My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 122


“Aku mau berbicara langsung pada intinya, Sanchez! Duduklah!” tegas Gwen. Dia tak mau terlalu lama basa-basi di sana.


Sanchez menaikkan sebelah alisnya, Gwen tak biasanya berucap dengan nada penuh penekanan. Wanita itu selalu lemah lembut pada siapa saja. Dia seperti merasakan ada sesuatu hal yang sepertinya tak enak akan diucapkan oleh istrinya itu.


“Duduklah, Sanchez! Aku tak memiliki banyak waktu!” Gwen meminta sekali lagi karena suaminya masih saja berdiri, membuatnya enggan untuk menghempaskan pantat di kursi karena tak ingin mendadak disentuh oleh pria yang masih berstatus sebagai pasangan sahnya.


Sanchez pun menurut karena penasaran dengan hal sepenting apa yang akan disampaikan oleh istrinya. Dia menarik kursi di hadapan Gwen dan duduk menatap lekat istrinya. “Ada apa, kenapa kau terlihat sangat serius?” tanyanya.


Gwen menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, sorot matanya terfokus pada pria yang badannya sudah tak terurus lagi. “Aku memiliki kekasih dan rencananya aku ingin menikah dengannya,” ungkapnya.


Sanchez menarik sudut bibirnya sinis. “Sampai kapanpun kau tak akan bisa menikah dengan siapa saja karena statusmu masih menjadi istriku,” remehnya.


“Itu yang ingin aku sampaikan padamu. Minggu depan aku akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.”


Sanchez nampak tak terkejut sedikit pun. Dia justru tertawa terbahak-bahak. “Jangan pernah bermimpi bisa terlepas dari aku. Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi istriku!”


“Jangan egois, Sanchez! Aku masih harus meneruskan hidupku ke depan. Dan kau tak akan pernah keluar dari sini. Aku juga ingin merasakan bahagia!” tegas Gwen. Sorot matanya sangat kesal, setiap kali dia meminta cerai bahkan sebelum suaminya dipenjara pun jawabannya selalu seperti itu.


Sanchez tertawa semakin keras, sorot matanya seolah menampakkan kepuasan jika istrinya juga merasakan penderitaan. “Aku tak akan membiarkanmu hidup bahagia di luar sana, sedangkan aku hidup penuh kekangan di dalam sini tak bisa beraktivitas seperti biasa, bercinta dengan wanita, memakai narkotika. Dan kau dengan enaknya bisa tersenyum di atas penderitaanku!” sinisnya.


Sanchez berdiri dari duduknya, ingin mendekati Gwen tapi wanita itu sudah berdiri untuk menghindar. Kaki Sanchez terus melangkah maju dengan sorot matanya yang terlihat tajam.


Gwen terus mundur, tak ingin bersentuhan dengan suaminya. Sebab, dia tak ingin memberikan bekas sentuhan Sanchez pada Danzel. “Berhenti!” serunya.


Sanchez semakin menyeringai puas saat melihat wajah istrinya yang ketakutan. Dan dia mengukung Gwen di tembok sampai wanita itu tak bisa bergerak kemanapun. “Kau harus ingat janji pernikahan kita yang akan selalu ada di saat kondisi apa pun dan hanya maut yang bisa memisahkan.” Seringai licik tercetak jelas di wajahnya yang sangat mengesalkan.


Plak!


Gwen menampar suaminya sangat keras. Ini adalah kali pertama dia berani kasar dengan orang lain. “Kau bisa mengatakan itu sekarang, tapi di mana saat kau hidup bebas kala itu? Bermain wanita seenaknya! Dan kau juga tak menghargaiku sebagai seorang istri! Sekarang kau menuntut janji pernikahan kita!” Tangannya sekuat tenaga mendorong dada suaminya. “Kau sangat lucu dan konyol, Sanchez!” ujarnya dengan penuh penekanan.


Sanchez menarik tangan Gwen yang hendak beranjak pergi. “Kau sudah sampai di sini, maka lakukan tugasmu sebagai istriku, Gwen! Bercinta denganku sekarang, sudah lama aku tak mendapatkan kepuasan di sini!” paksanya.


...*****...


...Duh Sanchez, kamu muncul cuma bikin orang sebel. Dah ngumpet lagi aja sonoh. Jangan lupa kembang sama kupinya hehehehe ga lupa malak aku....