
Naya terbangun saat mendengar suara ponselnya berdering. Naya melihat nama Syifa yang tertera. Naya menekan tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Assalamualaikum," ucap suara di seberang sana.
"Waalaikumsalam," jawab Naya.
"Apa kabar, Naya."
"Seperti tadi yang kamu lihat, alhamdulillah aku sehat."
"Apa aku boleh silaturahmi ke rumah kalian?"
"Boleh aja. Silakan datang, tapi saat ini kak Kenzo tidak berada di rumah?"
"Kak Kenzo kerja? Aku dengar dari teman, Kak Kenzo saat ini udah jadi aktor terkenal. Boleh aku tau di mana lokasi shooting-nya saat ini."
"Maaf, Syifa. Buat apa kamu ingin tau di mana lokasi Kak Kenzo kerja?"
"Jangan salah sangka dulu, Naya. Aku hanya sekedar bertanya."
"Bagaimana aku nggak akan salah sangka? Seorang wanita muda, masih gadis menanyakan tentang suamiku. Aku rasa semua wanita pasti akan berburuk sangka jika jadi aku."
"Naya, apa Kak Kenzo ada cerita tentang aku?"
"Tidak pernah. Kak Kenzo sering mengatakan, kemarin adalah kenangan, esok adalah apa yang akan dicapai, hari ini adalah kenyataan yang harus dijalani dengan sebaik-baiknya. Masa lalu memang menyimpan banyak kenangan, namun itu bukan alasan untuk tidak terus melangkah ke depan. Jika kamu ingin bahagia, jangan biarkan masa lalu mengusikmu. Kamu boleh melihat ke belakang, namun jangan membawanya kembali. Simpan masa lalumu sebagai pelajaran. Semakin kau membawanya, semakin berat untuk menuju masa depan."
"Kamu pasti mengira aku ingin merebut Kenzo. Aku hanya ingin menyambung kembali tali silaturahmi yang terputus. Kami pernah dekat, tapi itu dulu. Aku juga sadar tidak mungkin hati kita akan tetap sama setelah berpisah lama. Aku harap kamu jangan curiga dan cemburu."
"Syifa, coba kamu menjadi aku! Apakah kamu tidak akan curiga jika ada seorang wanita bertanya tentang suamimu?" tanya Naya sekali lagi.
"Jika aku ingin merusak hubungan kamu dan Kenzo, aku nggak akan bertanya denganmu. Pasti aku akan datangi Kenzo langsung ke lokasi shooting."
"Maaf, sekali lagi aku tidak bisa menerima ada seorang wanita bertanya tentang suamiku. Jika kamu ingin mengatakan aku pencemburu, jawabnya memang aku cemburu. Aku nggak suka ada wanita bertanya tentang suamiku. Aku harap kamu mengerti. Aku rasa pembicaraan ini sudah cukup. Ada yang ingin kamu katakan lagi."
"Aku rasa cukup, Naya. Aku mohon maaf karena membuat kamu jadi curiga. Percayalah aku hanya sekedar silaturahmi"
Syifa lalu menutup sambungan ponselnya setelah mengucapkan kata salam.
...----------------...
Naya menunggu kepulaangan Kenzo dengan gelisah. Jam telah menunjukan pukul sebelas malam, namun suaminya itu belum juga pulang. Hingga Naya tertidur di sofa.
Jam satu malam, Kenzo baru Pulang. Pria itu langsung mendekati Naya, begitu melihat istrinya terlelap di sofa.
Kenzo menggendong tubuh mungil istrinya dan membaringkan secara perlahan. Ketika Kenzo akan pergi untuk mengganti pakaiannya, tangan pria itu di tahan.
"Kak Kenzo ...," panggil Naya pelan. Kenzo duduk di tepi ranjang melihat istrinya telah bangun.
"Kenapa tidur di sofa? Aku udah katakan akan pulang malam," ucap Kenzo sambil mengusap pipi istrinya.
"Kenapa Kakak pulang lama banget?"
"Banyak pengambilan gambar yang harus diulang. Jadi shooting berjalan lama."
"Aku ... aku pikir ...," ucap Naya terbata. Tangisnya udah pecah. Kenzo memeluk Naya. Istrinya sejak seminggu lalu memang tambah manja, mungkin karena hamil muda.
"Aku pikir kamu jalan dengan Syifa."
Mendengar ucapan Naya, Kenzo melepaskan pelukannya. Kenzo memandangi wajah istrinya. Di hapus air mata Naya. Wanita itu bangun dari tidurnya dan duduk dekat suaminya.
"Kenapa masih berpikir aku kembali dengan Syifa? Aku udah katakan, jika aku nggak akan kembali dengan Syifa. Pria apa aku, di saat istri sedang mengandung, pergi jalan dengan wanita lain."
"Seandainya Syifa yang mengajak?" tanya Naya masih dengan terisak.
"Naya, percayalah denganku. Atau besok kamu kembali ikut aku shooting. Aku nggak akan meninggalkan kamu."
"Aku takut," ucap Naya memeluk suaminya itu.
"Kenapa kamu berpikir itu terus. Kamu nggak percaya denganku?" tanya Kenzo lagi.
"Aku takut kehilangan untuk kedua kalinya. Luka yang pertama saja belum kering, jika ditambah luka baru, pasti akan terasa sangat sakit. Bukannya aku nggak percaya kamu. Jika wanita itu mengejar terus, aku takut akhirnya kamu luluh."
"Sekali lagi aku tanyakan, kenapa kamu berpikir Syifa akan mengejar aku? Dia bisa mencari pria lain."
"Bagaimana aku tidak berburuk sangka, Syifa langsung menanyakan keberadaan kamu."
"Syifa menghubungi kamu?" tanya Kenzo. Naya menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Kita harus bertemu bertiga. Kamu buat janji dengan Syifa. Semua harus dijelaskan. Agar kamu tidak berprasangka buruk terus karena itu tidak baik untuk kesehatan kamu dan bayi kita."
Naya memeluk Kenzo dan tangisnya kembali pecah. Kenzo mengusap punggung istrinya untuk menenangkan Naya.
"Sini ponsel kamu. Aku kirim pesan untuk Syifa, kita bertemu bertiga."
Naya memberikan ponselnya. Kenzo mengetik sesuatu dan setelah itu memberikan ponsel pada Naya.
"Kamu udah makan?" tanya Kenzo sambil menghapus air mata Naya.
"Belum," jawab Naya pelan.
"Astaga, Naya. Kamu ini sama saja menyiksa diri. Aku masak omelet telur dulu. Harus makan."
"Udah tengah malam. Pagi aja makannya."
"Menunggu pagi itu masih lama. Ada 6 jam lagi. Mending makan dulu. Ini terakhir kali aku tau kamu nggak makan. Jangan sampai terulang lagi. Berarti vitamin juga nggak kamu minum."
Naya kembali menggelengkan kepalanya. Tampak Kenzo menarik napas dalam. Mau marah, dia tidak bisa. Kenzo selalu teringat pesan mama jika tingkah wanita hamil memang kadang mengesalkan.
Kenzo mengajak Naya ke dapur dan meminta istrinya makan. Kenzo harus bertemu Syifa agar istrinya tidak curiga terus.
...****************...
Bersambung.
Selamat Pagi Semuanya. Happy weekend. Semoga semua bahagia. Lope-lope sekebon jeruk. 😍😍😍😍
Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.