
Telah satu minggu Naya bekerja di butik milik Kenzo. Minggu depan Naya dan Hanif di minta hadir buat mediasi. Namun, wanita itu tidak akan menghadiri agar sidang perceraian cepat diputuskan.
Naya menghidupkan televisi yang ada di ruang kerjanya. Sambil mencatat pakaian yang masuk dan keluar, Naya menonton acara gosip.
Perhatian Naya terpusat ke layar televisi saat ada wawancara dengan Citra, istri siri Hanif.
"Apakah benar berita yang mengatakan jika Mbak Citra telah menikah siri dengan Mas Hanif?" tanya pembawa acara itu.
"Benar. Kami menikah siri sudah hampir satu bulan," jawab Citra.
"Apa benar gosip yang beredar jika mbak Citra merebut Mas Hanif dari istri pertamanya."
"Gini aja ya,Mbak.Jika kamu mengganti pakaian lama dengan pakaian baru, itu pasti karena telah bosan atau karena ada kekurangan di baju yang lama," ucap Citra.
"Bisa jadi, Mbak Citra."
"Begitu juga dengan istri, pasti ada kekurangan pada istri pertama jika suami mencari istri baru. Rumah tangga Mas Hanif itu telah bermasalah dari awal. Mas Hanif itu tidak pernah mencintai istri pertamanya. Mereka menikah hanya karena perjodohan. Akulah cinta pertama bagi Mas Hanif."
"Jadi bagaimana nasib pernikahan mereka saat ini."
"Lagi menunggu keputusan cerai saja."
"Baiklah, Mbak Citra. Terima kasih atas waktunya. Semoga pernikahan Mbak Citra dan Mas Hanif langgeng, dan karir makin meningkat."
"Terima kasih, kembali."
Naya menarik napas dalam. Dadanya sesak mendengar semua ucapan Citra. Tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipinya.
"Perpisahaan memang tak akan pernah mudah karena sifat dasar manusia ingin memiliki bukan melepaskan. Luka akibat sebuah perpisahan selalu menjadi yang terperih diantara luka lainnya, bagaimana tidak perpisahan adalah batas dari kebersamaan yang entah kapan akan terulang," gumam Naya dengan diri sendiri.
Setelah melihat itu, Naya makin bertekat untuk melepaskan Hanif. Jika Hanif memang masih ada rasa pasti dia akan ingin tahu keadaan Naya, namun sejak Naya pergi dari rumah, tidak pernah sekalipun Hanif menghubungi ponselnya.
Kau bagai duri yang menyakiti sebegitu parah, namun bedanya luka yang diberikan olehmu tak dapat ku obati secara instan. Hatiku seakan berdarah karena menggenggammu terlalu erat. Bagaimanapun aku berusaha kau tidak akan pernah melihat ke arahku, maka kucukupkan aku dan hatiku untuk saling menyakiti. Perpisahaan memang tak akan pernah mudah karena sifat dasar manusia ingin memiliki bukan melepaskan.
...----------------...
Di sebuah apartemen, Hanif dan Citra sedang bertengkar. Hanif marah setelah melihat wawancara Citra di televisi.
"Kenapa kamu bohong, Citra?"
"Di mana bohongnya? Aku mengatakan semua yang aku ketahui."
"Kenapa kamu katakan jika rumah tanggaku ada masalah. Semuanya akan baik saja jika aku tidak terjun ke dunia hiburan ini."
"Apa kamu menyesal menikahi aku?" Tanya Citra.
"Bukannya aku menyesali apa yang telah terjadi, Citra. Aku hanya berandai."
"Sama aja. Kamu tidak ikhlas berpisah dari Naya."
Hanif menarik napas dalam. Sebenarnya dia sangat merindukan Naya, namun dia tidak menghubungi Naya untuk belajar saling melupakan dan mengikhlaskan.
"Aku minta padamu, jangan pernah menyinggung tentang masa laluku. Apa lagi sampai menjelekkan. Aku tidak ingin keluargaku dan keluarga Naya jadi salah paham melihatnya. Kami sepakat berpisah secara baik."
"Itu salah, Naya. Dia yang menginginkan perpisahan ini. Padahal udah aku katakan jika aku ikhlas menjadi prioritas kedua bagimu karena aku sadar jika aku yang datang belakangan."
"Tidak ada yang benar-benar ikhlas jika harus berbagi. Sesuatu yang awalnya utuh,jika harus dibagi pastilah hasilnya tidak akan pernah sama. Pasti ada yang lebih besar dan atau lebih kecil. Karena sifat manusia tidak pernah puas, maka wajar Naya minta pisah, karena aku mungkin tidak berbuat adil sejak pernikahan kita."
"Aku saat ini istri kamu satu-satunya. Aku ingin kamu menghargai kehadiranku. Walau aku salah karena menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kalian, namun sebagai wanita aku juga memiliki perasaan. Tolong hargai aku. Jangan hanya membela Naya."
"Aku juga minta padamu, jangan pernah menjelekkan Naya lagi. Jangan rusak hubungan baikku. Aku dan Naya sepakat berpisah secara baik."
Citra tidak menjawab perkataan Hanif, dia langsung saja melangkah pergi masuk ke kamar tanpa menghiraukan suaminya itu.
Citra tidak memiliki anak dari dua kali pernikahan. Hanif suami ke tiga bagi Citra.
Setelah kepergian Citra, Hanif tampak merenung. Teringat saat dia memutuskan harus menikah siri dengan Citra.
Hanif yang sering berperan jadi suami Citra di sinetron, merasa tidak nyaman saat menyentuh Citra. Hanif memutuskan menikahi Citra setelah mendengar cerita sedih tentang hidup yang dijalaninya.
Citra yang hidup sebatang kara, merasa tidak ada tempat mengadu. Hanif merasa kasihan sehingga memutuskan menikahi wanita itu.
Hanif tidak menyangka jika Naya juga mengalami hal yang sama dengan Citra, seminggu setelah pernikahannya kedua orang tua Naya meninggal. Hanif merasa sangat bersalah saat melihat Naya yang terluka karena sikapnya.
Walau tidak pernah menghubungi Naya, dalam diam Hanif mengawasi Naya. Hanif juga tahu jika saat ini Naya bekerja di butik milik Kenzo.
Sebagai penebus rasa bersalahnya, Hari selalu ingin tahu perkembangan Naya, untuk memastikan jika wanita itu baik-baik saja.
...****************...
Bersambung
Selamat Pagi semuanya. Mama membawa rekomendasi karya teman mama. Bisa mampir sambil menunggu novel ini update.
Bagaimana jadinya jika kau menikah dengan seorang petinggi sementara kau sendiri hanyalah seorang gadis desa biasa yang bekerja sebagai pemetik daun teh?
Itulah kisah tentang Raymond William (30tahun) dan juga Kiara Putri (24tahun). Mereka menikah karena suatu kejadian yang tidak ingin membuat keluarga Kia malu.
Pada akhirnya Kiara atau sering di sapa Kia menikah dengan Ray yang dia temukan di sungai dalam keadaan berantakan dan juga sadar dalam keadaan Amnesia (lupa ingatan).
Perbedaan kasta mereka berdua membuat Mama Ray tidak merestui pernikahan keduanya dan sengaja memasukkan orang ketiga untuk menganggu kehidupan rumah tangga Ray dan Kia.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Ray dan Kia mampu mempertahankan bahtera rumah tangga mereka berdua?