My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 137


Danzel menolak saat Alcie menawarkan berbicara di dalam rumah. Dia tak ingin berlama-lama juga berada di sana.


“Aku ingin memperingatkanmu, jangan pernah mengganggu wanitaku dan keluargaku!” tegas Danzel. Sorot matanya nampak berwibawa dan penuh keseriusan. Tak ada tatapan hangat yang biasa dia tunjukkan pada Gwen. “Jika kau masih nekat tak mengindahkan perintahku, maka jangan salahkan aku kalau sewaktu-waktu kau sudah ada di Antartika dan tak akan bisa kembali lagi!” imbuhnya memberikan sedikit ancaman.


Alcie tersenyum meremehkan. Ini adalah kesempatannya untuk menghasut Danzel agar meninggalkan Gwen. Dia masih dipegangi oleh Steve, walaupun sudah memberontak tapi tetap saja tak dilepaskan.


“Kau sampai rela mengancam seseorang hanya demi membela Gwen?” remeh Alcie. Dia berdecak seraya menggelengkan kepalanya.


“Jaga, bicaramu!”


“Apa kau sudah tahu asal usul keluarganya? Apa kau tau jika dia masih memiliki suami?” Alcie mencoba memancing Danzel untuk mengetahui apakah pria itu sadar atau tidak secara tak langsung sudah menjadi perebut istri orang.


“Dia janda, mana mungkin memiliki suami!” jawab Danzel penuh percaya diri.


Alcie tertawa terbahak-bahak. “Ternyata kau sudah ditipu oleh Gwen, pasti dia sengaja menyembunyikan identitas aslinya agar bisa memanfaatkan kekayaanmu.”


“Jangan membual, kau hanya menghasut aku agar membenci Gwen. Aku tahu akal busukmu!” Danzel tak langsung percaya begitu saja, sebab melihat perangaian Alcie yang tak ada baik-baiknya membuatnya sulit mempercayai setiap perkataan yang terlontar.


Alcie semakin menertawakan kebodohan Danzel. “Ternyata kau mudah sekali ditupu dengan wajah bak malaikatnya!”


“Diam! Urusan kita cukup sampai di sini, bualanmu itu membuatku muak! Berhenti menjelek-jelekkan wanitaku sebelum kau ku kirim ke Antartika!” peringat Danzel. Dia berucap dengan tegas dan lantang.


“Baik, Tuan.” Steve pun melepaskan tangannya yang memegang lengan Alcie. Mengibaskan kedua telapaknya seolah sedang menghilangkan debu dan kotoran.


Danzel dan Steve berjalan menuju mobil yang terparkir tepat di depan rumah Alcie.


“Hei CEO Patt Group yang katanya pintar! Jika kau tak percaya dengan ucapanku, kau bisa membuktikannya langsung jika Gwen masih memiliki suami,” teriak Alcie. Enak saja dia dikira membual, padahal semua yang dilontarkan kebenaran semua walaupun wajahnya palsu.


Danzel dan Steve mengabaikan ucapan Alcie. Seolah tak peduli dengan kalimat yang terlontar.


Alcie mengepalkan tangannya karena emosi diabaikan oleh dua pria itu. “Jangan bodoh, Danzel! Kau sudah dibutakan akan cinta hingga menutup sebuah fakta yang ada.” Dia berjalan menghampiri Danzel, mencegah pintu mobil yang hendak dibuka.


“Minggir, Alcie! Urusanku denganmu sudah selesai!” Danzel mengibaskan tangannya memberikan isyarat agar wanita yang menghalanginya itu pergi dari hadapannya.


“Tapi urusanku denganmu belum selesai.” Alcie melipat kedua tangannya di dada. “Kau menganggapku pembual, padahal yang pembohong adalah Gwen, wanita yang kau bela mati-matian!”


Danzel ingin sekali menampar wajah Alcie karena selalu menjelekkan Gwen. Tapi dia urungkan niat buruknya itu karena masih ingat bahwa wanita bukanlah lawannya. “Aku tak peduli dengan ucapanmu.” Dia memberikan isyarat menggunakan kepala agar Steve menyingkirkan Alcie yang menghalangi pintu mobilnya.


“Datanglah ke Badan Kependudukan atau kau coba mendaftarkan pernikahan dengan Gwen, pasti permintaanmu akan ditolak!” teriak Alcie saat tubuhnya diseret paksa oleh Steve agar menjauh dari Danzel.