My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 51


Selama tiga hari Danzel memilih tak pulang ke mansion. Dia menyewa apartemen kecil di samping tempat tinggal Gwen agar lebih dekat dengan wanita pujaan hatinya dan memudahkannya pergi bersama ke kantor. Barang-barang di hunian barunya juga semuanya baru, tentu saja Steve yang direpotkan oleh CEO muda yang sedang jatuh cinta itu.


Pakaian Danzel juga sudah banyak yang ada di sana. Sungguh niat sekali pria itu mendekati Gwen. Apartemen yang kecil dan sangat sederhana itu sudah disulap menjadi tempat tinggal yang nyaman dan bergaya elegan.


Hari-harinya berjalan seperti biasa. Mengantar jemput Selena, bekerja, dan modus mendekati Gwen tak pernah libur sedetik pun. Pekerjaannya bisa lancar tanpa gangguan Alcie Glee, sepertinya wanita itu belum ada yang menjamin agar keluar lebih awal.


Hari ini adalah sabtu, artinya semua orang libur untuk bekerja atau sekolah. Danzel ingin mengajak anak-anak Gwen bermain di apartemennya.


“Di mana Selena dan Aldrich?” tanya Danzel pada wanita yang baru saja membukakan pintu untuknya.


“Sedang membantuku menjemur pakaian di balkon,” jawab Gwen. Ia belum mempersilahkan orang yang terang-terangan mengutarakan perasaan padanya itu.


“Boleh aku masuk?” izin Danzel.


“Oh, silahkan.” Gwen sedikit beranjak memberikan ruang agar tubuh tegap atasannya bisa masuk ke dalam.


Gwen hanya menatap punggung Danzel yang menuju ke arah balkon di mana anak-anaknya berada. “Danzel, kau terlalu baik, tapi bercerai dengan suamiku bukanlah hal yang mudah,” gumamnya. Bukan dia tak pernah berniat untuk memutuskan hubungan dengan Sanchez, tapi suaminya tak pernah setuju dan tak mau berpisah dengannya.


Hembusan napas kasar keluar dari bibir Gwen, ia ikut bergabung dengan Danzel yang ikut membantu menjemur baju dengan kedua anaknya.


“Oke, Mama.” Bukan hanya Selena dan Aldrich saja yang menjawab, tapi Danzel juga ikut menanggapi.


Dan sesaat mata pria itu bertemu pandang dengan manik Gwen. Ulasan senyum tanpa kata Danzel layangkan.


Gwen yang menyadari tatapan memukau dari Danzel pun segera memutus kontak. “Jangan memandangku seperti itu,” tegurnya setelah mereka selesai menjemur dan kedua anaknya masuk ke dalam.


“Kenapa?” Danzel meraih dagu Gwen dengan lembut dan memalingkan wajah cantik itu agar tetap menatapnya.


“Aku takut jatuh cinta denganmu,” jujur Gwen. Walaupun dagunya dipegang oleh Danzel dan wajahnya diarahkan pada sosok tampan itu, tapi matanya tetap mencoba untuk menghindar. Bukan dia tak sopan, tapi tak tahan dengan sorot penuh cinta yang ditunjukkan oleh Danzel padanya.


Danzel justru mengulas senyumnya, mengelus rambut Gwen sesaat dan sedikit mencondongkan wajahnya untuk berbisik di telinga wanita yang dia cintai itu. “Jika pandanganku bisa membuatmu jatuh cinta padaku, maka akan aku lakukan setiap detik agar kau cepat mencintaiku.”


Gwen sampai menahan napasnya saat merasakan hembusan napas Danzel yang menyapu kulitnya. Menahan diri agar tak menegang. Bisikan dekat leher adalah salah satu titik sensitifnya.


“Aku mau mengajak anak-anakmu bermain di apartemen baruku, boleh?” Danzel sungguh tak paham situasi yang dihadapi Gwen saat ini. Dia tetap saja berbisik di telinga wanita itu.


“Bo—boleh.” Gwen menganggukkan kepalanya. Suaranya terasa serak akibat melawan gejolak yang mendadak muncul karena titik sensitifnya diganggu.