
Sejak Danzel menyerobot dirinya terus ketika hendak menjawab, membuat Gwen terus berpikir bagaimana jika pria itu mengetahui status aslinya yang masih istri orang? Kalimat itu terus berputar di kepalanya, hingga dia memberanikan diri untuk bertanya pada atasannya itu.
“Bagaimana jika aku masih memiliki suami? Apa yang akan kau lakukan?” Gwen mengulangi pertanyaannya karena Danzel hanya menatapnya tanpa mengeluarkan suara.
“Aku akan mundur dan meninggalkanmu,” jawab Danzel sungguh-sungguh. Dia tentu saja tak ingin merusak hubungan suami istri orang lain. “Tapi itu tak mungkin, kan? Aku tak pernah melihat suamimu,” imbuhnya meraih tangan Gwen dan memberikan kecupan di punggung tangan wanitanya. Mobilnya terus berjalan dengan fitur autopilot yang sudah diaktifkan.
“Bagaimana pendapatmu tentang istri seorang penjahat? Apakah dia berhak bahagia di saat suaminya berada di balik jeruji besi? Apakah menurutmu pasangan seperti itu lebih baik bercerai?” Gwen justru semakin bertanya pendapat pada Danzel. Dia hanya ingin tahu bagaimana pemikiran pria itu tentang kondisinya walaupun tak terang-terangan bahwa itu kehidupannya saat ini.
“Tidak, bukankah mereka berjanji sampai maut yang memisahkan? Maka aku tak membenarkan jika pernikahan akan berakhir hanya karena suaminya menjadi narapidana,” jawab Danzel. “Mereka seharusnya tetap bersama hingga seperti kau yang menjadi janda karena suamimu telah meninggal,” imbuhnya memberikan contoh. Ternyata, selama ini dia berpikiran bahwa Gwen adalah janda yang ditinggal mati suaminya.
“Memangnya kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” Danzel balik bertanya karena tak biasanya Gwen membicarakan hal-hal yang sensitif.
Gwen mengulas senyum dan kepalanya menggelang lemah. Rencana dia hari ini ingin memberi tahu status aslinya. Tapi mendengar jawaban Danzel, membuatnya mengurungkan niat. Tak ingin kehilangan Danzel, tentu saja. Untuk alasan apa lagi menutupi rahasia itu kalau bukan karena ingin terus mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari CEO muda itu.
Mungkin terdengar egois, tapi Gwen ingin merasakan bahagia. Jika menutupi semua kenyataan ini bisa membuatnya terus berada di dekat Danzel, maka dia akan lakukan. Jika sudah waktunya untuk berkunjung ke tahanan suaminya, dia baru akan mengajak Sanchez untuk bercerai lagi bagaimanapun caranya nanti akan dia pikirkan asalkan jangan sampai Danzel tahu bahwa dia ingin bercerai dengan suaminya.
“Sepertinya kau berhasil membuatku nyaman, Danzel. Tetaplah di sampingku,” pinta Gwen. Sorot matanya sudah berbeda dari pertama kali mereka bertemu. Kini iris berwarna abu-abu gelap itu lebih terpancar kebahagiaan, bukan kesenduan belaka.
“Seperti yang kau inginkan, Gwen,” balas Danzel. Tangannya meraih dagu sekretarisnya. Mendekatkan wajahnya dan mendaratkan sebuah ciuman panas di bibir yang begitu menggoda.
Di dalam mobil mewah itu, Danzel menyalurkan seluruh cintanya pada ciuman panas tanpa napsu. Hanya gambaran perasaannya yang menginginkan wanita itu untuk menemaninya terus sampai tua dan mati.
Beruntung mobil Danzel semuanya berkaca gelap sehingga tak akan terlihat dari luar. Juga kecanggihannya tak akan membuat kendaraan roda empat itu menabrak walaupun Danzel melepaskan tangan dari stir kemudi.
CEO muda itu benar-benar tenggelam dalam perasaannya. Hingga dia tak berniat untuk mengulik lebih dalam informasi wanita yang dia cintai itu. Cukup menilai dari luar sudah membuatnya yakin seratus persen.
...*****...
...Siapin poin buat ku palak besok. Mbah dukun minta sesajen kopi sama kembang lagi wkwkwk. Besok seru banget ada episode spesial seperti biasanya....