My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 132


Danzel yang kini sedang berada di mansion keluarganya pun masih setia duduk di hadapan mommynya. Sedari tadi menginterogasi wanita yang melahirkannya itu untuk menceritakan kenapa Alcie datang ke sana dan berujung diusir secara tak terhormat. Namun Mommy Megan enggan untuk berkata yang sejujurnya.


“Mom, kalau kau tak menceritakan padaku, aku akan melihat secara langsung apa yang dilakukan wanita itu padamu melalui rekaman CCTV,” ujar Danzel. Mommynya susah sekali berbicara terus terang dengannya. Padahal dia khawatir medusa itu melakukan hal yang buruk dengan keluarganya. Mommy Megan tak mungkin sampai mengusir seorang tamu jika kelakuannya baik atau sopan.


“Lihat saja.” Mommy Megan justru mempersilahkan anaknya untuk mengecek sendiri. Toh CCTV di mansionnya hanya visual saja tak ada pengintai suaranya. Jadi putranya tak akan bisa mengetahui percakapannya dengan Alcie.


“Oke, kalau sampai Alcie melukaimu, aku akan segera melakukan tindakan agar dia tak semena-mena dengan keluargaku.” Danzel yang sudah penasaran pun beranjak dari sofa nyaman itu. Kakinya mengayun menuju ruangan khusus keamanan di mana seluruh rekaman CCTV berada. Diikuti Mommy Megan yang berjalan di belakangnya.


Petugas yang berjaga mengamati monitor yang lumayan banyak itu pun berdiri dan memberikan hormat. “Tuan, ada yang bisa dibantu?” tanyanya. Tuan dan Nyonya Pattinson itu jarang sekali ke sana, pasti ada sesuatu hal penting yang ingin diketahui.


“Kau melihat mommyku bertemu seorang wanita beberapa saat yang lalu?” tanya Danzel.


“Iya.”


“Ingat ada di ruangan mana dan jam berapa?”


“Ingat.”


“Coba putarkan rekaman CCTV nya.”


“Baik.”


Danzel menarikkan satu kursi untuk mommynya duduk dan membiarkan dia berdiri seraya menunggu salah satu pegawai mansion Pattinson itu memutar rekaman yang dia minta.


“Ini, Tuan.”


“Mom, apa yang kau bicarakan dengannya sampai kalian seperti sama-sama emosi seperti itu?” Danzel sekarang penasaran dengan percakapan dua wanita yang sepertinya sudah tak sejalan lagi.


“Aku memintanya untuk berhenti mengejarmu,” ungkap Mommy Megan. Dia tak berbohong, hanya saja tak lengkap saat memberikan informasi.


“Lalu, kenapa kau sampai mengusirnya?”


“Dia tak mau meninggalkanmu. Tentu saja membuatku marah, aku tak ingin merusak kebahagiaanmu dengan Gwen.”


Danzel mengelus lengan mommynya. Ternyata orang tuanya sangat mendukung hubungannya dengan Gwen sampai mengusir wanita yang pernah ingin dijodohkan dengannya. “Mommy tak perlu berurusan lagi dengannya. Biar aku yang mengatasinya sendiri,” pintanya. Dia tak ingin orang tuanya itu ikut pusing walaupun berawal dari ulah Mommy Megan sendiri.


Danzel pun mengajak mommynya keluar lagi dari sana. “Daddy di mana?” tanyanya disela kakinya yang mengayun menuju bangunan utama.


“Ada di kamar sedang tidur.”


“Dia baik-baik saja, kan?” Danzel menanyakan kondisi orang tuanya karena tujuannya ke sana memang untuk hal itu.


“Iya, memangnya kenapa?”


“Tidak ada, aku hanya ingin memastikan kalian sehat.” Tangan Danzel mengelus lengan mommynya. “Mom, aku pulang lagi ke apartemen, ya? Gwen beberapa kali merasakan kram perut, aku khawatir jika terlalu lama ditinggal akan terjadi hal buruk padanya,” pamitnya.


Mommy Megan menatap Danzel dengan wajah yang terkejut bercampur sedikit bahagia. Bibirnya mengulas senyum karena pikirannya sudah terisi sesuatu hal yang menggembirakan.