My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 106


Danzel melingkarkan tangan di pinggul Gwen dan keluar dari ruangannya. Dia sudah tak sabar ingin membawa wanitanya ke dokter kandungan.


“Steve, tolong nanti kau jemput Selena dan Aldrich!” titah Danzel saat berhenti di depan meja kerja asistennya.


Steve langsung berdiri ketika mendengar atasannya bersuara. “Anda mau ke mana, Tuan?”


“Rumah sakit.”


“Untuk apa?”


“Ke dokter kandungan.”


“Apakah Nona Gwen hamil?”


Steve terus saja bertanya menggali informasi, membuat Danzel melotot karena asistennya terlalu banyak ingin tahu.


“Steve ...!” seru Danzel dengan menekankan suaranya. “Bisa tidak jika kau tak banyak bertanya? Jalankan saja sesuai perintahku!” tegasnya.


“Ini penting, Tuan. Bagaimana jika mereka berdua bertanya tentang keberadaan kalian? Lebih baik saya mengetahui tujuan Anda sekarang.” Alasan Steve sangat masuk akal. Membuat Danzel tak lagi memarahi asistennya.


“Aku pergi ke rumah sakit untuk melakukan program hamil anak kembar. Tapi kalau mereka bertanya, katakan saja aku sedang pergi menjalankan tugas penting.”


“Baik, Tuan.”


Danzel pun meninggalkan kantornya. Sepanjang langkah kakinya menuju mobil yang terparkir di depan pintu lobby perusahaan, seluruh karyawan Patt Group memandang dirinya dan Gwen tanpa berkedip dan penuh pertanyaan.


“Selamat, Nona. Anda sangat beruntung mendapatkan Tuan Danzel.” Beberapa karyawan merasa senang dengan hubungan mereka berdua. Tampan dan cantik, sama-sama baik hati, cocok menjadi pasangan suami istri.


“Untung saja calon istri Tuan Danzel bukan wanita yang terakhir kali datang ke sini dan membuat ribut,” gumam salah satu resepsionis yang pernah bertengkar dengan Alcie Glee pada saat itu.


Gwen hanya tersenyum dan mengangguk sopan. Dia tak tahu bagaimana harus merespon karyawan Patt Group yang sangat ramah padanya. Bahkan tak ada yang iri jika dia menjadi sekretaris spesial di perusahaan itu.


Sedangkan Danzel, dia sengaja berhenti di tengah-tengah lobby dan membiarkan dirinya menjadi objek penglihatan semua orang yang berada di sana. “Tenang, nanti kalian semua aku undang jika akan menikah,” ucap Danzel penuh percaya diri.


Gwen mengalihkan pandangannya pada Danzel. Menelusuri wajah CEO Patt Group yang nampak bahagia saat mengucapkan kata menikah. Hatinya terasa berdenyut, takut akan membuat prianya kecewa suatu saat nanti. Tapi mulutnya enggan mengucapkan kebenaran. ‘Maafkan aku karena terlalu egois ingin terus bersamamu,’ gumamnya dalam hati.


Danzel pun kembali mengajak Gwen untuk berjalan menuju kendaraan pribadinya. Kakinya langsung menancap gas menuju rumah sakit dengan kecepatan sedang agar tak membahayakan orang lain.


Satu-satunya keturunan keluarga Pattinson itu segera membukakan pintu untuk Gwen karena di rumah sakit itu tak ada orang yang bertugas untuk melayani setiap tamu di pintu masuk seperti saat di hotel. “Silahkan, calon istriku.” Tangannya terulur untuk membantu wanitanya keluar dari mobil mewahnya.


“Jangan terlalu manis, Danzel. Aku takut diabetes,” seloroh Gwen. Ia meninggalkan kecupan di pipi sebagai ucapan terima kasih.


“Tenang, kalau kau diabetes atau sakit, aku akan merawatmu setiap hari dengan sepenuh hati.” Danzel mengelus punggung Gwen agar wanitanya tak risau dan percaya bahwa dia akan tetap mencintai wanita itu dalam kondisi apa pun. Padahal maksud sekretarisnya hanya bercanda, tapi ditangkap serius oleh CEO muda tersebut.


...*****...


...Danzel, kamu kalo patah hati lagi hubungin aku ya. Aku siap antri nomer satu wkwkwk....