
"Aku lapar!"
"Hah?"
Bulan mengerjap, "Tapi itu bekal aku.."
"Aku belum sarapan!"
Bulan semakin heran dengan Bintang, sikap pemuda itu seperti bunglon. "Ok, ok. Ini buat kamu aja," ucap Bulan akhirnya. Ia menghela nafas panjang, lalu menyerahkan kotak bekalnya pada Bintang.
Lebih heran lagi saat ternyata Bintang memakan nasi goreng buatannya disana, dihadapannya.
"Kenapa gak makan di kelas kamu aja?" tanya Bintang.
"Biar kamu gak nyangka nasinya aku buang," jawab Bintang tanpa menoleh. Ia terus menikmati nasi goreng buatan Bulan yang entah mengapa rasanya jadi lebih lezat.
Bulan menggelengkan kepalanya, ia memang kerap menanyakan hal itu pada Bintang, apakah nasinya habis? Apakah bekal darinya di buang? Atau apakah bekal darinya di makan atau tidak?
"Beberapa kali aku liat bekal dari aku Zeni yang makan, makanya aku suka bawel nanya ini itu," jelas Bulan.
"Itu karena dia ambil sendiri, bukan aku yang ngasih," ucap Bintang. "Uhuk uhuk uhuk.."
"Astaga, pelan-pelan Bintang. Aku gak akan minta kok," Bulan menepuk-nepuk punggung Bintang dengan pelan, lalu mengambil air mineral yang ia bawa dan ia berikan pada Bintang, "Minum dulu.."
Bintang mengambil air mineral itu dari tangan Bulan, kemudian meminumnya. Matanya bahkan sedikit berair karena batuk, "Makasih.." ucapnya.
Bulan mengangguk, ia kembali menutup botol air tersebut lalu ia simpan di hadapan Bintang yang mulai kembali memakan nasi goreng yang hanya tinggal sedikit saja.
"Aku sudah kenyang," ucap Bintang.
Bulan menatap bekalnya yang habis, ia mengambil kotak bapperwarenya lalu ia simpan kembali ke dalam tas.
"Kamu penyuka bapperware?" Tanya Bintang setelah ia selesai minum.
Bulan mengangguk, "Iya, kebawa-bawa sama mama."
Sadar atau tidak, Bintang tersenyum. Dan senyuman pemuda mampu membuat jantung Bulan mengamuk. Selama tiga tahun mengejar Bintang, baru kali ini Bintang tersenyum padanya. Ia memang sering melihat pemuda itu tersenyum, tapi bukan dia lah alasan Bintang menyunggingkan senyum mahalnya. Kali ini, di jarak yang dekat, pemuda itu tersenyum padanya. Rasanya dunia Bulan terhenti saat itu juga.
"Mami aku juga suka banget sama bapperware, dia punya lemari khusus buat koleksi bapperwarenya. Dia pasti seneng banget ketemu orang yang se-frekuensi sama dia.."
Bulan tak tahu harus menanggapi apa, ia belum bisa move on dari senyuman Bintang.
"Bulan, kok bengong?" Bintang menjentikkan jarinya di hadapan Bulan, membuat gadis itu mengerjap lalu berdehem mengusir gugup.
"A-aku gak papa.." Bulan semakin di buat bingung, kenapa di saat ia mantap melupakan Bintang, pemuda itu justru bersikap lain dari biasanya. Ini bahkan percakapan terpanjang mereka, Bulan benar-benar dilema.
"Aku lupa, kamu udah sarapan kan? Gak papa kan bekal kamu habis?" Tanya Bintang.
Bulan mengangguk, padahal ia belum sarapan sama sekali. "Udah kok, Ya gak papa, kan udah. Kalau aku jawab gak boleh juga percuma, masa iya kamu mau muntahin makanannya lagi."
Keajaiban kembali terjadi saat Bintang tertawa, pemuda itu tertawa lepas hingga memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih dan rapi. Kedua matanya bahkan tampak menyipit karena tawa.
Bak angin sepoi-sepoi menerpa permukaan wajahnya, Bulan asik menatap Bintang yang masih tertawa. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan, bibirnya menyunggingkan senyuman. "Mimpi, ini mimpi kah? Aku gak bangun.."