MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
PAWANG ANGKASA


Satu bulan pertama, Bulan memang merasa kesulitan menyesuaikan diri. Cara kerja tim LaGroup yang cepat dan teliti membuat Bulan terseret-seret, namun gadis itu tak pantang menyerah, Bulan terus berusaha mengimbangi timnya sampai akhirnya ia bisa mengikuti cara kerja mereka.


Dua bulan ia mulai bisa menikmati pekerjaannya, meski banyak tantangan juga jam kerja yang terkadang lembur, tak membuat Bulan kapok. Gadis itu terus berusaha bekerja dengan baik, apalagi imbalan atau gaji yang ia dapat memang seimbang dengan kerja kerasnya. Pantas saja begitu banyak orang yang ingin masuk ke perusahaan itu, ternyata gaji yang LaGroup berikan memang menggiurkan, nilai yang sangat fantastis.


Tiga bulan ia mulai mempunyai banyak teman, Bulan mulai di kenal di kalangan LaGroup. Mungkin karena Bulan mudah bergaul, pembawaannya yang selalu ceria juga kecantikan yang ia miliki mampu membuat Bulan cepat di kenal. Nyaris semua penghuni LaGroup mengenalnya.


Sejauh ini, Bulan betah dan nyaman bekerja di sana. Pekerjaannya semakin lancar jaya, bahkan Bulan mulai bisa menabung untuk membelikan sang papa sebuah mobil.


Jam istirahat, Bulan juga teman-temannya makan di kantin. Tempat yang biasa mereka sambangi saat jam istirahat tiba. Tak terkecuali Angkasa, pria itu juga tak pernah absen datang ke tempat itu jika ada Bulan.


"Lan, kamu gak ada niatan jadiin aku pacar kamu gitu?" celetuk Gilang, salah satu teman divisi Bulan yang gencar mendekati gadis itu bahkan sejak pertama Bulan bekerja disana.


Bulan menggeleng, "Enggak," jawabnya dengan mulut penuh.


"CK, apaan sih Lo!" Angkasa sewot, ia melempar tissue bekas ia pakai ke arah Gilang.


"Gak usah marah lah pak, namanya juga usaha," kata Gilang.


"Pak pak pak, gue bukan bapak Lo!" Angkasa masih tampak sewot, ia lalu menoleh pada Bulan yang sibuk dengan makanannya. "Lan, berapa kali dia nembak kamu?" Tanyanya.


Bulan menghentikan kunyahannya, lalu berpikir, "Sepuluh kali ada gak, Lang?" Tanyanya pada Gilang.


"Lebih, Lan. Kamu-nya aja yang gak pernah terima, padahal aku pantang mundur."


Angkasa mendelik, kemudian berkata, "Gue kasih tahu sama Lo, Lo gak bakalan bisa jadi pacarnya dia, saingan Lo berat. Mantannya dia gak kaleng-kaleng, gak sebanding sama Lo. Lo pasti kebanting kalau Lo tahu siapa mantannya," ucapnya.


"Sa! Dia bukan mantan aku yah! Nembak aja gak pernah, mana bisa jadi mantan. Jangan bahas dia, aku lagi makan, aku gak mau nafsu makan aku ilang. Mubadzir, makanan aku masih banyak," protes Bulan.


Gilang ingin tertawa, namun mendengar kata pecat, ia menciut, "Maaf pak."


Angkasa memberengut kesal, hendak kembali melempar tissue pada Gilang namun Bulan memelototinya. Karena semua orang pun tahu, Bulan adalah pawang Angkasa. Pria itu hanya menurut pada Bulan.


***


"Bulan, lima belas menit lagi kita akan meeting dengan pak Presdir, apa semuanya sudah siap?" Tanya Gea, Gea adalah ketua tim desain grafis.


Karena divisi desain grafis adalah salah satu divisi yang bekerja terhubung langsung dengan CEO. Semua yang mereka kerjakan akan di setujui langsung oleh CEO mereka.


"Siap Bu, semuanya sudah aku susun rapi. Kita hanya tinggal presentasi saja," jawab Bulan.


"Bagus, bersiaplah, jangan sampai pak Langit menunggu kita."


Bulan mengangguk, lalu menyiapkan materi yang akan mereka bahas nantinya. Mereka tengah menggarap proyek besar, yang jika di setujui Langit, maka mereka pun akan terjun langsung ke lapangan untuk memastikan semuanya sesuai dengan desain yang sudah mereka persiapkan.


"Meeting kali ini beda, Lan. Kata pak Langit, akan di hadiri langsung sama klien penting." Gea memulai percakapan saat mereka memasuki lift menuju ke lantai teratas.


"Aku jadi gugup, Bu. Semoga aja mereka menyukai desain kita ya, Bu."


Gea tersenyum, "Iya, semoga ya Lan."


Percakapan mereka terhenti saat pintu lift terbuka. Di lorong menuju ruang meeting, mereka bertemu dengan Angkasa yang sepertinya juga hendak menuju ke ruangan yang sama. Akhirnya pria itu diam menunggu.