
Naya dan Kenzo sampai di apartemen sekitar pukul sembilan malam.
"Besok aja bereskan barangnya. Sekarang mandilah dulu. Itu kamarku," tunjuk Kenzo.
"Iya, Kak." Naya berjalan masuk ke kamar yang ditunjuk Kenzo. Naya membuka pintu kamar perlahan dan melihat isi di dalam kamar.
Naya kaget saat melihat di dinding kamar Kenzo, terpasang foto dirinya. Naya mendekati, mengamati, apakah penglihatan Naya tidak salah.
"Ini'kan saat pertama kali aku menunggu mas Hanif di lokasi shooting?" gumam Naya pada diri sendiri.
Kenzo yang masuk ke kamar tidak di sadari Naya karena asyik memperhatikan foto dirinya. Kenzo langsung memeluk pinggang Naya dari belakang dan mengecup pipi Naya. Wanita itu kaget dan membalikkan tubuhnya menghadap Kenzo.
"Kamu tau Naya, sejak awal aku melihatmu, aku telah jatuh cinta. Ketika aku melihatmu untuk pertama kalinya, aku menyadari apa yang akan aku lakukan dalam hidupku. Aku akan menghabiskannya untuk mencintaimu. Sempat terpikir untuk menjadi pebinor. Tapi aku sadar, jika cinta tidak boleh egois. Aku hanya mengharapkan kebahagiaan untukmu. Jika kamu bahagia dengan Hanif, aku turut gembira. Namun, jika kamu tidak bahagia, aku akan merebutmu dan biarkan aku yang akan membuat kamu tersenyum."
Kenzo menggendong tubuh mungil Naya dan mendudukan wanita itu di atas meja rias. Kenzo mengecup bibir Naya, membuat Naya membelalak matanya.
"Kenapa? Aku udah bebaskan melakukan apapun denganmu? Selama enam bulan kedekatan kita, sejak kamu mengatakan ingin menggugat Hanif, aku telah menahan untuk tidak menyentuhmu hingga halal bagiku."
"Aku belum terbiasa. Satu-satunya pria yang pernah menyentuhku hanya Mas Hanif."
Kenzo menutup mulut Naya dengan tangannya dan kembali mengecup bibir wanita itu.
"Aku tidak mau mulut ini menyebut nama pria selain diriku. Aku sangat posesif. Aku pencemburu. Aku harap kamu bisa memahaminya."
Kenzo. memeluk pinggang! Naya, untuk merapatkan tubuhnya. Saat ini tidak ada jarak antara Naya dan Kenzo. Wajah mereka beradu. Naya merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang. Naya merasa gugup, karena berada sedekat ini dengan idolanya.
Kenzo kembali menggendong Naya dan kali ini menghempaskan tubuh mungil wanita itu ke ranjang dengan pelan. Kenzo naik ke tubuh istrinya itu.
Naya memandangi wajah Kenzo yang berada di atasnya dengan perasaan gugup. Dulu waktu malam pertamanya dengan mas Hanif, Naya merasa tidak segugup saat ini.
Kenzo membuka penutup kepala Naya. Pria itu kaget hingga mulutnya terbuka melihat kecantikan istrinya yang dua kali lipat.
"Apakah ini yang dinamakan bidadari dunia. Kamu cantik banget, sayang."
"Kak Kenzo mau apa?" tanya Naya dengan suara pelan karena gugup.
"Menurut kamu aku mau apa?" tanya Kenzo. Naya hanya menggeleng menjawab pertanyaan Kenzo.
"Aku ingin kamu menjadi milikku sentuhnya malam ini. Kamu mau mandi dulu atau kita langsung saja menyatu," bisik Kenzo.
"Kak Kenzo ... apa kak Kenzo pengin melakukan itu denganku?" tanya Naya.
"Kenapa? Kamu belum siap? Tapi aku rasa tidak mungkin jika kamu belum siap. Ini pengalaman pertama bagiku. Jadi aku ingin kamu bisa sabar jika nanti aku kurang bisa memuaskan."
"Kak Kenzo bicara apa, sih!" ucap Naya. Wajahnya memerah menahan malu.
