My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 104


Gwen hanya menjawab dengan ulasan senyum. Canggung sekali rasanya ketahuan tak tidur di apartemen justru menginap di tempat tinggal seorang pria. Dia pun mengajak kedua anaknya pulang meninggalkan Danzel di sana seorang diri.


“Apa kalian marah?” tanya Gwen memastikan suasana hati anak-anaknya setelah mereka masuk ke dalam apartemennya.


“Besok aku mau ikut juga menginap di tempat uncle Danzel,” pinta Aldrich seraya menarik ujung baju mama tirinya.


“Kapan-kapan lagi, Sayang,” balas Gwen mengusap lembut rambut halus anak tirinya.


Kalau Aldrich ikut menginap, sudah pasti dua manusia itu tak bisa melakukan ah mantap dengan lancar.


“Selena, kau marah dengan mama? Kenapa hanya diam saja?” Gwen beralih menatap anak kandungnya yang masih berdiri.


Selena menggelengkan kepala. “Tidak, aku sudah besar dan biasa tidur sendiri juga. Kalau mama ingin bermalam terus di tempat uncle Danzel juga tak masalah. Masih ada uncle Steve dan aunty Chimera yang menjaga kami,” jelasnya.


Steve yang mendengar penuturan Selana itu melongo. Memangnya dikira dirinya tak memiliki keluarga di rumah yang mungkin saat ini sedang menunggu kepulangannya.


“Hanya aunty Chimera yang bisa menjaga kalian dua puluh empat jam, uncle tetap harus pulang. Ada istri dan anakku yang menunggu di rumah,” ujar Steve meluruskan.


Chimera menatap Steve dengan kening yang mengkerut. Matanya melihat rekan kerjanya dari atas sampai bawah. “Kau sudah memiliki istri?”


“Iya, memang kenapa?”


“Ku kira kau lajang. Setiap Tuan Danzel memintamu lembur atau bertugas seperti tadi malam, kau selalu mengikuti perintahnya seolah tak memiliki beban lain.”


“Tentu saja aku harus mengikuti perintahnya. Aku dibayar oleh Tuan Danzel.”


Steve menganggap pertanyaan dari Chimera itu hanya sebuah angin lalu atau keingintahuan rekan kerjanya untuk mengenal lebih dalam satu sama lain, agar memudahkan dan saling pengertian ketika bekerja. Ia kembali terfokus pada Gwen. Asisten CEO Patt Group itu menitipkan pesan pada Gwen untuk dipamitkan pada Danzel kalau hendak pulang terlebih dahulu. Tak melihat anaknya walau sebentar membuatnya rindu.


“Oke, pulanglah. Masih ada waktu dua jam juga sebelum masuk kerja,” ujar Gwen.


Steve pun pergi dari sana. Dia tahu kalau Gwen adalah pawang sang atasan sehingga sudah pasti akan aman jika dirinya pulang terlebih dahulu. Lagi pula CEO Patt Group itu juga aneh-aneh saja memberinya tugas untuk menjaga dua anak kecil agar tak mengganggu acara mantap-mantap. Akhirnya merasa menyesal juga sudah meminta naik gaji. Ternyata pekerjaan yang diberikan juga jadi seenaknya.


“Kalian pasti belum mandi, kan?” tanya Gwen setelah kepergian Steve.


Baik Selena maupun Aldrich sama-sama mengangguk.


“Tadi aku sudah mau mandi, tapi uncle Steve mengajak kami keluar mencari mama,” jelas Selena sangat jujur.


Gwen hanya terkekeh. Memang asisten satu itu selalu saja mengganggu.


Tapi untuk kali ini, Steve hanya ingin pulang melihat wajah sang anak sebelum kembali ditinggal bekerja selama seharian.


Gwen pun mengajak kedua anaknya untuk membersihkan tubuh sendiri. Dia juga ingin mengajarkan Aldrich agar belajar untuk mandiri mulai kecil walaupun masih dalam pemantauannya.


...*****...


...Tak selamanya gaji banyak itu enak, Steve. Waktumu buat keluarga jadi berkurang kan? Wkwkwk...