PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN

PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN
Bab Lima Puluh Empat. PYTD.


Sudah dua minggu Naya melahirkan bayi mungil mereka. Kenzo merasa hudupnya makin sempurna sejak kehadiran buah hatinya. Memiliki istri dan anak yang cantik.


Kenzo selalu membantu Naya mengurus baby mereka sebelum pergi kerja. Menyiapkan sarapan dan membantu Naya mandi. Kenzo sangat memanjakan Naya, karena ia menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan Naya melahirkan buah hati mereka.


Bayi mungil mereka di beri nama


Arumi Nasha Razeta yang artinya Keturunan putri Nabi Adam yang cantik seperti bunga yang wangi.


"Kak Kenzo, aku mau mandi.Kakak tolong jagain Arumi ya? Aku takut kebangun," ucap Naya.


"Aku bantu mandikan kamu aja. Arumi biar dengan Mama," ujar Kenzo.


"Nggak usah Kak. Aku bisa sendiri."


"Kakak mau bantu madikan kamu. Baru aku mandi. Aku senang bisa bantuin kamu mandi, Sayang."


"Kakak yakin mau bantuin aku mandi?" tanya Naya sambil tersenyum.


"Hhmmm, kali ini aku usahain bisa bantu kamu mandi sampai selesai," ucap Kenzo cengengesan.


Naya bertanya begitu karena terakhir kali Kenzo membantu dirinya mandi, suaminya itu tak tahan dan meminta Naya meneruskan mandinya sendiri. Kepalanya pusing, keluh Kenzo karena tak tahan menahan nafsunya melihat tubuh polos Naya.


Kenzo memberikan Arumi sama Mama, kemudian masuk kamar mandi dan membantu Naya menyabuni badannya. Kenzo menarik napas kasar setiap menyentuh tubuh Naya.


"Kenapa kak? Kalau nggak sanggup, biar aku mandi sendiri aja!" ucap Naya melihat Kenzo yang sering menarik napas kasar serta panjang dan memegang kepalanya.


"Nggak apa apa, Sayang. Sedikit lagi selesai'kan mandinya?"


"Kakak pusing lagi?" tanya Naya


"Setiap malam kepala kakak memang pusing, karena membayangkan kamu, Sayang," lirih Kenzo.


Naya mempercepat mandinya. Dia tidak tega melihat raut wajah Kenzo yang memerah seperti menahan sesuatu.


"Kak, terima kasih."


"Buat apa kamu berterima kasih, Sayang. Wangi banget sih istriku ini," ucap Kenzo sambil menyisir rambut Naya saat membantu berpakaian.


"Terima kasih buat semua yang telah kakak lakuin dan beri untukku," ujar Naya.


"Semua yang aku lakuin tidak seberapa dengan pengorbananmu ketika hamil dan melahirkan si cantik Arumi," ujar Kenzo dengan menangkup wajah istrinya dan menghujani dengan ciuman.


Naya membalas dengan mengecup bibir suaminya itu. Dia merasa sangat bahagia karena merasa sangat dicintai Kenzo.


"Jangan mengecup bibir kakak lama-lama, Sayang. Aku takut nanti nggak bisa menahan," ucap Kenzo.


Naya tersenyum melihat wajah Kenzo yang masam karena menahan dirinya untuk tidak berbuat lebih dengannya. Naya tahu selama dua minggu ini, suaminya itu berusaha menahan hasratnya dengan berolahraga.


"Sayang, sepertinya anak kita cukup satu Arumi saja!"


"Kenapa, Kak. Bukannya kalau punya anak lagi rumah ini pasti akan ramai dengan suara canda dan tawa anak anak kita nanti."


"Kakak kasihan lihat kamu hamil dan melahirkan". Kenzo meminta Naya duduk di pangkuannya sambil mengecup leher istrinya itu


"Aku senang dan nggak merasa susah saat hamil. Karena aku bisa memberi keturunan yang buat kakak."


"Menderita? Kenapa Kakak jadi menderita?" tanya Naya heran.


"Menderita karena ketika kamu hamil muda dan habis melahirkan Kenzo tak bisa menyentuh kamu. Nggak bisa main kuda-kudaan dan olah raga malam," ucap Mama yang muncul dengan Arumi yang telah tidur.


"Mama, ngomongnya jujur banget.Benar pula lagi," ucap Kenzo tersenyum.


"Karena Mama tahu isi kepalamu. Kamu'kan anak mama?"


"Kakak, pikirannya mesum aja," ucap Naya malu. Mia ingin turun dari pangkuan Kenzo namun suaminya itu menahan.


"Tetap aja duduk dipangkuanku. Biar gini sebentar lagi. Aku ingin memeluk kamu lebih lama."


"Malulah, Kak. Ada Mama," bisik Naya.


"Nggak apa, Mama dulu lebih dari ini dengan Papa waktu muda dulu."


"Kok kamu tahu?" tanya Mama. Dia teringat semua itu emang sering dilakukan sebelum suaminya selingkuh.


"Aku sering intip mama di kamar kalau pintunya sedikit terbuka."


"Pantasan pikiranmu Mesum aja. Dari kecil suka ngintip!" ucap mama sambil menoyor kepala Kenzo.


"Aku juga belajar dari Papa dan Mama."


"Naya ini sarapannya jangan lupa dihabisin. Mama mau keluar, ada perlu. Mungkin sore baru pulang. Mama mau ngumpul ama teman teman mama. Apa kamu bisa ditinggalin?"


"Bisa, Ma. Pergi aja! Lagipula ada pengasuh Arumi yang bantuin, aku nggak sendiri."


"Aku juga pergi ke lokasi, agak siangan. Mama pergi aja."


"Kalau gitu Mama pamit dulu! Oh iya, kamu jangan lama lama memangku Naya, nanti junior mu bangun, sakit kepala pula," ledek Mama sambil tertawa.


"Mama!"ucap Kenzo dan Naya serempak karena kaget juga dengar ucapan vulgar mama.


"Kak, aku sarapan dulu. Takut Arumi keburu bangun."



"Naya ...," ucap Kenzo sendu.


'Kenapa, Kak?" tanya Naya kuatir melihat Kenzo menarik napas dalam seperti sedang menahan sesuatu.


"Mama benar, Naya. Junior, si adek kecil aku bangun. Kalau begini terus bisa mati. Berapa lama lagi bisa gituan, sih?"


"Dua bulan lagi," ucap Naya untuk ngerjain Kenzo.


"Ya ampun Naya, benar-benar penyiksaan, kalau sampai dua bulan lagi bisa karatan nih junior nggak di asah." Naya tertawa mendengar ucapan suaminya itu.


"Terpaksa harus mandi buat tenangin si adek kecil yang terlanjur bangun, Harus main solo lagi tampaknya!" ucap Kenzo sambil masuk ke kamar mandi.


...****************...


Bersambung