PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN

PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN
Bab Empat Puluh Delapan. PYTD.


Kenzo mengecup wajah istrinya itu beulang kali agar terbangun. Kenzo ingin makan siang ditemani Naya. Pria itu baru saja pulang dari mesjid menunaikan solat jum'at.


Naya membuka matanya setelah Kenzo menggigit sedikit bibirnya. Istrinya tampak cemberut.


"Kamu sudah solat?" tanya Kenzo dan kembali mengecup bibir mungil Naya.


"Udah, Kak. Aku tidur setelah solat."


"Maaf, aku ganggu tidurnya. Aku lapar, mau makan ditemani kamu."


"Kakak nggak ke lokasi lagi?"


"Nggak, besok aku ke salah satu stasiun tivi sebagai bintang tamu. Aku udah izin untuk membawa kamu. Dandan yang paling cantik agar semua tahu kalau aku memiliki istri bidadari dunia."


"Banyak artis yang lebih cantik dariku, Kak."


"Tapi bagiku kamu yang tercantik," ucap Kenzo kembali mengecup pipi istrinya itu.


Kenzo tidak pernah puas mencium pipi istrinya setiap berdekatan. Apa lagi sejak kehamilan Naya makin membesar, pipi istrinya itu bertambah chubbi.


"Mau aku gendong ke dapur?"


"Nggak, aku bisa jalan." Kenzo tersenyum melihat istrinya yang cemberut. Dia senang sekali meledek Naya.


Setelah makan, Kenzo mengajak Naya ke kamar kembali. Kenzo menghidupkan televisi dan kebetulan ada FTV yang pria itu perankan sedang tayang. Sebenarnya itu FTV lama yang di ulang penayangannya. Saat melihat Kenzo mengecup pipi lawan mainnya, Naya langsung memandangi Kenzo dengan mata melotot, membuat Kenzo tersenyum.


"Senang banget mencium pipi anak gadis orang."


"Sayang, jangan cemburu. Itu FTV lama. Saat ini yang ada dihatiku cuma kamu. Lihat aja kalau yang baru, aku nggak ada adegan mengecup lawan main. Aku udah minta pada sutradara. Paling pelukan aja," ucap Kenzo dengan cengengesan.


"Pelukan juga nggak boleh, Kak. Aku mau Kak Kenzo berhenti aja."


"Sayang, itu hanya peran. Aku udah meninggalkan sinetron yang kejar tayang demi kamu. Aku nggak mau waktuku banyak dihabiskan di lokasi shooting. Jika aku masih mengambil FTV, itu untuk modal renovasi rumah. Aku ingin memberikan tempat tinggal yang lebih layak dari apartemen ini untuk kamu dan calon bayi kita ini."


"Aku takut ...." Naya tidak melanjutkan ucapannya.


"Aku bukan Hanif. Bukannya aku ingin mengatakan jika diriku ini lebih baik dari Hanif. Namun, perlu kamu bawahi jika setiap pria itu memiliki prinsip berbeda. Mungkin Hanif merasa mampu berbagi cinta, tapi bagiku cinta itu tidak bisa dibagi. Jika dibagi pastilah tidak akan rata dan utuh." Kenzo mengecup pipi istrinya.


"Saat itu aku telah bersuami," Ucap Naya.


"Walau kamu telah bersuami. Dalam hati ini berkata, aku akan rebut istrimu. Jahatnya aku, saat tau Hanif mulai dekat dengan Citra, aku malah senang karena peluang diriku untuk merebut kamu dari Hanif makin besar."


"Jadi, Kak Kenzo sempat berpikir jadi pebinor?"


"Bukan sempat berpikir tapi emang aku ini udah jadi pebinor. Aku rebut kamu dari Hanif'kan, saat tau kamu tidak bahagia."


"Pebinor yang tidak pernah aku rindukan dan harapkan hadir dalam rumah tanggaku dulu."


"Tapi jika saat ini, kamu masih tidak merindukan pebinor ini."


"Aku sangat merindukannya," ujar Naya memeluk Kenzo.


"Kamu tau, Sayang. Aku selalu berpegang dengan kata,'cintailah dia dari kejauhan agar terjaga kehormatan. Cintailah dia dalam kesederhanaan dan keikhlasan. Namun, jika belum mampu, maka cintailah dia dalam diam, cukup Allah saja yang tahu'. Dengan berpegang dengan kata mutiara itu, aku selalu berdoa agar aku dijodohkan dengan wanita seperti kamu. Akhirnya doaku didengar."


"Mungkin jodoh tidak datang tepat waktu, tapi jodoh akan datang di waktu yang tepat. Jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang sering kamu sebut dalam doamu, mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang diam-diam sering menyebut namamu dalam doanya. Seperti halnya aku, mungkin karena Kak Kenzo yang sering menyebut aku dalam doa sehingga akhirnya kita dipertemukan dalam ikatan pernikahan."


"Karena pada waktunya, tanpa kau rencanakan pun, jodoh tak akan pernah tertukar. Kamu itu emang jodohku, walau awalnya kamu harus jadi milik orang lain. Aku ingin bersama kamu hingga maut memisahkan, dan kita dipertemukan kembali di surga." Naya memeluk erat suaminya itu. Naya tidak pernah berpikir akan hadir dua pria dalam hidupnya. Namun, dia tidak pernah berhenti mengucapkan syukur karena dijodohkan dengan Kenzo, pria yang sangat dicintainya.


Seperti halnya rezeki dan juga kematian, jodoh merupakan takdir Allah yang tidak pernah dapat ditebak kedatangannya, namun telah diatur oleh-Nya.


Sering kali kita melihat orang melakukan segala hal untuk menjemput jodohnya, namun berakhir dengan kegagalan. Ada juga yang harus bertualang ke sana kemari, padahal jodoh berada di depan mata.


Allah sudah menetapkan jodoh untuk seluruh umat-Nya, hal tersebut tergambar dalam surat Az Dzariyat ayat 49 yang artinya: "Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah."


Dengan begitu, bersabarlah dalam penantian jodoh, tetap berusaha dan selalu memohon yang terbaik dari Allah SWT setiap kali melakukan ibadah.


Selain itu, jika kamu ingin mendapatkan jodoh yang baik dari Allah, kamu juga harus menjadi pribadi yang lebih baik dan rajin beribadah kepada-Nya.


...****************...


Bersambung


Dikutip dari Google