My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 46


Alcie Glee hanya melihat Danzel menggandeng seorang wanita dan menggendong anak saja. Dia tak melihat wajah dua orang yang bersama CEO muda itu karena jaraknya tadi terlalu jauh, sedangkan dia memiliki mata minus dan tak memakai softlens. Jadi hanya bisa mengenali bagian punggung Danzel yang selalu dia ingat.


“Lalu, kau jawab apa?”


“Aku katakan saja jika itu anak Anda, tapi dia tak percaya.”


“Sekarang dia di mana?”


“Seperti biasa, menunggumu di dalam ruangan.”


“Usir dia, beri saja ular kobra hidup di ruanganku. Agar dia tak berani seenaknya keluar masuk ke area kerjaku.” Danzel pun mematikan sambungan telepon tersebut setelah memberikan perintah. Ia menggelengkan kepala. “Bisa-bisanya mommy menemukan spesies wanita tak memiliki urat malu seperti itu,” gerutunya.


Danzel kembali menunggu urusan Gwen selesai. Satu setengah jam, rekening beserta kartu debit sudah berada di tangan Gwen.


Mereka pun keluar meninggalkan ruangan divisi keuangan.


“Selena pulang sekolah jam berapa?” tanya Danzel saat menunggu lift.


“Jam dua.”


Danzel melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. setengah jam lagi calon anak sambungnya pulang. “Kita jemput Selena dulu, ya? Aku sudah janji dengannya,” ajaknya seraya mengelus punggung Gwen dengan lembut.


Gwen mengangguk mengiyakan. Sepertinya sulit juga menemukan spesies pria yang bisa menyayangi anak orang lain yang tak memiliki ikatan darah secara langsung. Tapi dia bisa melihat ketulusan terpancar dari mata Danzel.


Danzel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sejujurnya alasan lain mengajak menjemput Selena karena dia menghindari Alcie Glee. Tak ingin Gwen bertemu wanita siluman itu.


Dua puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Ketiganya menunggu tubuh mungil Selena keluar dari gedung sekolah.


Gwen melihat anak tirinya yang memang sedang menutup mata. Bocah itu kerjaannya tidur terus, mungkin mobil Danzel terlalu nyaman. Ia pun masuk kembali menemani Aldrich di belakang.


Sedangkan Danzel menunggu Selena dengan menyandarkan tubuhnya di kap mobil bagian depan. Dan senyumnya menghias, menyambut bocah sepuluh tahun yang berlari ke arahnya.


“Uncle ...,” teriak Selena dengan gembira memanggil Danzel.


Danzel merendahkan tubuhnya untuk berjongkok. Tangannya merentang agar Selena masuk ke dalam pelukannya.


“Ternyata uncle tak ingkar janji,” ucap Selena yang kini berada di dekapan hangat seorang pria dewasa. Papa kandungnya bahkan tak pernah melakukan itu padanya. Justru dia mendapatkan kasih sayang dari orang lain.


“Tentu saja, anak manis. Janji harus ditepati.” Danzel mengelus rambut halus yang tak terlalu lebat itu.


Danzel pun mempersilahkan Selena untuk ke dalam mobilnya. Sebelum memutuskan kembali ke perusahaan, dia bertukar kabar dengan Steve terlebih dahulu. Memastikan jika Alcie sudah pergi atau belum.


Sementara itu, di perusahaan Patt Group. Justru Steve yang saat ini sedang kebingungan untuk melepas ular kobra yang dia sewa dari komunitas pecinta hewan berbisa.


“Sial, malang sekali nasibku menjadi bawahan CEO yang sedang jatuh cinta,” gerutu Steve. Dia pun memilih untuk memanggil kembali orang yang tadi mengantarkan hewan yang dia takuti tersebut.


“Tolong masukkan kobra ini ke dalam ruangan itu,” titah Steve.


“Baik.”


Steve membuka sedikit pintu agar ular bisa masuk. Dia menutup kembali supaya hewan yang panjang dan berbisa itu tak bisa keluar. “Ekstrim juga ide Tuan Danzel ini, bagaimana kalau dia dipatuk ular?” gumamnya.