
“Tapi, aku baru saja buang air kecil,” ujar Gwen. Mana bisa dia mengeluarkan urine lagi dalam waktu dekat.
“Kalau begitu, minum saja yang banyak sampai kau kebelet,” cetus Daddy Marlin memberikan sebuah ide.
“Nah, boleh juga.” Mommy Megan yang tak sabar itu pun langsung ke dapur mengambilkan air putih untuk Gwen. “Habiskan.” Dia memberikan gelas berisi cairan berwarna bening pada calon menantunya.
Gwen pun menurut dan menandaskan air mineral itu sangat cepat. Mommy Megan mengisi lagi dan meminta calon menantunya meminum. Keduanya melakukan hal itu secara terus menerus sampai sepuluh kali.
“Aunty, aku sudah tak kuat lagi minum, perutku rasanya sangat begah,” tolak Gwen saat Mommy Megan memberikan segelas air mineral lagi.
“Baiklah, kalau begitu jangan dipaksakan.” Daripada air minumnya dibuang, lebih baik Mommy Megan habiskan sendiri saja.
Mereka pun menunggu Gwen merasakan ingin ke toilet. Dan setelah setengah jam berlalu akhirnya calon menantu keluarga Pattinson itu kebelet juga.
Gwen langsung menuju ke kamar mandinya. Mommy Megan dan Daddy Marlin berjalan mengekor di belakang.
“Kau mau apa, Dad?” tegur Mommy Megan saat suaminya ikut ingin masuk ke dalam kamar mandi.
“Mau memastikan juga dia hamil atau tidak,” jawab Daddy Marlin dengan santai.
Mommy Megan mencubit perut suaminya dengan gemas. “Kau tunggu saja di sini.”
“Aku bisa sendiri, kalian tak perlu mengikutiku sampai ke dalam.” Gwen menolak saat Mommy Megan ingin ikut dengannya. Rasanya risi jika dilihat oleh orang lain.
“Oke, baiklah. Kau tau caranya menggunakannya, kan?” tanya Mommy Megan memastikan sekali lagi.
“Dulu aku pernah hamil juga, masih ingat walaupun sedikit.” Gwen pun menutup pintu dan melakukan pengecekan urine menggunakan testpack.
“Mom, kau itu seperti belatung, tak bisa diam,” ejek Daddy Marlin yang mulai pusing melihat istrinya terus berjalan di depannya.
“Kalau aku belatung, berarti kau suami belatung.” Mommy Megan balas mengejek. Dia menggeliatkan tubuhnya di depan Daddy Marlin, menirukan gerakan larva berwarna putih.
“Mom, kau membuatku geli.” Daddy Marlin langsung memeluk istrinya agar berhenti bergerak.
Tepat saat Daddy Marlin merengkuh sang istri, pintu terbuka dari dalam. Gwen memegang testpack dengan wajah yang berseri.
Mommy Megan menyingkirkan tangan suaminya dan mendekati Gwen. “Bagaimana hasilnya?” tanyanya sangat antusias.
Gwen mengangguk dan semakin mengulas senyum bahagianya. Tangannya terangkat menunjukkan testpack digital yang menunjukkan tulisan pregnant kepada orang tua Danzel. “Aku hamil.”
“Yes ....” Mommy Megan langsung memeluk Gwen dengan gembira. “Akhirnya aku akan memiliki cucu.”
“Aku boleh ikut memeluk juga?” Daddy Marlin mencoba menyela dengan candaannya. Dalam hatinya ikut senang dengan kegembiraan keluarganya.
“Peluk saja jika kau mau,” jawab Mommy Megan.
“Tidak, nanti anakku marah jika tahu calon istrinya ku peluk,” kelakar Daddy Marlin.
Mommy Megan pun mengajak Gwen untuk duduk di sofa lagi. “Coba kau telepon Danzel, katakan padanya untuk pulang lebih awal,” pintanya.
Gwen meraih ponselnya yang ada di atas meja dan menghubungi sang pria. Namun tak tersambung. “Ponselnya sepertinya mati,” ujarnya memberi tahu.
“Bagus, lebih baik jangan beritahu dia sekarang. Kita buat kejutan saja sama seperti saat Mommy memberi aku hadiah kehamilan Danzel pada saat itu.” Lagi-lagi Daddy Marlin memberikan sebuah ide, lebih tepatnya dia ingin sang anak merasakan keharuan yang sama seperti dia dahulu.