PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN

PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN
Bab Dua Puluh Lima. PYTD.


Naya menunggu kedatangan Kenzo di depan kost-nya. Wanita itu takut terjadi fitnah jika ada yang melihat pria datang ke kost.


Tidak berapa lama menunggu, mobil Kenzo tiba. Mobil itu memasuki halaman Kost Naya. Kenzo turun dari mobil dan menghampiri Naya.


"Udah siap?" tanya Kenzo.


"Udah."


"Kita berangkat langsung aja, ya?"


"Boleh. Lagi pula nggak ada yang kita tunggu'kan?"


Kenzo mengajak Naya masuk ke mobil. Kenzo meminta Naya duduk di kursi belakang atau penumpang. Kenzo duduk di depan dengan supir-nya. Kenzo sengaja mengajak supir agar tidak ada gosip jika mereka berdua di mobil.


Kenzo meminta supir menjalani mobil dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan, tidak ada yang bicara. Hanya diam. Kenzo yang akhirnya membuka suara.


"Kamu udah pernah ke puncak?" tanya Kenzo membuka borokan.


"Yang aku ingat, belum pernah. Nggak tau kalau waktu kecil."


"Nanti kita langsung aja ya. Makan siangnya di villa aja."


"Terserah kak Kenzo, aku ngikut."


Kenzo meminta supir untuk langsung menuju puncak. Sampai di villa keluarga sekitar pukul 12 siang. Kenzo mengajak Naya ke tempat keluarganya berkumpul.


Dalam sebuah ruangan telah berkumpul beberapa orang. Mereka serempak memandangi Kenzo dan Naya. Kenzo lalu mmegenalkan Naya dengan seluruh keluarganya.


"Kenalkan ini, Naya," ucap Kenzo dengan sedikit gugup.


"Jadi ini yang namanya Naya?" ucap seorang ibu. Wajahnya tampak masih sangat cantik walau umur telah paruh baya.


Naya menyalami seluruh keluarga Kenzo satu persatu dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya. Wanita paruh baya itu yang ternyata ibunya Kenzo meminta Naya duduk.


"Silakan duduk, pasti masih capek," ucap Mama Kenzo.


"Terima kasih, Tante."


"Karena semua udah berkumpul, bagaimana kalau kita segera makan siang," ujar Alana.


Semua anggota berdiri menuju dapur. Naya mendekati Kenzo dan pamit untuk melaksanakan solat zuhur dulu sebelum makan siang. Kenzo mengantar Naya pada salah satu kamar. Setelah itu Kenzo menyusul keluarganya. Ternyata mereka berkumpul di taman belakang villa.


Di antara semua villa yang ada di lokasi, Villa ini yang terbesar. Terdiri dari enam kamar tidur. Itulah sebabnya selalu dijadikan tempat berkumpul keluarga.


"Mana, Naya?" tanya Mama melihat Kenzo jalan sendiri.


"Naya solat, Ma. Nanti kalau makan dulu, takut ketinggalan waktu solatnya lama."


"Beruntung banget yang dapatin, Naya," ucap Kak Alana dengan tersenyum ke arah Kenzo.


"Apaan sih, Kak?" tanya Kenzo. Pria itu duduk di samping mama-nya. Kenzo memeluk lengan wanita itu.


Kenzo merupakan anak bungsu di keluarga. Dua orang kakaknya telah menikah dan tinggal di luar negeri mengikuti suami. Sejak menggeluti dunia hiburan, Kenzo membeli apartemen dan tinggal sendirian di sana. Kenzo hanya pulang saat ada acara keluarga seperti ini.


Satu persatu keluarga mengambil makanan yang disediakan. Duduk di mana mereka suka. Ada yang di atas ayunan, dekat kolam, ataupun duduk di atas rumput. Mereka tidak makan di satu meja saja.


"Kamu nggak makan?" tanya Mama.


"Aku tunggu Naya."


"Kamu suka dengan wanita itu?"


"Pertanyaan apa ini? Naya itu masih ada suami, namun sedang dalam proses perceraian."


"Mama bukan bertanya tentang statusnya. Mama tanya, apa kamu suka Naya?"


"Setiap pria yang telah mengenalnya, pasti menyukai wanita seperti Naya."


"Bukan karena dia mirip Syifa?" tanya Mama.


"Aku nggak tahu, Ma. Kenapa Mama tanyakan itu?"


