PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN

PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN
Bab Lima Puluh. PYTD.


Syifa dan keluarga telah bersiap menyambut kedatangan keluarga Hanif. Tepat pukul delapan malam Hanif dan kedua orang tuanya sampai di rumah kediaman orang tua Syifa.


Setelah berbincang sekadar basa-basi, kedua orang Hanif mulai bicara ke inti tujuan kedatangan mereka.


"Pasti Nak Syifa udah tau maksud kedatangan kami. Sebagai orang tua Hanif kami ingin mendengar langsung dari mulut Nak Syifa, apakah bersedia menerima lamaran kami."


"Saya mohon maaf terlebih dahulu pada Abi dan Umi, jika jawaban saya nanti tidak berkenan. Setelah saya melakukan solat istikharah, saya akhirnya memutuskan untuk tidak menerima lamaran dari Mas Hanif," ucap Syifa pelan, namun mengagetkan semua yang berada di ruangan itu terutama Hanif.


"Kami tau ini semua hak kamu untuk menolak atau menerima lamaran ini. Namun, bolehkah kami tau apa penyebab kamu menolak lamaran kami. Biar kami bisa introspeksi diri menuju yang lebih baik."


"Maaf, Abi, Umi. Tidak ada yang salah. Mas Hanif pria yang baik, cuma aku belum siap berumah tangga untuk saat ini."


"Syifa, kemarin saat Ibu bertanya, kamu masih menjawab mau menikah dengan Hanif. Kenapa sekarang kamu berubah. Jangan buat ayah dan ibu malu, Nak," ucap Ibu Syifa.


"Maaf, Bu. Terus terang aku belum siap berumah tangga dengan Mas Hanif."


"Boleh aku tau apa penyebabnya kamu belum siap berumah tangga denganku?" tanya Hanif.


"Aku belum siap jika suatu saat Mas Hanif ingin berpoligami. Aku takut nanti akan melakukan hal yang sama dengan Naya, meminta pisah. Aku ingin menikah sekali seumur hidup."


"Syifa, tidak ada yang satu orangpun yang menginginkan perceraian. Namun, semua itu atas kehendak Tuhan. Semua yang kita jalani ini telah di atur, kita semua cuma menjalani saja."


"Aku mengerti, Mas. Tapi ketakutan itu pasti ada pada setiap manusia. Apa lagi setelah aku melihat gosip dan berita mengenai kamu dan mbak Citra. Aku takut semua juga akan aku alami."


"Aku mengerti sekarang, jadi kamu berubah pikiran setelah melihat semua berita tentang aku dan Citra. Diakui semua itu memang salahku, aku mengambil keputusan tanpa mengatakan apapun pada Naya. Itu kesalahanku yang tidak bisa aku maafkan. Aku sendiri marah pada diriku, kenapa semua itu pernah aku lakukan. Namun hidup terus berjalan, tidak ada gunanya menyesali semua yang terjadi. Lebih baik memperbaiki diri untuk lebih baik kedepannya."


"Syifa, Ayah dan Ibu telah mendengar semua itu dari Abinya Hanif. Saat ini Hanif telah memutuskan tidak lagi berprofesi sebagai aktor. Dia akan kembali berdagang dan mvantu Abi-nya berdakwah. Jika kamu jadi istrinya, kamu bisa sekalian membantu Hanif berdakwah," ucap Ayah Syifa.


"Ayah, beri aku waktu untuk berpikir dan lebih mengenal Mas Hanif. Itu juga untuk memantapkan hatiku. Jika memang kami ditakdirkan berjodoh, pasti Allah akan mendekatkan kami. Seperti yang Mas Hanif katakan, bukankah jodoh itu telah diatur Allah. Jadi sejauh apapun kita pergi, jika berjodoh pasti akan bertemu dan sedekat apapun kita serta sekuat apapun kita menggenggam jika bukan jodoh pasti akan lepas."


"Baiklah, Nak Syifa. Sebagai wanita Umi mengerti dengan kekuatiran kamu. Kami akan beri kamu waktu satu bulan lagi untuk berpikir. Jika hati kamu belum mantap juga, mungkin itu berarti kalian belum jodoh."


