PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN

PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN
Bab Dua puluh Tujuh. PYTD.


Naya dan Kenzo berjalan memasuki tempat pesta berlangsung bersama dengan Mama-nya Pesta berlangsung di salah satu hotel di daerah dekat puncak.


Pesta pernikahan sepupunya Kenzo. Keluarga besar Kenzo berkumpul di satu meja. Kenzo dan Naya memilih duduk di meja yang berbeda.


"Sepupu kamu artis juga?" tanya Naya melihat siapa yang pesta.


"Ya. Jangan bilang jika Mbak Febby salah satu idola kamu juga?" tanya Kenzo sambil tersenyum.


"Kak Kenzo kenapa tertawa? Emang benar Mbak Febby idola aku," ucap Naya pelan.


"Nanti kamu bisa foto sepuasnya. Bahkan peluk juga nggak apa."


"Kak Kenzo, katanya bukan pesta artis. Lihat yang datang banyak artis ternama. Aku malu."


"Kenapa malu? Kamu sangat cantik malam ini," bisik Kenzo.


Wajah Naya memerah saat Kenzo membisikan itu. Kenzo yang melihat perubahan wajah dari Naya menjadi tersenyum. Wanita itu tampak makin cantik dengan pipi yang merona merah.


Dari kejauhan tampak Hanif dan Citra berjalan masuki ruangan. Kenzo yang melihat kedatangan dua orang itu memandangi Naya. Tampaknya Naya belum menyadari kehadiran Hanif, yang sebentar lagi akan menjadi mantannya.


"Ada Hanif dan Citra," ucap Kenzo.


Naya mengikuti pandangan Kenzo. Tampak Hanif dan Citra berjalan dengan menggandeng tangan menuju sekumpulan artis. Mereka menyapa para artis yang datang terlebih dahulu. Mata Naya memandangi Hanif tanpa kedip.


Bohong jika dihatinya tidak ada rasa sedih. Pastilah sebagai wanita yang pernah begitu dekat dengan Hanif, Naya merasa sedih melihat orang yang dicintainya telah memiliki pengganti.


Naya tampak menarik napas dalam, berusaha menahan rasa sesak di dada. Naya tidak ingin terlihat sedih dan rapuh. Bukankah ini keputusannya. Naya harus menghadapinya.


"Mas Hanif ternyata diundang juga," ucap Naya berusaha tegar.


"Kalau kamu tidak ingin melihat Hanif dan Citra, aku akan antar ke kamar, tempat kamu menginap nanti."


"Nggak apa, Kak. Aku kuat. Aku nggak akan pergi. Semua ini memang harus aku hadapi. Bukankah aku yang menginginkan perpisahan ini?"


Saat Naya memandangi Hanif, matanya bertemu dengan Citra yang juga kebetulan memandang ke arah dia dan Kenzo duduk. Tampak Citra membisikan sesuatu ke telinga Hanif. Setelah itu Hanif dan Citra berjalan mendekati Naya dan Kenzo duduk.


"Selamat malam Kenzo, Naya?" ucap Citra.


Naya berdiri dari duduknya dan menyalami Citra juga Hanif. Naya memberikan senyuman semringah.


"Selamat malam, Mbak Citra. Apa kabar Mas Hanif?" tanya Naya dengan suara pelan, wanita itu berusaha untuk setenang mungkin. Naya tidak ingin Citra meledeknya.


"Kamu kenal Febby juga?" tanya Citra dengan Naya. Hanif hanya diam, tampaknya dia sedikit canggung.


"Aku diajak Kenzo."


"Kamu ternyata dekat juga dengan Kenzo. Aku nggak pernah tau."


Naya hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Citra. Dia tidak ingin salah dalam ucapan yang akan membuat gosip nantinya. Naya sadar jika Kenzo adalah publik figur yang harus dijaga nama baiknya.


"Kenapa kamu harus tau siapa aja yang dekat denganku!" ucap Kenzo ketus.


"Pasti kedekatan kamu dan Naya bukan hanya kebetulan, karena keliatannya sudah sangat dekat."


"Apa kamu lupa, jika Naya itu istrinya Mas Hanif?"


"Aku dekat dengan Naya di saat dirinya sedang dalam proses perceraian. Namun, kamu dekat dengan Hanif saat Naya masih berstatus istri sahnya Hanif. Mana yang lebih parah. Emang benar kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya!"


