My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 171


Danzel, Gwen, Selena, Aldrich, tuan dan nyonya Pattinson kini sedang duduk di meja makan untuk sarapan. Sudah satu bulan sejak persidangan berlangsung tapi pasangan yang semakin lengket itu belum juga meresmikan sebuah pernikahan.


“Danzel, kapan kau akan menikahi Gwen?” tanya Mommy Megan. Dia gemas sekali karena anaknya tak pernah berdiskusi tentang pernikahan. Dalam pikirannya Danzel ingin menjalani hubungan tanpa ikatan, tapi sebagai orang tua tentu saja tak menginginkan hal tersebut.


“Tunggu musim berganti, mom. Aku mana mungkin membiarkan Gwen yang sedang hamil memakai gaun pengantin saat salju turun. Bagaimana jika dia kedinginan,” jelas Danzel. Ternyata dia bukan tak ingin segera menikahi wanitanya, melainkan memikirkan kenyamanan Gwen.


“Oh ....” Mommy Megan tak memprotes, yang penting sudah jelas niatan putranya ke arah mana.


Mereka pun menyelesaikan sarapan lagi tanpa berbicara satu kata pun.


“Aldrich dan Selena sudah selesai?” tanya Danzel setelah hidangan di piringnya tandas.


“Sudah, papa.”


“Oke, ayo kita berangkat.” Danzel mengajak anak-anaknya untuk keluar.


“Boleh aku ikut?” celetuk Gwen. Dia seperti tak rela ditinggalkan Danzel, rasanya ingin selalu menempel karena saat dekat dengan ayah dari anak dalam kandungannya pasti tak merasakan mual. Sedangkan ketika jauh selalu membuatnya muntah terus.


“Boleh.” Danzel mengulurkan tangan untuk menggandeng sang wanita. “Aku pergi dulu, mom, dad,” pamitnya.


Tuan dan Nyonya Pattinson itu mengangguk dan melambaikan tangan mengantar kepergian sepasang keluarga yang belum resmi itu.


Danzel dan Gwen mengantarkan Aldrich ke taman bermain anak dan Selena ke sekolah. Hingga kini kendaraan roda empat milik CEO Patt Group hanya tersisa mereka berdua.


“Gwen,” panggil Danzel.


“Aku tak pernah melihat orang tuamu, dan juga belum mengenal mereka. Apa kau bisa mengantarku pada orang tuamu?” tanya Danzel. Rasanya tak etis jika dia ingin menikahi Gwen tapi belum meminta izin pada orang tua yang membesarkan wanitanya.


Gwen mengangguk. “Papaku sudah meninggal, sedangkan mamaku masih menjalani sisa hukumannya di dalam penjara karena pernah berniat mencelakai seseorang,” jelasnya. Dia melihat raut wajah Danzel saat mendengar informasi dari mulutnya, ternyata CEO Patt Group itu nampak biasa saja.


“Aku sudah tahu latar belakang keluargamu. Aku hanya ingin bertemu meminta izin dengan mereka jika ingin menikahimu,” terang Danzel. Tangannya mengelus pipi Gwen yang terus memandanginya.


“Apa kau yakin ingin bertemu dengannya sekarang?”


“Ya, lebih cepat semakin baik.”


Gwen pun memberitahukan tempat pemakaman papanya. Danzel langsung melajukan mobil. Dia tak lama berada di sana, hanya melihat kondisi peristirahatan terakhir calon mertuanya. Bahkan tak mengeluarkan suara apa pun, toh itu hanya sebuah nisan yang tak bernyawa.


Setelah lima belas menit di pemakaman umum, Gwen membawa Danzel ke penjara di mana Sanchez juga ditahan di sana. Hanya saja berbeda kasus dan tempat penahanan karena kejahatan Sanchez sudah besar.


Kedua orang itu duduk bersebelahan menunggu orang tua Gwen. Dan tak berselang lama orang yang ditunggu pun masuk ke dalam ruangan khusus untuk menjenguk narapidana.


“Gwen,” panggil wanita yang kini tubuhnya semakin kurus hingga terlihat jelas keriput di kulitnya.


“Mama,” sahut Gwen.


Orang tua Gwen pun duduk di kursi yang ada di hadapan Gwen. Dia menelisik pria yang datang bersama anaknya, tak perlu bertanya tentang Danzel, sudah pasti dirinya mengetahui identitas CEO Patt Group yang sering muncul di berita bisnis. “Dia siapamu?”