My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 125


Danzel memakaikan kembali pakaian Gwen agar wanitanya tak kedinginan. Menaikkan suhu penghangat ruangannya dan menyelimuti sekretarisnya.


“Aku ambilkan air panas dulu untuk mengompres perutmu.” Danzel tak menunggu persetujuan Gwen. Dia langsung keluar ruangan meminta Steve untuk mengambilkan ke pantry.


“Ini, Tuan.” Steve memberikan air panas di dalam gelas pada Danzel.


CEO Patt Group itu menatap aneh pada asistennya. “Kenapa kau memberiku gelas?”


“Bukankah tadi Anda memang meminta air panas?”


“Untuk mengompres, Steve. Bukan diminum,” tegas Danzel. Dia bergeleng kepala dengan kelakuan asistennya itu.


“Kalau memberi perintah yang jelas, Tuan. Tadi Anda hanya mengatakan untuk mengambilkan air panas karena Nona Gwen sedang sakit.”


Danzel menghela napasnya, ternyata dia juga salah memberikan arahan. “Kembalilah dan bawakan aku kompresan air panas,” titahnya.


“Baik.” Steve membawa lagi gelas yang tadi.


“Steve, taruh air itu, aku juga butuh.”


Steve menggelengkan kepala. Semenjak jatuh cinta, tuannya jadi lebih aneh dan tak jelas. Tapi tetap saja dia menuruti semua perintah Danzel. Demi uang.


Tak berselang lama, pesanan Danzel pun datang juga. Dia langsung masuk ke dalam kamar membawa gelas berisi air panas dan kompresan.


“Gwen, minumlah ini dulu.” Danzel membangunkan wanitanya yang sedang terlelap.


“Maaf, aku sepertinya sangat lelah.” Perlahan Gwen memposisikan tubuhnya untuk duduk bersandar di headboard. Otaknya yang setiap hari digunakan untuk berpikir ditambah dijamah oleh Danzel membuatnya terasa lemas.


Danzel mendekatkan gelas ke bibir Gwen. “Sudah hangat, habiskanlah sebelum menjadi dingin,” titahnya.


Gwen menuruti semua setiap ucapan Danzel. Setelah air di gelas kosong, wanita itu kembali tiduran.


“Mengompres perutmu agar tak sakit lagi.” Danzel menunjukkan kompresan yang tadi dibawakan oleh Steve.


Hangat pun mulai menjalar di perut Gwen. Rasanya sangat enak dan perut kramnya lumayan tersamarkan.


“Istirahatlah. Aku akan menjemput anak-anak.” Danzel mengecup kening sekretaris spesialnya. Mengelus pipi mulus itu sebelum beranjak meninggalkan Gwen sendirian.


...........


Wajah Alcie Glee sudah kembali seperti semula lagi. Tulang hidungnya sudah tak bergeser dan memar di wajahnya tak ada. Hanya bibirnya sedikit bertambah volume karena memang disengaja.


“Aku sudah semakin seksi dan menggoda,” ujar Alcie seraya melihat pantulan diri di cermin. Ia sangat puas dengan hasil operasi plastiknya, walaupun tak banyak yang berubah tapi membuatnya sangat percaya diri bisa membuat banyak pria terpikat termasuk Danzel Pattinson.


“Sudah lama aku tak datang ke kantornya, sekarang saatnya bertemu calon suamiku,” gumam Alcie. Dia tak sabar ingin segera menggoda Danzel agar segera menikahinya.


Alcie bersiap secepat mungkin dan tak lupa berdandan ala orang sedang sakit flu. Pipi hingga hidungnya sengaja dibuat merona.


Kaki terbalut sepatu boots bermotif macan itu menghentak angkuh menyusuri lobby.


“Nona, ada keperluan apa?” Resepsionis langsung menghadang Alcie saat menyelonong melewati dirinya.


“Bertemu calon suamiku!” ketus Alcie.


Resepsionis itu tersenyum sinis. Wanita medusa ini tak ada berubah sedari membuat onar pada kala itu. “Tuan Danzel sudah memiliki calon istri, Nona. Dan itu bukan Anda. Jika ingin membual, tolong jangan di sini!”


“Aku calon istrinya, kau itu bagaimana!” Alcie tak mau kalah dengan perdebatan itu.


“Silahkan tunggu di sana, Nona.” Resepsionis menunjuk sofa yang melingkari pilar tinggi di lobby. “Tuan Danzel sedang keluar menjemput anak calon istrinya!” tegasnya. Dia tak ingin berdebat yang tak penting dengan orang angkuh tak tahu diri seperti Alcie Glee.