"Saat melihat Naya tadi, Mama langsung terbayang Syifa. Mama tau, awal kamu tertarik dengan Naya pasti karena sikap dan wajahnya yang begitu mirip Syifa. Ingat Kenzo, jika kamu menyukai Naya hanya karena wajahnya yang begitu mirip, lebih baik kamu lupakan Naya. Jangan jadikan Naya hanya pelarian."


"Tapi Alana mengatakan jika kamu sering cerita tentang Naya. Kamu sedikit terobsesi ingin memiliki karena wajahnya mirip Syifa'kan?"


"Ma, aku udah lupakan Syifa. Buat apa mengenang masa lalu. Hidup itu terus berjalan. Mungkin kebetulan saja Naya mirip Syifa. Mungkin aku menyukai wanita yang lembut seperti sifat mereka berdua."


"Jangan sampai kamu mendekati Naya hanya karena wajah dan sifatnya yang mirip Syifa."


Naya yang baru selesai solat bergabung di taman belakang. Kenzo melambaikan tangan saat Naya mencari keberadaannya. Naya tersenyum dengan mama Kenzo dan duduk di sebelah wanita itu.


"Udah selesai solatnya?"


"Udah, Tante."


"Kalau gitu kita makan. Kenzo sengaja menunggu kamu."


"Aku ambilkan buat kamu," ucap Kenzo. Pria itu berdiri dari duduknya.


"Biar aku ambil sendiri aja. Tante mau aku ambilkan."


"Biar Kenzo aja yang ambilkan buat Tante. Terima kasih ya."


Kenzo, mama dan Naya makan di kursi taman yang menghadap ke sawah. Di belakang villa memang banyak terdapat sawah dan kebun milik warga setempat. Tempatnya yang asri membuat keluarga Kenzo sangat menyukai tempat ini.


"Naya, kamu tinggal dengan siapa?"


"Aku kost, Tante."


"Orang tua ada di kampung?"


"Bukan, Tante. Kedua orang tuaku telah tiada."


"Maaf, Naya. Tante nggak tau."


"Nggak apa, Tante."


"Tante dengar saat ini kamu lagi dalam proses perceraian dengan suamimu. Apa kamu masih tinggal seatap?"


"Aku kost sendiri. Jika kami masih tinggal satu atap, menurutku janggal. Bukankah kami akan berpisah juga."


"Maaf ya. Bukan Tante ingin tau dan ikut campur."


"Nggak apa, Tante. Nanti juga semua akan tau jika aku dan suami berpisah."


"Apa kamu mau tinggal dengan Tante?" tanya Mama Kenzo.


Naya hanya diam, belum menjawab pertanyaan Mama Kenzo. Naya masih berpikir untuk menjawabnya. Karena Naya tidak ingin jawabannya nanti akan menyinggung Mama Kenzo.


"Maaf Tante, apa Tante tinggal sendiri?"


"Iya, Naya. Tante di rumah hanya ditemani dengan tiga orang pekerja."


"Papa Kenzo udah meninggal?" tanya Naya dengan suara pelan.


"Papa bukan meninggal dunia, tapi meninggalkan kami. Setelah memutuskan menikah lagi, Papa memilih tunggal dengan istri mudanya," jawab Kenzo.


"Maaf, Tante."


"Nggak apa, Naya. Tante udah mengikhlaskan semuanya. Tidak ada gunanya mempertahankan orang yang tidak ingin menetap di hati kita. Lepaskan dan relakan dia pergi. Percuma kita berjuang, jika yang kita perjuangkan tidak ingin bersama. Berjuang sendiri itu tidak akan menghasilkan apa-apa."


"Papa meninggalkan mama di saat aku masih kecil. Aku saat itu masih berusia sembilan tahun. Aku yang masih membutuhkan perhatian dari kedua orang tua menjadi sedikit nakal. Aku marah karena Papa lebih memilih tinggal dengan wanita lain dan anaknya dari wanita itu daripada denganku," ucap Kenzo dengan lirih.


"Bukan sedikit nakal. Namun, saat remaja Kenzo pernah salah jalan. Sampai bertemu dengan seorang gadis yang baik. Kenzo berubah karena gadis itu."


"Pasti dia wanita yang istimewa sehingga Kenzo bisa berubah."


"Kamu juga istimewa. Tante suka dengan sikapmu. Apakah kamu mau tinggal dengan Tante?" tanya Mama Kenzo lagi.


Naya tersenyum menanggapi pertanyaan Mama Kenzo. Sebenarnya Naya ingin menemani Mama Kenzo, tapi dia takut nanti akan terjadi kesalahpahaman. Karena proses cerainya belum ada keputusan dari pengadilan.


...****************...


Bersambung