"Maksud kamu apa? Apa kamu belum bisa terima juga jika Papa lebih memilih mamaku dari mama kamu?" ucap Citra sedikit keras.


Hanif memegang lengan Citra. Dan mengajaknya pergi. Hanif tak mau nanti wartawan melihat keributan mereka dan menjadi santapan empuk buat mereka.


"Maaf Kenzo, Naya. Kami pamit dulu ya." Hanif menarik lengan Citra untuk berjalan. Namun, wanita itu menepis tangan Hanif. Dia kembali mendekati Kenzo.


"Dengarkan baik-baik. Mama aku tidak pernah merebut Papa dari mama kamu. Papa yang mendekati mama dan mengajaknya menikah. Seharusnya kamu dan mama kamu introspeksi diri. Kenapa Papa lebih memilih mama? Pasti banyak kekurangan pada diri mamamu sehingga ditinggalkan."


Citra adalah anak tiri dari Papa Kenzo. Saat ini mama-nya telah tiada. Begitu juga Papa kandungnya. Namun, sebagai Papa tiri, Papa Kenzo masih sering memberikan uang pada Citra.


Setelah Mama Citra meninggal, Papa Kenzo ingin kembali ke Mama Kenzo. Semua keluarga terutama Kenzo dan kakaknya tidak pernah mengizinkan. Cukup sudah penderitaan mama sejak ditinggal Papa.


Kenzo mengangkat tangannya mendengar ucapan Citra. Hampir saja tangannya melayang menampar pipi Citra jika saja tidak ditahan Naya.


"Kak Kenzo, jangan berlaku kasar. Di sini banyak orang. Nanti bisa terjadi keributan," ucap Naya.


"Aku hampir saja khilaf," ucap Kenzo dengan lirih.


"Kenapa nggak jadi. Dasar munafik. Aku tau sekarang, kenapa kamu menggugat ceraias Hanif? kerena kamu telah menjalin hubungan dengan Kenzo. Muka lugu. Ku kira cupu ternyata suhu," ucap Citra.


"Citra. Kamu sudah keterlaluan. Sudah aku katakan, jaga ucapan dan sikapmu. Jangan memfitnah lagi," ujar Hanif.


"Apa? Aku fitnah, kamu aja yang buta. Apa kamu tidak melihat, Naya begitu akrab dengan Kenzo."


Tanpa mereka sadar, beberapa wartawan merekam pertengkaran itu. Mama Kenzo yang melihat, langsung mendekati.


"Mbak Citra, perceraianku dengan Mas Hanif tidak ada hubungannya dengan Kak Kenzo. Jika aku menggugat cerai Kak Hanif, itu semata karena aku memberikan kesempatan pada Mbak Citra dan Mas Hanif untuk membina rumah tangga sentuhnya. Jangan mencari kambing hitam atas kesalahan yang Mbak sendiri lakukan!" ujar Naya.


Wanita itu memandangi Hanif suaminya dan seminggu lagi mungkin akan menjadi mantan karena keputusan sidang yang akan dibacakan nanti.


"Mbak Citra bisa tanyakan dengan Mas Hanif, selama menjadi istrinya, aku tidak pernah keluar rumah tanpa izin darinya. Aku juga keluar rumah pasti bersamanya kecuali ke kampus. Bagaimana aku bisa menjalin hubungan dengan Kenzo?"


"Maaf Naya. Citra hanya terbawa emosi. Mas percaya kamu tidak ada hubungan apapun dengan Kenzo sebelum kita bercerai. Jika saat ini kamu mulai menjalin hubungan dengannya, Mas hanya bisa mendoakan semoga Kenzo pria yang tepat mendampingi kamu."


Citra memandangi Hanif dengan mata tajam. Tampaknya wanita itu tidak suka dengan ucapan Hanif.


Mama Kenzo mendekati dan memeluk lengan Naya. Hal itu membuat Citra makin tidak suka. Wanita itu menatap mama Kenzo dan Naya dengan amarah yang tertahan.


"Pergilah dari sini. Kehadiran kamu tidak pernah kami inginkan," ucap Mama Kenzo.


Citra tampak semakin tidak senang mendengar ucapan mama Kenzo. Wartawan satu persatu mulai mendekati mereka.


...****************...


Bersambung