
“Tidak, nanti aku terlihat lebih tampan dari anakku. Bisa-bisa wanitanya justru berpaling kepadaku,” seloroh Daddy Marlin. “Cukup seperti ini saja aku tetap tampan.” Ia menyugar rambut menggunakan jarinya.
Mommy Megan terkekeh seraya kepalanya menggeleng. “Astaga ... suamiku ternyata sangat percaya diri sekali,” balasnya. Tubuhnya berangsur berdiri, melingkarkan tangan di pinggul suaminya. “Ayo daddy yang tampan, kita tes calon menantu apakah cocok menjadi pasangan Danzel atau tidak,” ajaknya.
“Kau jangan berbuat sesuatu yang aneh-aneh. Kalau wanita itu pilihan anakku, sudah pasti kualitasnya baik tak seperti anak temanmu yang terakhir kali itu,” peringat Daddy Marlin. Kakinya terus mengayun keluar kamar menuju mobilnya yang terparkir di luar.
“Dad, Alcie Glee itu hanya sebagai pancinganku saja. Sedari awal aku juga sudah tahu kalau kelakuannya buruk dan tak pantas menjadi menantu keluarga Pattinson,” jelas Mommy Megan agar tak disalahkan dan diungkit terus.
Rencana Mommy Megan juga akhirnya berhasil, Danzel sungguh akan membawa seorang wanita untuk bertemu dengan mereka.
“Iya, aku paham. Maksud aku, jaga ucapanmu saat bertemu dengan calon istri pilihan Danzel.” Daddy Marlin tak ingin rencana anaknya dirusak. Dia percaya seratus persen pada keturunannya itu. Pasti tak akan sembarangan jika memilih pasangan.
“Iya, tenang saja.” Tangan yang sudah ada keriput itu mengelus lengan suaminya, meyakinkan jika nanti dirinya tak akan membuat onar.
Dan kendaraan roda empat milik Tuan Pattinson itu mulai melaju membelah jalanan Kota Helsinki. Mengantarkan ke sebuah hotel bintang lima yang sudah dipesan oleh Danzel khusus untuk pertemuan keluarga.
Sementara itu, Danzel dan Gwen baru saja keluar dari salon. Matanya benar-benar tak bisa jauh dari sosok cantik yang berada di sampingnya.
“Lihat jalannya, Danzel! Kita membawa dua anak-anak,” peringat Gwen. Rasanya ngeri ketika supir tak fokus ke depan padahal jalan sedang banyak pejalan kaki dan kendaraan lain yang berlalu lalang.
Danzel justru semakin membuat jantung Gwen berdebar hebat. Bukan karena perasaan jatuh cinta, tapi seperti menantang maut karena pria itu melepaskan tangan dari setir dan justru melemparkan senyum ke arahnya.
Danzel terkekeh dan mengelus tangan wanitanya agar tak khawatir. “Mobilku canggih, Gwen. Sudah ku pasang mode autopilot, jadi kau tak perlu khawatir lagi,” jelasnya. “Lihatlah.” Ia menunjuk stir kemudi yang sedang bergerak sendiri seirama dengan jalannya mobil tersebut.
Gwen menghembuskan napasnya lega. Tak tahu tentang tipe mobil membuatnya terlihat norak tapi beruntungnya Danzel tak pernah mempermasalahkan hal tersebut.
“Uncle,” panggil Aldrich.
“Ya, boy?” Danzel menengok ke belakang melihat calon anak sambungnya.
“Autopilot itu apa?” tanya Aldrich yang belum mengetahui kosa kata itu.
Gwen melihat bagaimana Danzel akan menangani anak usia dua tahun lebih hampir menginjak tiga yang sedang aktif sekali bertanya tentang hal-hal baru.
“Autopilot itu sebuah sistem canggih yang dimiliki mobil ini. Kita tak perlu lelah menyetir, kendaraan ini bisa berjalan sendiri menghantarkan kita ke tempat tujuan,” jelas Danzel.
“Oh, jadi Adrij bisa memakai mobil sendiri tak perlu diantar?” Bocah itu justru salah menangkap penjelasan Danzel.
“Tidak boleh, boy. Kau masih kecil belum bisa mengendarai mobil sendirian walaupun sudah ada fitur canggih,” terang Danzel.
“Kata uncle, ini bisa mengantarkan kita sampai ke tempat tujuan tanpa menyetir. Jadi, Adrij kan hanya duduk saja tak mengendarai.”