
“Apakah aku mengganggu tidur mommy?” tanya Gwen merasa tak enak jika memang benar suaranya terlalu keras.
“Tidak, aku memang menantikan kau bangun,” jelas Mommy Megan. Dia mendekati menantu dan cucu-cucunya.
Gwen menatap bingung ke arah mertuanya. “Kenapa mommy menunggu aku bangun?”
“Aku ingin meminta izin denganmu, bolehkah aku memberikan nama pada anak-anakmu?”
Ucapan Mommy Megan membuat Gwen mengulas senyum. “Tentu saja boleh. Memang mommy mau memberi nama apa?”
“Aku ingin memberi nama anak laki-lakimu Madhiaz Reiga Pattinson. Itu bukan sembarang nama, ada arti yang terkandung di dalamnya,” ujar Mommy Megan.
“Apa artinya?” Danzel dan Gwen bertanya bersamaan.
“Hadiah dari Tuhan yang pandai bersyukur di keluarga Pattinson.”
“Nama yang bagus, boleh juga.” Gwen menyetujui usulan untuk nama anak pertamanya.
“Untuk nama anak keduamu ingin aku beri nama Adaire Alceena Pattinson, artinya wanita cantik yang gigih dan pandai berpikir di keluarga Pattinson. Bagaimana?”
“Bagus, aku setuju,” celetuk Gwen. Dia memang belum menyiapkan nama apa pun untuk anaknya, jadi beruntung sekali mertuanya sudah menyiapkan untuk ketiga bayi mungil itu.
“Untuk yang terakhir aku ingin memberi nama—” Suara Mommy Megan terjeda karena dihentikan oleh Danzel.
“Jangan mama semua, biarkan aku dan Gwen untuk yang terakhir,” protes Danzel.
“Biarkan saja, lagi pula aku belum terpikirkan ingin memberi anak kita nama apa,” tegur Gwen.
“Tapi aku sudah,” ungkap Danzel. Dan membuat Gwen terkekeh. “Katakan saja nama apa yang ingin kau berikan untuk anak terakhir kita.”
“Evanthe Cathleen Pattinson,” ucap Danzel.
“Itu ada artinya juga?” tanya Gwen.
“Bunga yang indah dan murni di keluarga Pattinson.”
Danzel menghela napasnya. “Yasudah, tak jadi kalau begitu.”
Gwen mengelus rahang tegas suaminya. “Bukan berarti aku tak setuju. Namanya bagus, aku suka, boleh juga digunakan untuk nama anak ketiga kita.”
Dan perihal nama untuk anak-anak Danzel dan Gwen telah teratasi. Semua nama memiliki arti dan harapan masing-masing.
...........
Satu bulan berlalu, tak ada masalah dengan kondisi Gwen setelah melahirkan secara caesar. Kini ketiga anaknya sudah bertambah berat tiga kilogram.
Gwen setiap hari memberikan ASI tapi menggunakan botol karena dia kerepotan saat ketiganya menangis kehausan secara bersamaan.
“Apa mereka sudah selesai minum?” Gwen ikut duduk di ruang keluarga bersama anggota Pattinson lainnya. Ketiga anaknya sedang dipangku oleh Danzel, Mommy Megan, dan Daddy Marlin.
“Sudah,” jawab Danzel.
“Aku ingin membawa mereka untuk berjemur sebentar, selagi matahari masih belum terlalu panas,” ujar Gwen memberi tahu maksudnya.
“Aku ambilkan stroller dulu, atau mau dibantu babysitter?” tawar Danzel.
“Bersama babysitter saja.”
Danzel memberikan Cathleen—anak ketiga yang berada di pangkuannya kepada seorang wanita muda yang dia bayar untuk menjaga bayinya itu. Orang tuanya juga melakukan hal sama. Setiap anak memiliki babysitter masing-masing agar lebih mudah dalam menjaga.
“Aku ke toilet sebentar, nanti aku susul,” ujar Danzel sebelum istrinya beranjak pergi.
Gwen mengangguk dan membiarkan suaminya pergi ke kamar untuk membuang kotoran. “Aldrich dan Selena mau ikut mama atau tidak?” tawarnya.
Hari ini adalah minggu, semua orang tentu saja libur termasuk anak-anaknya yang sedang asyik menonton televisi di layar yang sangat besar.
“Mau ikut.” Aldrich langsung berdiri menghampiri mamanya.
“Kalau begitu, aku juga.” Selena pun demikian, dia ingin ikut bermain keluar bersama adik-adiknya.