
"Apa kabar, Mas Hanif?" tanya Citra dengan lembut. Tampak sekali jika Citra telah berusaha sekuat hatinya untuk merubah sikapnya. Tidak ada Citra yang bicara kasar.
"Alhamdulillah, sehat. Kamu apakabar. Kamu tambah cantik dengan memakai hijab seperti itu," ujar Hanif.
(Visual citra)
"Terima kasih, Mas. Aku ingin buktikan jika aku emang ingin berubah. Bukan karena siapa-siapa tapi niat dari hati ini. Apakah ini calon istri, Mas?" tanya Citra menunjuk Syifa.
"Jika berjodoh. Namun itu belum pasti. Syifa masih belum mau terikat dengan pernikahan.Doakan saja aku dan Syifa emang ditakdirkan bersama," ucap Hanif.
"Dari pada kita mengobrol di sini, lebih baik ke kafe itu. Lebih leluasa," ucap Kenzo mengajak semuanya.
"Kamu pesan apa, Sayang?" tanya Kenzo dengan suara lembut begitu mereka telah duduk di kafe.
"Aku boleh minta es teler?" tanya Naya. Dari kemarin dirinya pengin sekali itu.
"Bolehlah, tapi jangan sering minum es. Kalau kamu sakit, bayi kita juga pasti merasakan. Es teler satu, terus apa lagi?" tanya Kenzo.
Kenzo meminta yang lain juga pesan makanannya. Setelah makanan dihidangkan, barulah mereka saling mengobrol.
"Kamu dan Syifa kapan menikahnya?" tanya Kenzo.
"Belum pasti kapannya. Karena Syifa masih ragu untuk melangkah," jawab Hanif.
"Kalian pasti mengira aku dan Syifa emang janjian jalan berdua, padahal tadi kami tidak sengaja bertemu di toko buku," ucap Hanif selanjutnya.
"Owalah, dikira emang sengaja. jalan bareng," ujar Citra.
Ketika makanan yang dipesan telah siap, Kenzo mempersilakan semua makan."Silakan, ngobrolnya sambil makan. Kamu mau apa lagi, Sayang? Biar aku yang ambil!" tanya Kenzo dengan Naya.
"Nanti aja, Kak. habiskan ini dulu."
"Kenapa diam aja, Syifa?" tanya Naya melihat Syifa yang hanya diam.
"Aku nggak tau harus ngomong apa?"
"Ngobrol apa aja. Misalnya tentang pertunangan kamu dan Hanif," ujar Kenzo.
"Aku telah menolak lamaran Mas Hanif."
"Kenapa?" tanya Citra yang penasaran dan masih ada rasa dengan Hanif.
"Seperti kata Mas Hanif tadi. Aku belum siap menikah."
"Kamu cantik dan Mas Hanif juga ganteng, latar belakang pendidikan sama. Mungkin kalian berdua jodoh yang tepat," gumam Citra. Namun, suaranya masih dapat didengar.
(visual Syifa)
"Terima kasih Mbak Citra. Mbak, apa aku boleh bertanya?" tanya Syifa.
"Tentu saja, apa yang ingin kamu ketahui."
"Maaf Mbak, jika pertanyaan aku ini agak pribadi."
"Jika aku bisa menajawabnya akan aku jawab."
"Kamu mau tau apa?" tanya Citra lagi.
"Apakah Mbak Citra masih mencintai Mas Hanif dan ada keinginan untuk kembali."
"Maaf Syifa, sebelum Citra menjawab pertanyaan kamu, aku dan Naya pamit dulu. Kami akan kembali setengah jam lagi. Kalian bisa mengobrol bertiga. Naya minta es krim. Aku dan Naya pamit dulu."
"Baiklah, Kak."
Kenzo memabawa Naya pergi. Alasannya Naya minta es krim itu sebenarnya tidak benar. Kenzo hanya tidak ingin mencampuri urusan pribadi mereka. Lagi pula, Kenzo tidak mau nanti Syifa bertanya sesuatu mengenai hubungan Naya dan Hanif di masa lalu. Bagi Kenzo semua itu telah dikubur. Dia tidak suka jika ada yang mengungkit kisah Hanif dan Naya. Sejujurnya Kenzo cemburu mengingat jika istrinya Naya pernah jadi milik orang lain, bukan hanya dirinya seorang.
"Kenapa kak Kenzo tadi ngomong kalau aku minta es krim. Emang masih boleh makan es lagi?"
"Nggak boleh. Itu hanya alasan aku saja. Aku nggak mau nanti Syifa bertanya tentang kamu dan Hanif. Dari awalpun aku sebenarnya malas bersama mereka. Aku cemburu bila mengingat kamu pernah berada dalam pelukan Hanif dulunya," ucap Kenzo.
Kenzo mengajak Naya melihat baju yang rencananya mau di beli tadi. Kenzo memilihkan beberapa baju buat Naya. Hasilnya yang makin membesar membuat banyak pakaian Naya sempit.
(Visual Naya dan Kenzo)
Setelah membeli baju buat Naya, Kenzo mengajak istrinya duduk di bangku untuk pengunjung mal. Kenzo membelikan Naya kentang goreng dan air mineral. Kenzo tahu istrinya paling doyan dengan kentang goreng.
"Ini buat wanita tercintaku."
"Kak Kenzo kok tau kalau aku pengin kentang."
"Dari mata kamu aku tau apa aja yang kamu inginkan. Kamu bisa lihat nanti saat kita pindah ke rumah baru, setelah baby lahir. Semua perabot yang ada di rumah baru kita itu sesuai seleramu. Walau aku beli bukan denganmu."
"Kak Kenzo curang, kok aku nggak boleh lihat rumah itu."
"Itu kejutan. Rumah itu hadiah untuk kelahiran putri kita. Yakinlah kamu pasti suka."
"Aku sayang kakak," ucap Naya pelan karena malu jika didengar orang lain. Namun, Kenzo membalss ucapan Naya dengan mencium pipi Naya dan mengatakan," i Love you," dengan suara lumayan keras. Muka Naya memerah menahan malu. Melihat pipi istrinya memerah menahan malu, Kenzo kembali mengecupnya.
"Kakak, malu dilihat orang."
"Biar aja. Biar semua tau jika kamu itu istri yang paling aku cintai. Tak ada celah buat wanita lain mencoba masuk ke hati ini." Naya tersenyum mendengar ucapan suaminya itu.
Sementara itu di kafe tempat Syifa, Hanif dan Citra berada, mereka masih berbincang mengenai perasaan Citra dan Hanif.
Citra memandangi wajah Hanif tanpa kedip. Pria itu masih sama saat pertama dilihatnya. Masih sangat tampan. Sejak pertama melihat Hanif, wanita itu memang telah jatuh cinta. Itulah mengapa Citra berusaha membuat Hanif menikahinya. Diakui Hanif memang tampan dan memiliki karisma yang membuat wanita pasti akan menyukainya saat pertama melihat.
(visual Hanif)
"Kamu benar ingin tahu perasaan aku saat ini dengan Mas Hanif. Apa kamu yakin tidak akan marah atau cemburu?" tanya Citra.
Syifa menganggukkan kepala ragu. Sebenarnya Syifa takut jika jawaban yang didengarnya akan membuat dia sakit hati.
...****************...
Bersambung