PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN

PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN
Bab Dua Puluh Dua. PYTD.


"Rencana kamu apa setelah pisah dengan Hanif? Apa kamu akan kembali ke kampung," tanya Kenzo.


"Aku akan tetap tinggal di sini. Jika sidang saja aku ke kampung."


"Kamu telah bekerja?"


"Rencananya besok aku akan mencari pekerjaan."


"Apa kamu mau bekerja di tempatku?"


"Kerja denganmu? Pekerjaan apa itu?"


"Aku membuka sebuah butik. Biasanya aku yang pegang. Saat ini aku telah tanda tangan kontrak untuk dua film. Jadi waktuku banyak dihabiskan di lokasi shooting. Aku takut jika tidak ada yang mengawasi, para karyawan akan bekerja sesuka hatinya."


"Aku mau saja. Tapi apa kamu percaya denganku?"


"Kenapa tidak? Besok pagi sebelum jam delapan aku tunggu. Aku akan jelaskan tugasnya dan beri catatan keuangan terakhir. Siang aku baru shooting. Aku minta izin."


"Bolehlah. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih atas kepercayaan Kak Kenzo denganku."


"Dari wajahmu, aku bisa lihat jika kamu orang yang bisa dipercaya."


"Wajah kadang bisa menipu. Jangan melihat orang dari luarnya saja, Kak."


"Kamu ngomongin siapa?"


"Nggak ada, Kak."


"Kamu ingin mengatakan jika Hanif suamimu yang tampan itu ternyata bisa juga menyakiti dan mengecewakan kamu."


"Aku tidak pernah mengatakan itu."


"Tapi Hanif emang tampan. Cepat sekali dia tenar. Saat ini namanya jadi bahan perbincangan dimana-mana. Apa kamu tau jika Hanif akan membintangi film layar lebar. Dan lawan mainnya masih Citra. Sinetron yang kamu bintangi di buat layar lebar."


"Syukurlah,Kak. Semoga rezeki mas Hanif lancar terus."


Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya Naya pamit.


"Maaf, Kak. Aku pamit. Tidak baik kita terlalu lama berdua. Aku masih bersyarat istri orang."


"Oke. Aku antar,ya?"


"Nggak perlu, Kak. Kost aku dekat. Yang aku tunjuk tadi. Terima kasih tarktirannya. Semoga rezeki Kak Kenzo makin melimpah dan diberikan kesehatan."


"Terima kasih juga karena mau menemani aku makan."


Naya meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju supermarket. Membeli bahan makanan yang dibutuhkan. Di Kost ada kulkas kecil tersedia. Bisa buat menyimpan stok makanan.


Sampai di Kost Naya membereskan belanjaan. Setelah itu Naya membuka laptopnya.


Pandangan Naya langsung tertuju pada layar laptop yang menampilkan suaminya. Seperti kata Kenzo, suaminya Hanif saat ini sedang naik daun dan menjadi bahan perbincangan.


Judul artikel yang Naya baca, seorang aktor pendatang baru yang sedang naik daun. Rasa ingin tahu Naya membuat dia membuka chanel gosip itu.


Terpampang wajah suaminya Hanif, yang sebentar lagi akan menjadi mantannya itu sedang bermain sinetron.


Selama ini Naya tidak pernah mau melihatnya, sejak dia melihat berita gosip tentang Hanif dan Citra.


Dulu, saat awal pernikahan kami, aku berkhayal akan memiliki anak yang banyak dengan Mas Hanif. Kami akan membesarkan anak kami bersama di sebuah rumah mungil. Suara tangis dan tawa anak-anak akan meramaikan rumah yang mungil itu. Namun, semua impian itu kandas saat aku tau kamu menduakan aku, Mas. Ya Tuhan, bantu aku untuk dapat melupakan Mas Hanif. Mungkin perpisahan adalah jalan terbaik bagi kami.


...----------------...


Pagi harinya Naya telah rapi, wanita itu langsung naik taksi menuju butik milik Kenzo.


Sampai di depan butik yang cukup besar, Naya berdiri terpaku. Memerhatikan toko itu. Naya melihat ponselnya dan memastikan benar ini butik yang dituju.


"Kak Kenzo mengatakan jika butik miliknya hanya kecil. Namun, butik ini sangat besar dan mewah," gumam Naya pada dirinya sendiri.


Baru saja Naya akan melangkahkan kakinya mendekati pintu masuk, tampak sebuah mobil berhenti di halaman butik.


Naya yakin jika itu mobil milik Kenzo, karena dia udah sering melihatnya. Kenzo keluar dari mobil dengan seorang wanita. Naya tersenyum dengan wanita itu dan Kenzo. Kenzo mendekati Naya


"Kak Alana, kenalkan ini Naya. Wanita yang aku ceritakan dengan kakak."


Naya mengulurkan tangannya dengan tersenyum ramah. Alana menyambutnya dengan senang hati.


"Kamu cantik banget. Pantas Kenzo antusias banget kalau udah ngomongin kamu," ucap Alana. Naya hanya tersenyum menanggapi.


"Terima kasih, Kak. Kak Alana yang cantik banget."


"Kak Alana jangan ngomong sembarangan. Nanti Naya bisa salah sangka."


"Emang kamu selalu omongin Naya. Semangat lagi kalau udah bicara tentang kamu," ucap Alana dengan Naya.


"Jangan dengarkan Kak Alana, Nay. Dia emang suka bercanda."


"Siapa yang bercanda? Kamu malu jika Naya tau kamu suka ngomongin dia?" tanya Alana.


"Udahlah. Kakak makin ngawur kalau diladeni, mending kita masuk dan ajari Naya mengelola butik ini.


Kenzo membuka kunci butik. Satpam butik tadi udah izin pulang cepat karena anaknya sakit. Sedangkan yang bertugas siang hari belum hadir.


Di dalam butik, Alana mengajarkan apa saja yang harus Naya lakukan. Sekitar satu jam Alana menjelaskan semua.


"Bagaimana, Naya? Sudah paham?" tanya Alana.


"Paham, Kak."


"Kalau gitu, kamu bisa langsung bekerja hari ini," ujar Kenzo.


"Sebentar lagi butik akan buka. Sebaiknya kita makan dulu. Pasti kamu belum sarapan?" tanya Alana.


"Udah tadi, Kak. Aku sarapan roti dan segelas teh hangat."


"Kita sarapan lagi. Jika perut kenyang,pikiran lancar dan akan semangat kerja. Kakak belum sarapan. Cacing di perut sudah demo."


Alana memaksa Naya untuk ikut sarapan. Awalnya wanita itu menolak. Karyawan butik satu persatu sudah mulai berdatangan. Alana dan Kenzo akan mengebalkan Naya nanti setelah sarapan, menunggu seluruh karyawan datang.


...****************...


Bersambung