbanan besarnya. Namun faktanya bahwa penyihir kegelepan itu belum tiada membuat mereka cemas. Menurut sejarah tak resmi, sepertinya mereka mulai menyadari bahwa para penyihir keturunan Morticia merupakan sosok yang ada di pihak mereka ketimbang penyihir kegelapan yang berusaha menghancurkan tatanan kerajaan ini.” jelas Riana dengan rasa antusiasnya.