
Tidak buruk, batu yang redup itu kini telah bersinar dengan terang kembali. Untuk tahap pertama, setidaknya Batu segel itu kini telah menguat kembali. Tapi tahukah kalian akan suatu fakta yang tidak pernah ia dengar sebelumnya? Usai setelah Lucy menyerahkan seluruh sihir pemurniannya kepada batu, Gbriel memujinya dengan perkataan yang tampaknya sedikit menyakiti dan menyinggung perasaannya. Ia berkata dengan senyuman yang ceria, bahwa..
“Wah tak salah~ Penyihir jenius memang cocok untuk julukan anda. Awalnya para tetua juga berkata aneh saat memberikan berkah kesucian pada bayi mungil barayev yang baru saja lahir. Katanya.. dipikir-pikir menagapa hanya Lady yang terlahir dengan rambut mencolok dikeluarga anda, ternyata karena anda memang penyihir Abadi yang baru saja terlahir kembali kedunia ini!” serunya dengan bersamanagat.
Sekilas.. dia terlihat seperti mengatakan sesuatu dengan polosnya tanpa beban. Ya, dia berkata sesuatu dengan senyuman polosnya walaupun semua perkataan itu menusuk hati perempuan itu yang mendengarnya. Bagaimana bisa? Bisa-bisanya—
Walaupun dia masih muda.. di kan seorang utusan Dewa yang baru..
Bagaimana bisa secara tidak langsung ia berkata bahwa ada kemungkinan kecil bahwa Lucy merupakan seorang anak haram yang terlahir dengan warna rambut yang berbeda?! Ya walaupun ia tidak berkata seperti itu, tapi secara tidak langsung Gabriel telah menyinggung asal-usul kelahirannya dengan tidak sopan.
“Rasanya Kuil Suci itu ingin kuledakan saat itu juga, yah~ walaupun pada akhirnya aku hanya bisa tersenyum untuk menahan gejolak amarahku.” timpalnya sembari menghirup wewangian tehnya yang masih hangat.
Kali ini, rutinitasnya hanya berdiam dikamar sembari memandangi pemandangan taman yang dipenuhi salju dibalik balkon kamarnya, cuaca memang dingin, namun minum teh hangat di dekat balkon tidaklah buruk.
Drap.. drap..
Langkahan kaki seseorang yang mendekat kini membuat kedua netranya menoleh ke arah sumber suaranya, tampaknya saat ini Sir Emillo menghampiri Lucy setelah mendapatkan panggilan darinya melewati Flona, gadis itu kini tersenyum sembari meraih sebuah amplop surat yang tersimpan di atas meja.
“Ini, maaf. Saya hanya mempercayai Sir, dan ini merupakan surat yang penting. Jadi bisakah saya meminta tolong kepada anda untuk menyampaikan surat ini kepada seseorang?” pintanya yang disertai rasa penuh harap.
“Tidak masalah Nona, sebagai ksatria pelindung yang telah mengucapkan sumpah janji.. saya hanya akan menerima perintah Nona maupun melindungi Nona dengan kedua tangan saya sendiri.” pengakuanya yang kini membuat gadis itu menghela nafas entah karena hal apa.
“Sir.. maafkan aku jika perintah itu menekanmu. Seharusnya.. ksatria terhebat sepertimu tidak perlu melindungiku.. anda memiliki kehidupan yang layak dijalani sesuai keinginan anda, kelak.. saya akan melepaskan sumpah setia itu jika anda telah menikah nanti. Karena ada sesuatu yang berharga dan lebih penting dari pada hanya hidup untuk melindungi saya.” imbuhnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tatapan mata Lucy terlihat aneh, sebenarnya apa yang tengah gadis itu rencanakan dibelakangnya?
“Baiklah, jika itu perintah. Saya akan menerimanya.” jawabnya yang entah kenapa ia mengatakan itu hanya untuk menghibur perasaan Lucy.
Usai kembali dari Kuil Suci, Lucy hanya berlarut dalam kesedihan yang tidak dapat ia jelaskan dengan hatinya sendiri, ia hanya semakin terdiam mengeluh dan terkadang mendengarnya menangis seorang diri pada pojok kamarnya yang dingin dan hampa.
Nona Lucy.. kini berbeda..
Ia telah berubah. Walaupun marganya Barayev, tapi ia merupakan seorang Lucia de Lamorrie Ticya..
“Sebelum itu, ada yang ingin saya tanyakan Sir. Apa anda telah membawakan apa yang saya minta?” tanyanya yang ingin memastikan suatu hal dari sejak lama.
“Itu, saya membawakan berkasnya. Saya minta maaf karena dalam pencarian berkas ini telah banyak terjadi kendala dan hambatan, lalu.. entah anda sudah menebaknya atau tidak.. yang jelas, ini benar-benar seperti yang anda perkirakan.” tukasnya sembari menyerahkan setumpuk kertas-kertas berisikan daftar tamu undangan diacara perayaan ulang tahun Putra Mahkota yang ke 17 tahun.