Setelah cukup lama berbincang, akhirnya Hanif dan kedua orang tuanya pamit. Tampak kekecewaan di wajah Hanif. Dia berharap jika Syifa bisa menerima lamarannya, namun ternyata wanita itu menolak. Mungkin ini salah satu ujian bagi Hanif, dan juga balasan atas perbuatannya dulu yang pernah menyakiti Naya.


...---------------...


Sementara itu Kenzo dan Naya saat ini sedang berada di salah satu stasiun televisi sebagai bintang tamu. Kenzo menjawab banyak pertanyaan tentang Film terbarunya yang akan tayang.


"Pertanyaan selanjutnya mungkin agak pribadi, di mana anda kenal Naya pertama kali. Seperti yang diketahui, jika Naya ini mantan istri Hanif, lawan main anda di sinetron yang tenar itu."


Kenzo memandangi istrinya itu sambil tersenyum. Tadi Naya sudah menolak untuk ikut karena takut pertanyaan ini yang akan muncul, namun Kenzo memastikan jika semua pasti akan dapat diatasi.


"Aku mengenal Naya saat mengantar Hanif yang saat itu masih berstatus suami Naya."


"Apakah saat itu anda telah menyukai Naya?"


"Suka itu maknanya luas.Terus terang saat pertama melihat Naya aku memang telah menyukainya ,karena penampilan yang sederhana tapi elegan. Tepatnya kagum, karena keserdehanaannya."


"Maaf, Mbak. Itu udah sangat pribadi. Saya tidak bisa menjawabnya. Apakah tidak ada pertanyaan lagi tentang karir ku saja? Jika aku mengatakan semua yang Mbak tanyakan itu sama saja aku membuka aib orang."


"Maaf, jika anda keberatan. Baiklah kita ganti saja topiknya."


"Sebelum Mbak melanjutkan pertanyaan lain, perlu diketahui jika jodoh itu rahasia Tuhan. Begitu juga tentang jodohku yang ternyata Naya. Allah telah mencatat takdir setiap makhluk 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi." (HR Muslim). Buya Yahya juga mengatakan, dalam lauhul mahfudz tidak hanya tertulis soal jodoh saja, tapi juga hal-hal lainnya seperti siapa yang jadi ahli surga hingga mendapat anak saleh atau tidak. Semua rentetan kejadian di dunia ini telah tertulis di lauhul mahfudz. Kita hanya menjalankan saja."


Pembawa acara itu akhirnya hanya bertanya tentang karir Kenzo setelah pria itu memberikan sedikit pencerahan.


...----------------...


Satu bulan telah berlalu sejak lamaran pertama Hanif. Selama satu bulan ini, Hanif dan Syifa telah beberapa kali bertemu. Wanita itu ingin mengenal pribadi Hanif lebih dekat lagi.


Sementara itu Citra, tampak mulai merubah penampilannya. Mantan istri Hanif itu tampak mulai menggunakan hijab.


"Kak Kenzo, itu seperti Mbak Citra."


"Emang itu Citra."


"Penampilannya telah berubah. Cantik banget sekarang."


Naya dan Kenzo yang sedang berjalan di mal melihat Citra sedang memilih pakaian di butik busana muslim. Citra yang merasa diperhatikan mendongak kepalanya dan tersenyum melihat Naya. Wanita itu menghampiri Naya dan Kenzo.


"Selamat sore. Lama juga nggak bertemu."


"Selamat sore, Mbak Citra. Apa kabar?"


"Seperti yang kamu lihat. Saat ini aku sedang belajar untuk mengubah diri, baik sikap atau penampilan. Semoga ku istiqomah."


"Aamiin. Mbak Citra tambah cantik dengan penampilan begini," ucap Naya lagi.


"Terima kasih, kamu juga tambah cantik. Udah berapa bulan?" tanya Citra sambil mengusap perut buncit Naya.


"Sudah delapan bulan."


"Sebentar lagi lahiran."


Saat mereka sedang berbincang bertiga, mereka dikejutkan dengan suara sapaan.


"Selamat sore semuanya," sapa orang itu. Naya, Citra dan Kenzo melihat ke arah sumber suara.


"Mas Hanif," ucap Naya dan Citra serempak. Ternyata yang menyapa Hanif. Pria itu bersama Syifa.


...****************...


Bersambung