PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN

PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN
Bab Dua Puluh Sembilan. PYTD.


Hanif yang sedang melaksaakan sholat magrib, kaget saat mendengar sesuatu barang yang dilemparkan ke dinding. Pria itu berdiri setelah membaca doa.


Sejak kejadian di pesta pernikahan sepupu Kenzo, berita miring tentang Hanif dan Citra terus saja beredar. Di acara gosip, berita online, majalah dan koran.


Saat ini jadwal shooting Hanif dan Citra sedang dikurangi untuk meredakan berita miring tentang mereka terutama tentang Citra yang diberitakan sebagai pelakor dan juga anak dari pelakor.


Hanif melihat majalah dan koran berserakan di lantai. Hanif menyadari jika benda itulah yang dilempar Citra ke dinding tadi. Hanif lalu memungutnya dan mendekati Citra istrinya.


"Ada apa? Pulang langsung marah-marah," ucap Hanif.


"Ini semua karena mantan istrimu itu. Yang sok lugu. Padahal dia itu lebih bejat dariku."


"Siapa?" tanya Hanif.


"Naya-lah. Apa kamu memiliki mantan istri selain Naya? Sudah berapa kali kamu menikah?" tanya Citra dengan wajah marah.


"Aku menikah baru dua kali Citra. Aku tadi bertanya siapa, karena aku nggak berpikir Naya. Lagi pula apa hubungan Naya dengan berita yang beredar saat ini. Bukankah kamu yang membuka aib sendiri?"


"Apa maksud kamu?"


"Bukankah kamu yang mendekati Naya dan Kenzo saat pesta itu. Kamu yang memancing Kenzo marah. Seandainya kamu malam itu tidak memancing keributan, pasti sampai detik ini wartawan tidak akan pernah tahu hubungan kamu dengan keluarga-nya Kenzo."


"Jadi semua ini salahku? Aku yang selalu mencari keributan. Aku yang jahat?" tanya Citra dengan suara tinggi.


"Istighfar Citra. Kenapa harus marah. Nabi pernah bersabda: 'Sesungguhnya marah itu perbuatan setan, dan setan itu diciptakan dari api, dan sesungguhnya api itu hanya dapat dipadamkan dengan air. Karena itu, apabila seseorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudu'. Sekarang sebaiknya kami berwudu dan solat!" perintah Hanif.


Mendengar nasehat Hanif, bukannya tenang tapi Citra makin marah. Dia menendang sofa yang ada di ruang keluarga itu. Hanif lansgung mengurut dadanya melihat sikap Citra.


"Solat, solat. Bagaimana aku bisa tenang melakukan solat jika pikiran aku masih pada kejadian tadi."


Hanif menarik napas panjang. Dia harus sabar menghadapi Citra yang memiliki sifat pemarah dan temperamen. Baru Hanif tahu semua sifat Citra, sejak mereka tinggal seatap. Merubah sifat Citra itu tidaklah mudah karena sifatnya telah mendarah daging sejak dulu masih kecil.


"Apa yang terjadi tadi? Bukankah kamu pamit akan ada pemotretan buat majalah."


"Emang seharusnya saat ini aku melakukan pemotretan, tapi semua dibatalkan. Pemilik produk tidak mau aku yang menjadi model untuk iklan produknya. Itu dibatalkan saat aku telah siap untuk di potret. Aku menuntut ganti rugi juga tidak bisa karena belum tanda tangan kontrak. Dasar ba*ji*ngan" teriak Citra lagi.


"Cukup Citra. Kenapa harus marah dan berteriak. Tidak akan menyelesaikan masalah. Cobalah kamu sedikit instropeksi diri, kenapa semua ini terjadi."


"Maksud kamu ini semua salahku!" teriak Citra lagi.


"Kamu mau kemang? kamu nggak boleh pergi. Aku ini istrimu. Tempatmu harus selalu di sampingku, istrimu."


"Citra, aku harus pergi. Biar kita bisa instropeksi diri masing-masing. Lagi pula jika aku tetap di sini, aku takut akan terbawa emosi. Aku juga manusia biasa. Bisa juga terhasut bujukan setan. Itu sangat bahaya. Jika kita sama-sama terbawa emosi."


Hanif melepaskan tas yang dijinjingnya. Membiarkan tas itu berpindah tangan ke Citra. Hanif kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Citra melempar tas itu dan mengejar Hanif. Tangan pria itu ditahannya.


"Aku minta maaf. Kamu nggak boleh pergi!" ucap Citra.


"Aku hanya ingin tenangkan diri di rumahku. Aku nggak mau nanti melakukan hal yang merugikan aku atau kamu."


"Apapun alasanmu, aku tidak mengizinkan kamu pergi. Kamu hanya boleh pergi jika denganku."


"Jangan mudah egois-egois lah, Citra. Hubungan ini'kan milik kita berdua, sebaiknya kamu juga bisa mengerti dan bisa gantian. Kedewasaan antara kita sangatlah dibutuhkan. Untuk itu, sebaiknya jangan saling egois dan menang sendiri. Cobalah dengar kata-kataku. Ini semua juga demi kebaikanmu."


"Aku tadi terbawa emosi. Aku tidak bisa terima keputusan sepihak dari mereka. Apa salahku? Merebutmu dari Naya? Apakah salah jika aku mencintaimu dan kamu juga menerimaku? Bukankah di dalam islam juga tidak ada larangan buat memiliki istri lebih dari satu."


"Ini Indonesia. Poligami itu masih hal yang tabu. Belum bisa diterima semua orang. Tapi yang membuat nama kamu dan aku makin buruk karena kita publik figur. Kamu harus bisa menjaga sikap. Bukankah kamu pernah terpuruk saat kasus perceraian kamu dulu. Cobalah belajar dari pengalaman."


"Iya. Aku akan coba menahan diri. Ini juga salah Naya dan Keluarga Kenzo. Pasti saat ini mereka tertawa karena namaku banyak dibicarakan orang."


"Itu juga kesalahanmu. Jangan hanya bisa menyalahkan orang lain."


"Iya, Pak Ustad. Aku akan dengar kata-katamu. Sekarang masuklah kembali."


Hanif mengurungkan niatnya, dan kembali masuk. Pria itu mencoba menahan diri. Hanif telah bertekat akan merubah secara perlahan sikap dan sifat Citra yang pemarah dan temperamen. Walau itu tidak mudah, tapi Hanif akan mencobanya.


...****************...


Bersambung.


Selamat Pagi semuanya. Masih menunggu novel inikan?. Di bab ini mama khusus mengisahkan rumah tangga Hanif dan Citra. Semoga masih setia menunggu novel ini update setiap harinya. Terima kasih.


Sambil menunggu novel ini update, mama bawa rekomendasi novel teman mama dibawah ini.