PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN

PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN
Bab Lima Puluh Tiga. PYTD.


Perut Naya makin membesar. Saat ini kehamilan Naya telah memasuki bulan ke sembilan. Hanya tinggal beberapa hari perkiraan kelahiran buah hati mereka.


Kenzo mengecup perut buncit istrinya. Telah satu minggu ini, Kenzo istirahat dari semua kegiatan keartisannya. Kenzo ingin mendampingi Naya saat melahirkan.


Saat ini Mama Kenzo tinggal bersama mereka untuk mendampingi Naya saat melahirkan nanti. Naya membuka matanya dan melihat Kenzo yang sedang mengecup pipinya.


"Kak, dari subuh pinggulku terasa sakit," ucap Naya pelan.


"Kenapa sakit, Sayang. Aku pijat dikit ya. Takut nanti ada pengaruh ke bayi kita."


"Apa aku akan lahiran, Kak?"


"Lahiran? Bukannya seminggu lagi perkiraan lahirnya."


"Tapi Dokter bilang, bisa lebih cepat atau lebih lama."


"Kalau gitu, kita ke rumah sakit aja. Aku panggil mama dulu ya." Kenzo bangun dan langsung berjalan ke luar kamar.


Mami masuk dengan Kenzo ke kamar, setelah anaknya mengatakan jika Naya akan melahirkan.


"Kamu mau melahirkan?" tanya Mama Kenzo khawatir. "Tapi ketubannya, belum pecah."


Mama Kenzo tampak panik, kemudian dia menghubungi Dokter Zubaidah bahwa dia akan datang kerumah sakit, karena Naya akan segera melahirkan.


Sementara itu Kenzo segera menyiapkan mobilnya, setelahnya Kenzo menggendong tubuh Naya ke mobil, disusul oleh Mama yang segera menyuruh putranya itu ke rumah sakit.


"Kak, sakit," keluh Naya sedikit mengeluarkan air matanya karena dia merasakan sakit di daerah jalur lahirnya.


Kenzo sendiri sedikit bingung, bukankah tadi subuh mereka sempat melakukan adegan kuda-kudaan yang menggairahkan, kenapa sekarang tiba-tiba Naya mengalami kontraksi.


"Sabar, sayang," jawab Kenzo mempercepat laju kendaraannya.


"Cepat sedikit Kenzo !" teriak Mama mulai khawatir melihat Naya yang merintih kesakitan.


Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit, Kenzo memarkirkan mobilnya asal, dan kembali menggendong Naya dengan keadaan panik masuk ke rumah sakit.


"Dokter! Suster! Istri saya mau melahirkan!" teriak Kenzo yang membuat semua orang disana gempar menatap ke arahnya.


Bayangkan saja, ditengah suasana yang damai di pagi hari, tiba-tiba ada seorang pria berstatus suami yang menggendong istrinya dan berteriak kencang memanggil dokter dan suster disana. Apa lagi semua mengenalnya sebagai seorang aktor terkenal.


Untungnya Dokter Zubaidah yang ada disana segera mengetahui keberadaan Kenzo dan Mama, sehingga membuat Kenzo dan Mama menghampirinya.


"Dokter! Istri saya mau melahirkan!"


Dokter Zubaidah mengangguk, kemudian memerintahkan beberapa suster membawa brankar [Ranjang Rumah Sakit] dan segera menaikkan Naya disana, setelahnya Kenzo dan Mama menyusul para suster dan Dokter Zubaidah yang membawa Naya ke salah satu ruangan.


Naya hendak masuk ke ruangan itu sebelum tangannya ditahan oleh Mama yang membuat Kenzo menatap Mama-nya.


"Mau kemana kamu?" tanya Mama Kenzo yang membuat Kenzo menghembuskan napas pelan.


"Mau nemenin istriku," jawab Kenzo pada Mama.


Mama menggelengkan kepalanya dan menggenggam erat tangan anaknya itu. "Itu urusan Dokter dan Suster, lagipula kalau kamu ada didalam sana, nanti kamu heboh sendiri.


Setelahnya Kenzo memilih duduk di kursi tunggu yang ada dikoridor itu bersama dengan Mama, tangannya bergetar, menanti kondisi Naya, ia tidak hentinya memanjatkan doa, agar Naya diberi kelancaran pada proses melahirkan putri mereka.


