My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 113


Sebagai orang tua, Mommy Megan juga menginginkan putranya bahagia. Dia bisa menilai kalau Danzel sangat mencintai Gwen. Dan dia akan mengusahakan segala cara demi mempersatukan mereka berdua.


“Aku sengaja tak memberi tahu Danzel walaupun sudah mengetahui hubunganmu. Aku tak ingin kebahagiaan anakku hilang. Sudah lama dia tak secerah saat bersamamu setelah ditinggal menikah kekasihnya,” ujar Mommy Megan.


Tentu saja hal itu membuat Gwen bisa sedikit bernapas lega. Calon mertuanya ternyata sangat baik, pengertian, dan memahami perasaannya. “Terima kasih karena kau sudah mendukungku.” Gwen mengelus punggung tangan Mommy Megan penuh rasa syukur.


“Aku tak mendukung kebohonganmu, Gwen. Tapi karena putraku sudah berasumsi sendiri bahwa kau seorang janda dan tak mencari lebih dalam tentang dirimu, mau tak mau aku juga harus menutupinya agar Danzel tak patah hati untuk kedua kalinya,” jelas Mommy Megan.


“Aku sungguh mencintainya, meskipun dia tak memiliki harta,” ujar Gwen.


“Aku tahu siapa wanita yang benar-benar tulus dan memiliki akal bulus. Jika kau menginginkan harta anakku, pasti sudah sejak lama kau meminta menikah dengannya atau memintanya untuk memberikan sebuah hunian megah. Tapi kau justru tinggal di sebuah apartemen kecil tanpa AC, kau tak memanfaatkan situasi walaupun seharusnya bisa menguntungkan bagimu,” jelas Mommy Megan mengutarakan penilaiannya selama ini. Walaupun belum mengenal lama, tapi sedikit tahu tentang gerak-gerik seseorang.


“Danzel sangat ingin menikah denganku dan menginginkan aku hamil anaknya. Tapi perasaanku sangat takut kalau suatu saat nanti dia kecewa dan terluka karena kebohonganku. Aku berencana ingin bercerai, tapi keluar dari keluarga Eisten tidaklah mudah,” jelas Gwen. Yang harus dipikirkan bukan hanya Sanchez saja, tapi Mama Esme—Nyonya di keluarga Eisten yang pastinya akan mempersulit proses perceraian karena wanita tua itu membutuhkannya sebagai mesin penghasil uang.


“Aku akan bantu mencari jalan keluarnya.” Mommy Megan juga ikut pusing dengan hubungan Gwen dan Danzel. Tangannya menepuk punggung tangan calon menantunya agar tak perlu risau.


Mommy Megan beralih menatap Chimera. “Kau!” tunjuknya.


“Aku?” Chimera menunjuk dirinya sendiri.


“Iya, siapa lagi.”


“Ada apa?”


“Kau mendengar semua perbincanganku dengan Gwen?” tanya Mommy Megan.


“Jangan katakan pada Danzel semua yang kau dengar pada hari ini!” titah Mommy Megan.


“Tenang, bibirku aman.” Chimera juga tahu mana yang harus dilaporkan dan tidak.


Obrolan di sana pun berhenti saat Mommy Megan melihat seseorang yang sedari tadi di tunggu sedang berjalan menyusuri lobby bersama seorang wanita muda.


Mommy Megan menyenggol lengan Gwen. “Lihatlah, ini yang ingin aku perlihatkan padamu,” ujarnya seraya menunjuk dua orang yang mulai menuju lift setelah berhenti di resepsionis.


Gwen membulatkan matanya, kenal betul dengan orang tersebut. “Bukankah itu suamimu?”


“Memang, ayo ikut denganku.” Mommy Megan menarik tangan Gwen untuk mengikutinya.


Ketiga orang itu pun berjalan dengan langkah yang cepat saat lift mulai tertutup. Mommy Megan langsung masuk ke lift sebelahnya. Dia bahkan tahu di mana tujuan suaminya.


Banyak pertanyaan yang berputar di kepala Gwen saat ini. Tapi bibirnya takut salah berucap sebelum Mommy Megan yang memberitahu sendiri.


“Kenapa mereka masuk ke kamar berdua? Kau tak mau menghalanginya?” tanya Gwen. Dia menatap wanita di sampingnya yang seolah sudah biasa menyaksikan hal tersebut.


...*****...


...Waduh ada apa dengan bapaknya Danzel?...