
Danzel membawa Aldrich ke toilet yang ada di dalam kamar tersebut. Dengan telaten, dia membersihkan seluruh tubuh anak tiri Gwen. Menutupi badan mungil yang polos itu menggunakan handuknya.
“Biarkan saja spreinya. Nanti office girl perusahaan yang akan membersihkannya.” Danzel yang keluar dengan menggendong Aldrich pun mencekal tangan Gwen yang tengah menyusut kain yang menutupi ranjang mahalnya.
“Jangan, anakku yang mengotorinya. Maka aku yang harus bertanggung jawab,” tolak Gwen tetap berusaha mengambil sprei tersebut untuk dia cuci.
“Gwen ... sudah ku katakan kalau aku menyukaimu. Tak mungkin aku membiarkan orang yang sudah bersemayam di hatiku untuk membersihkan kamarku.” Danzel sedikit menarik tangan wanita pujaan hatinya agar menjauh dari tempat tidurnya. “Sudah ada yang bertugas untuk bersih-bersih. Mereka juga aku gaji, jadi sudah sepantasnya membersihkan apa pun kotoran di kamarku,” imbuhnya menjelaskan.
Danzel tetap menggenggam tangan Gwen untuk dia bawa keluar saat melihat wanita itu hendak mengajukan protes.
“Di mana celana gantinya Aldrich?” tanya Danzel seraya mendudukkan bocah mungil itu ke atas sofa.
“Di tasku. Sebentar, aku ambilkan.” Gwen mendekati meja kerjanya untuk mengambil pakaian ganti anak tirinya. “Ini.” Dia berikan satu setel kain bercorak sama.
“Apakah tak ada pampers?” tanya Danzel.
“Tidak, aku tak memiliki banyak uang untuk membelikannya pampers. Biasanya dia juga tak mengompol,” jelas Gwen.
Membuat Danzel langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Steve.
“Ya, Tuan?” sapa Steve.
“Tolong belikan pampers untuk Aldrich. Jangan yang sekali pakai, beli saja yang bisa dicuci,” perintah Danzel.
“Aldrich? Siapa itu?” Steve yang belum tahu nama anak Gwen pun kebingungan sendiri.
“Anak sekretarisku.”
“Oh ... baiklah. Kira-kira berapa umurnya?”
“Dua tahun.”
“Terserah kau.”
“Ingin yang bermotif apa?”
“Steve ...!” Danzel memanggil penuh tekanan. “Kau terlalu banyak sekali yang ditanyakan, belikan saja sekarang,” tegurnya dengan nada bicara pelan agar tak membuat Aldrich takut dan juga Gwen tak ilfeel dengannya. Benar-benar menjaga image di depan wanita yang sudah dia targetkan untuk menjadi calon istri.
Steve terkikik lucu dengan atasannya. Dalam sehari dia berhasil mengerjai Tuan Danzel. “Segera meluncur ke tempat perlengkapan anak,” tukasnya. “Ada lagi yang mau dibeli?”
“Satu lagi, panggilkan office girl untuk membersihkan kamar pribadiku.”
“Oke.”
Panggilan antara atasan dan asisten pun terputus. Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas dan melanjutkan memakaikan baju Aldrich. “Uncle belikan dalaman yang tak tembus air. Agar jika kau sedang tidur, tidak mengompol lagi,” tuturnya menoel dagu anak tiri Gwen.
“Mau ... mau.” Aldrich terlihat gembira dengan menganggukkan kepalanya beberapa kali.
“Tuan, seharusnya kau tak perlu melakukan itu.” Gwen semakin merasa tak enak mendapatkan kebaikan terus menerus dari Danzel.
CEO muda itu berdiri, mengelus lengan Gwen begitu lembut. “Tak apa, aku sudah menganggap anakmu seperti anakku sendiri.” Sungguh tak gentar Danzel untuk menggapai hati wanita pujaan hatinya.
Danzel melihat jam di pergelangan tangannya saat perutnya merasakan lapar. Pantas saja cacingnya berdemo semua. Ternyata sudah menunjukkan makan siang.
Tubuh tegap dan berotot itu berangsur merendah untuk berjongkok di hadapan Aldrich. “Boy, kau ingin makan apa?” tawarnya.
“Tuan, tak perlu memanjakannya. Nanti anakku ketergantungan denganmu,” tutur Gwen. Dia takut semakin memiliki banyak hutang budi pada Danzel.
Danzel justru menggenggam tangan Gwen. Kepalanya mendongak untuk menatap wajah cantik wanita yang dia kira janda itu. “Tak apa, justru bagus jika mereka mulai bergantung dan dekat denganku.”