Hampir cukup lama menunggu, Kenzo benar-benar gusar dan memilih berjalan mondar-mandir menanti kepastian akan keadaan istri dan anaknya.


Mama yang melihat Kenzo hanya menggeleng maklum, pasalnya ini adalah anak pertama bagi Kenzo.


Tak lama kemudian, Dokter Zubaidah keluar dari ruangan bersalin dan menemui Naya serta Mama dengan wajah serius.


"Istri saya gimana?" tanya Kenzo.


"Hemm, begini pak, Bu Naya mengalami penyumbatan yang menghalangi jalan lahirnya, dikarenakan ketubannya belum juga pecah, padahal ini sudah pembukaan terakhir, kalau begitu saya akan segera pecahkan saja air ketubannya karena Bu Naya akan segera melahirkan?" ucap Dokter Zulaidah.


Kenzo dan mama terdiam sejenak. Tampak Kenzo memikirkan sesuatu.


"Aku tahu!" ujar Kenzo yang membuat Mama menatap ke arah Kenzo. "Aku pernah membaca kalau melakukan hubungan intim, bisa mempercepat pecahnya air ketuban, apa kita lakukan itu saja?"


"Kamu dapat info darimana?"


"Google dulu," jawab Kenzo dengan wajah tanpa dosa yang membuat Mama mengeplak kepala putranya itu.


"Ah, sakit," keluh Kenzo memegangi kepalanya.


"Cara itu memang bisa, tapi enak di kamu, gak enak di Naya, Mami gak setuju. Biar Dokter aja yang pecahkan. Tidak perlu bantuanmu."


Dokter Zubaidah mengangguk setuju.Namun saat ingin pecahkan air ketuban Naya, Air ketuban Naya sudah pecah, sontak semua yang ada disana mengucap Alhamdulillah.


Kenzo sendiri sudah tidak peduli lagi, dia berlari memegang tangan istrinya dan berusaha menguatkannya. "Ayo sayang! Kamu bisa!"


Naya menatap Kenzo dan dengan kesakitan yang luar biasa, Naya terus mengejan, berusaha mendorong keluar bayinya, Dokter Zubaidah segera membantu Naya.


Sementara itu Kenzo dan mama menguatkan Naya dari segi moril agar dia bisa semakin semangat, dan atas izin Allah, suara bayi itu terdengar menggema seisi ruangan, bayi perempuan yang membuat Naya bernapas lega karena telah berhasil melahirkan secara normal.


Dokter Zubaidah segera menaruh bayi itu di dada Naya untuk mendapatkan asi pertama, Kenzo yang melihat itu hanya tersenyum dan menangis haru atas kelahiran anaknya.


"Aku akan berbagi susu, dengan anakku sekarang, selamat tinggal kuda-kudaan." batin Kenzo mengusap puncak kepala Naya yang terbalut hijab.


Setelahnya Dokter Zubaidah kembali mengambil bayi Naya untuk dibersihkan dan setelahnya langsung di azankan oleh Kenzo.


Kalimat Allah itu terdengar menggema dari bibir Kenzo dengan penuh haru dan terasa semua itu hanyalah mimpi, bahwa kini dia menggendong darah dagingnya sendiri, setelahnya Kenzo menyerahkan bayinya untuk digendong kepada Mama.


Kenzo kemudian mencium puncak kepala Naya. Rasa sayangnya makin bertambah melihat perjuangan istrinya melahirkan putri cantik mereka.


"Terimakasih ya Allah, untuk semua skenariomu, memang tak seindah yang aku ekspestasikan tapi ini jauh lebih baik dari yang aku inginkan. Aku tidak pernah merindukan rumah tanggaku akan dimasuki seorang pebinor. Namun, ternyata pebinor itulah yang saat ini membuat hidupku sangat bahagia. Semua yang aku impikan dengan suami pertama ternyata diberikan dan dikabulkan suami keduaku."


...****************...


Bersambung


Selamat sore. Kisah Kenzo dan Naya telah hampir sampai ke penghujung. Semoga masih setia menunggu kelanjutannya. Terima kasih.