Kenzo bangun dari atas tubuh Naya. Pria itu duduk di samping tubuh mungil Naya. Perlahan membuka kancing bajunya. Naya melihat dengan mata melotot.
Ya Tuhan, tidak pernah aku bermimpi akan sedekat ini dengan kak Kenzo. Apa lagi bisa sekamar dan melihat tubuh tanpa busananya.
Kenzo gemas melihat wajah Naya yang memerah menahan malu langsung menyerang wanita itu dengan ciuman yang bertubi-tubi.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," ucap Kenzo di sela menciumi wajah Naya. Wanita itu memgalungkan tangannya di leher Kenzo dan akhirnya membalas dengan mengecup pipi suaminya.
Kenzo membuka kancing baju kebaya yang Naya kenakan dan membebaskan dari tubuh mulus wanita itu. Setelah itu Kenzo membuka bawahannya. Saat ini hanya pakaian dalam yang masih melekat di tubuh putih mulus istrinya itu.
Kenzo kembali naik ke tubuh Naya dan mengukung wanita itu dibawah kekuasaannya. Kenzo membuka perlahan seluruh kain yang melekat ditubuhnya.
Naya menarik selimut dan menutup tubuh mereka. Kenzo membuka sisa kain yang masih melekat di tubuh istrinya itu. Saat ini keduanya telah sama-sama polos.
Kenzo mengecup bibir istrinya. Ciuman itu turun ke leher jenjang Naya. Kenzo meninggalkan banyak jejak kepemilikan di tubuh istrinya itu.
"Ini yang pertama bagiku, jika kamu merasa aku menyakiti atau kamu merasa tidak puas lebih baik jujur. Karena kunci keluarga yang harmonis itu adalah kejujuran dan komunikasi yang lancar."
Naya hanya mengangguk menjawab ucapan Kenzo. Sudah enam bulan Naya tidak berhubungan badan. Dia juga merasa gugup. Apa lagi ini dilakukan dengan pria lain. Naya juga takut jika tidak bisa memberikan yang terbaik untuk suaminya.
Setelah lebih kurang setengah jam, Kenzo melakukan pemanasan dengan tubuh istrinya, pria itu mulai memasuki bagian inti tubuh istrinya. Walau Naya bukanlah gadis perawan, nyatanya Kenzo juga tetap kesulitan untuk memulai jika Naya tidak membantunya dengan mengarahkan jerry milik Kenzo ke gua miliknya.
Setelah jerry lolos memasuki gua milik Naya, kedua saling bergerak untuk memberikan kepuasan pada pasangannya.
Setelah lima belas menit, tampak Kenzo mengerang, menandakan dia akan sampai ke puncak kenikmatan.
"Aku mau sampai, kamu bagaimana?" bisik Kenzo.
"Aku juga," jawab Naya pelan.
"Kalau begitu kita keluarkan sama-sama. Semoga akan menjadi Kenzo junior secepatnya."
Akhirnya Naya dan Kenzo mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan. Setelah merasa dikeluarkan semuanya, Kenzo menjatuhkan tubuhnya ke samping Naya.
"Ya Tuhan, ternyata jauh lebih enak main berdua dari pada main tunggal. Pantas banyak pria jadi candu setelah melakukannya."
"Maksud kak Kenzo apa? Main tinggal apa?" tanya Naya dengan polosnya.
"Nanti kamu akan mengerti. Aku masih menikmati sisa permainan kita tadi. Sepuluh menit lagi kita mandi bareng aja."
Kenzo memeluk pinggang Naya, menariknya hingga kembali tubuh mereka merapat. Dikecupnya dahi Naya.
Setelah sepuluh menit, Kenzo mengajak Naya untuk mandi bareng.
"Kita mandi bareng aja ya. Biar cepat. Mata aku dah ngantuk."
"Kak Kenzo aja duluan nantinya. Aku malu kalau mandi bareng," gumam Naya, namun suaranya masih dapat di dengar Kenzo. Kenzo bangun dari tidurnya dan langsung menggendong tubuh Naya, membawa masuk ke dalam kamar mandi. Setelah hampir satu jam barulah mereka berdua keluar dari kamar mandi.
...****************...
Bersambung