MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
SEDIKIT TAK RELA


Sudah sekitar lima belas menit Bintang menghentikan mobilnya di depan cafe milik Angkasa, tapi Bulan tak juga mau turun. Bintang pun membiarkan gadis itu menenangkan dirinya, karena sepanjang perjalanan tadi, Bulan tak berhenti menangis.


"Bulan, kalau kamu gak siap buat kerja, sebaiknya aku antar kamu pulang. Aku bisa bilang ke Angkasa buat izinin kamu," ucap Bintang dengan lembut.


Bulan menghapus air matanya, ia menggeleng dan tersenyum pada Bintang, "Aku harus kerja. Maaf udah repotin kamu," lirih Bulan.


Bintang balas tersenyum, ia duduk miring menatap penuh wajah cantik Bulan yang tampak berantakan, "Kalau kamu mau kerja, jangan nangis lagi," ucapnya seraya menghapus air mata yang masih membasahi pipi gadis itu. "Aku beneran gak suka liat kamu nangis." Ia genggam lembut tangan Bulan yang terasa dingin, lalu sebelah tangannya yang lain menyingkirkan beberapa helai anak rambut di kening Bulan yang tampak leper. Padahal AC di mobil menyala, tapi Bulan berkeringat.


"Jangan gini, Bintang. Kamu bikin aku baper lagi, aku udah berusaha buat fokus sekolah, kalau kamu sebaik ini, mana bisa aku lupain kamu.." celetuk Bulan.


Bintang tertawa tanpa suara, ia mengusap puncak kepala Bulan dengan gemas, "Kalau gitu jangan lupain aku."


"Apa imbalannya kalau aku gak jadi lupain kamu? Kamu aja gak mau aku kejar, apalagi jadi pacar aku."


"Imbalannya adalah.."


Tok tok tok


Keduanya menoleh saat kaca depan mobil terdengar di ketuk, Angkasa tampak cemberut di luar sana.


"Ck, ganggu!" Gumam Bintang.


Bulan terkekeh, lalu menarik tangan Bintang yang masih menggenggam tangannya, "Aku kerja dulu, makasih udah nemenin aku. Maaf aku ngerepotin kamu, lain kali enggak deh.."


"Kamu boleh repotin aku asal jangan nangis lagi, ok?" Bintang kembali mengusap puncak kepala Bulan, ia melepaskan tangan Bulan saat gadis itu membuka pintu mobil.


"Hati-hati.." pesan Bulan seraya melambaikan tangan.


Di perjalanan, perlahan tangan Bintang terulur, menyentuh dadanya yang terasa berdebar aneh. "Sejak kapan aku punya penyakit seperti ini? Aku harus tanya mami, apa di keluarga kita ada yang punya riwayat penyakit jantung?"


***


"Lo beneran mau kerja? Kalau mau izin juga gak papa kok, gue ngerti," Angkasa menghampiri Bulan yang baru saja berganti pakaian dan berjalan menuju pantry.


"Kerja lah, Sa. Gak enak kalau izin, baru juga gajian masa udah izin.." Bulan tertawa, pamit pada Angkasa untuk memulai pekerjaannya.


Angkasa tertawa tanpa suara, kepalanya menggeleng beberapa kali melihat tingkah Bulan yang gampang sekali berubah. Baru beberapa menit yang lalu ia melihat Bulan masih menangis di dalam mobil Bintang, sekarang gadis itu bisa terlihat ceria.


Ya, Angkasa memang memperhatikan interaksi Bulan dan Bintang dari dalam cafe. Meski tak terlalu terlihat, tapi ia masih bisa melihat sikap lembut Bintang pada Bulan. Ketika ia melihat interaksi Bintang semakin dekat dengan Bulan, ia keluar dan mengganggu mereka. Entah mengapa kakinya sangat sulit ia tahan, ia tak mau mengganggu Bintang dan Bulan, tapi sisi hatinya yang lain ia merasa tak rela melihat Bulan dan Bintang dekat.


"Eheeemm, mas Angkasa jatuh cinta yah?"


Pertanyaan itu membuat Angkasa menoleh, ia berdecak lalu menoyor pipi Dewa yang jika malam menjelma menjadi Dewi. Pria setengah matang itu memang dekat dengan Angkasa. Dewa adalah karyawan pertama Angkasa, dari awal cafe itu di buka, Dewa lah yang menemani Angkasa.


"Apasi Wa, Sono kerja!" usirnya.


Alih-alih takut, Dewa justru tertawa, tangannya yang lentik mencolek dagu Angkasa dengan berani, karena memang tak pernah ada yang berani menggoda Angkasa selain Dewa. "Ngusir, mau ekeu bantuin gak mas kuh?"


"Ogah, lagian siapa yang jatuh cinta? Jatuh tersungkur mah iya."


Dewa kembali tertawa, lalu pergi menghampiri Bulan. Mereka tampak tengah berbincang, sesekali Bulan melirik Angkasa, membuat Angkasa penasaran apa yang Dewa dan Bulan bicarakan.


"Jangan-jangan mereka ghibahin gue lagi!"