Brukk..
“Ini.. apa?!” kagetnya bukan main, tumpukan kertas itu kini jatuh berhamburan diatas lantai.
Tidak-tidak.. walaupun berantakan ia kini mencoba mencarinya kembali, salah stau kertas dengan berita mengejutkan untuk memastikannya sekali lagi..
Sir Emillo pun sedikit menyampaikan informasi bahwa pada Ulang Tahun Putra Mahkota, Sheyra memang melakukan debut pertamanya secara resmi di Istana. Walaupun pesta debutnya ia tunda hingga berusia 17 tahun. Nyatanya, selain pertemuan pertama mereka yang tepat di pemakaman Lyonora, mereka juga pernah berpapasan di Istana pada saat ulang tahun Reygan berlangsung.
“Menurut informasi yang sudah saya lacak selama ini. tak ada yang begitu banyak mengingat kejadian itu, tapi katanya saat itu memang seperti muncul suatu keajaiban.. di dunia kelas atas tiba-tiba ada seorang gadis berambut merah yang mencolok dengan gaun hitamnya yang panjang. Hari itu perhatian memang sebagian terambil alih kepadanya, walaupun begitu sampai detik ini Federica Halstead terlihat tidak begitu menyukai keberadaannya.” ucap Sir Emillo dengan tatapan serius.
“Tapi yang lebih penting, saya menanyakan kepada beberapa penjaga.. katanya, saat itu posisi mereka sedang mabuk.. jadi penglihatan mereka tidak begitu jelas, namun tampaknya ada seseorang dengan berpakaian hitam tiba memasuki gerbang Istana Cathalia, tempat ini.. tempat dimana tragedi mengenaskan telah menimpa kakak anda.. seperti terjerat sihir, mereka juga tiba-tiba mengantuk dan tertidur cukup pulas.” lanjutnya yang hanya membuat perempuan itu semakin diam seribu bahasa.
Jika melihat kriteria dan cirinya.. itu seperti Sheyra yang datang untuk mencariku kan?
Tapi yang kulihat dibalik gaun hitamnya, perempuan aneh itu terlihat memakai tudung yang panjang hingga memenuhi permukaan tanah.. dari mana perempuan itu mendapatkan jubahnya?
Tidak.. itu bukan hal yang penting.. tapi..
Sorot matanya nampak memanas dengan sedikit kemunduran disetiap langkahnya. Kedua tangannya kini terbujur lemas menutupi mulutnya dengan gejolak hati yang merasa tidak percaya setelah mendengar kebenaran yang selalu ia ragukan dengan kedua telinganya sendiri.
“Jadi.. kakakku? Dia.. pelaku yang membunuh kakak ku? Lyonora?” tanya perempuan itu diselangi gelak tawa yang entah merasa sedih atau frustasi.
Hahaha…
Lyonora.. kakak yang menyiksaku detengah mati, walaupun begitu aku menghormatinya karena hubungan kami yang sedarah..
Tapi.. Sheyra, tidak. Iris.. kamu membunuhnya..
Keluargaku yang berharga.. apa ini.. kenapa perasaanku sesakit ini..
Ia menjatuhkan dirinya dilantai dengan perasaan bersalah dan juga kecewa. Hatinya sakit seperti tertusuk beribu duri, bagaimanapun kematian Lyonora yang terpatri diingatannya sangatlah mengerikan.. ia kecewa dan menyesali semuanya...
“Saat itu.. seharusnya aku membunuhmu. Bukan melepaskanmu..” gumamnya diiringi tatapan kosong.
Dengan perasaan yang bulat, ia tampaknya telah yakin jika Sheyra merupakan wadah yang dirasuki oleh Iris untuk menjalani kehidupannya saat ini. ia juga mengingatnya dengan jelas bahwa dimana tragedi kematian Lyonora terjadi, penyihir kegelapan itu berkata kecewa akan kemampuannya dan juga menantikan kebangkitannya untuk mengajak wanita itu bertarung lagi.
Diacara perburuan kemarin juga, Sheyra memanggil namanya Lucia dengan raut wajah yang sedih dan senyuman yang sulit diartikan, apa bukti ini tidak lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa Sheyra adalah Iris itu sendiri?
“Lalu… kemana perginya Sheyra yang asli..” lirihnya yang entah kenapa perempuan itu seperti kehilangan sebagian kewarasannya.
Ia seperti seseorang yang telah hancur dengan beribu tekanan dan pikiran yang meledak di kepalanya, yang jelas setelah menyadari satu hal. Ia kini terdiam begitu lama bersamaan tatapannya yang sayu. Lucy koni hanya tertawa kecil untuk mengurangi kadar rasa sedihnya yang tidak dapat ia bendung lagi.
“Jadi wanita yang kubenci itu... ternyata selama ini telah tiada didunia ini.” gumamnya yang hanya menyisakan rasa kekhawatiran dari sang Ksatria yang mematung di hadapannya.