
Danzel baru saja menginjakkan kakinya di apartemen Gwen. Ingin segera menemui wanitanya yang dia pikir sedang istirahat di dalam kamar. Langkah kakinya terhenti karena Chimera sudah menghadang tubuh atletisnya.
“Ada apa?” tanya Danzel.
“Aku ingin melaporkan sesuatu,” jawab Chimera.
Danzel menganggukkan kepala, siap mendengarkan informasi yang akan disampaikan oleh bodyguard wanitanya.
“Nona Gwen dan anak-anaknya baru saja diganggu oleh wanita bernama Alcie, tapi aku sudah memberi dia pelajaran agar tak berani datang ke sini dan berbuat macam-macam dengan Nona Gwen,” ungkap Chimera. Dia merasa hal tersebut penting untuk dilaporkan karena menyangkut keselamatan dan kenyamanan Gwen.
Danzel mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto. “Apakah ini orangnya?”
“Iya.”
Danzel menghela napasnya kasar, wanita satu itu benar-benar mengganggu dirinya dan semua orang yang ada di sampingnya. “Kira-kira apa yang dia katakan pada Gwen? Apakah dia mengancam wanitaku?”
Chimera sedang memilah jawaban mana yang harus disampaikan dan tidak karena ini menyangkut janjinya pada Mommy Megan juga yang tak akan mengatakan rahasia Gwen. “Wanita itu memaksa agar Nona Gwen meninggalkanmu dan mengancam akan mengambil Aldrich agar kau membencinya karena gagal merawat anak.” Dia memilih hanya melaporkan sedikit perdebatan Gwen dan Alcie yang dia dengar. Masalah suami Gwen, dia tak berani mengungkap.
“Apa diantara mereka ada yang terluka?”
“Tidak, semua aman. Justru dia yang ku guncang mentalnya. Wajahnya hampir ku bakar di kompor jika Nona Gwen tak menghentikanku.”
Danzel menepuk pundak Chimera. “Kerjamu bagus, bulan ini akan aku berikan bonus.”
Chimera menarik sudut bibirnya senang. Siapa yang tak bahagia jika mendapatkan bonus.
Danzel pun memilih melihat anak-anak Gwen di kamar, ternyata wanitanya juga ada di dalam sana. Kakinya perlahan mendekat dan melabuhkan kecupan di tiga orang yang sedang saling berpelukan.
“Kau baru sampai?” gumam Gwen yang merasakan ada sentuhan di kulitnya.
“Kau sudah makan?” tanya Gwen. Sebab, sedari mengantarkannya pulang, Danzel langsung berpamitan pergi.
“Belum, aku ingin memakanmu tapi mommy memintaku agar tak membuatmu lelah,” bisik Danzel di telinga Gwen. Dia sendiri tak tahu kenapa orang tuanya meminta seperti itu.
“Mau makan? Aku siapkan,” tawar Gwen. Dia ingin merubah posisi menjadi duduk, tapi Danzel mencegah sehingga tubuhnya tetap berada dalam rengkuhan sang pria.
“Tak perlu melayaniku seperti itu, Gwen. Aku akan delivery makanan saja jika merasa lapar,” tolak Danzel. Dia tak ingin selalu merepotkan wanitanya, apa lagi Gwen sepertinya sedang kurang enak badan.
“Lalu kau mau apa?”
“Tidur saja, kita temani anak-anak ke alam mimpi,” ajak Danzel.
“Kau tak mau ganti kemejamu dulu?” tawar Gwen. Selama seharian Danzel memakai setelan kerja terus dan belum sempat mandi ataupun berganti pakaian.
“Tidak, nanti saja sekalian. Aku ingin istirahat sebentar.” Danzel kian merengkuh Gwen di dalam selimut tebal. Rasanya sangat hangat walaupun udara di luar sedang sangat dingin.
“Baiklah jika itu maumu.” Gwen pun memejamkan mata, mengelus punggung tangan Danzel yang ditumbuhi bulu-bulu kasar.
“Gwen, kau tak ingin menceritakan sesuatu padaku?” Danzel mencoba memancing wanitanya agar mengatakan kejadian yang baru saja terjadi padanya.
“Tentang apa?”
“Apa saja, aku pasti akan mendengarkannya.” Walaupun sudah tahu dari Chimera tentang kejadian yang disebabkan oleh Alcie, tapi tetap saja ingin secara langsung mendapatkan dari wanitanya. Dia akan merasa senang jika dijadikan tempat berkeluh kesah pasangan. Artinya memang dirinya sangat dibutuhkan dan sudah merasa saling terbuka satu sama lain.
...*****...
...Sesajennya jangan lupa wkwkwk...