MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
BEKERJA


"Ayo turun, kita hampir telat ini Lan," Angkasa yang sudah turun lebih dulu menarik-narik tali tas Bulan. Gadis itu masih bergeming seraya memegang erat tasnya.


"Jangan narik-narik, nanti tas aku rusak!" omelnya, Bulan menghela nafas panjang, kemudian turun juga. Entah mengapa ia merasa takut, mungkin ini hal wajar mengingat ini pertama kalinya ia akan melakukan interview di perusahaan besar. Meski dulunya ia juga putri pengusaha besar, tapi mana tahu ia tentang dunia lamar melamar seperti ini.


Angkasa tersenyum lebar, lalu menutup pintu mobilnya dengan keras, membuat Bulan terkejut lalu kembali mengomel.


"Jangan ngomel terus, kita udah telat. Ayo ke ruangan Om Langit, durhaka banget sebagai calon karyawan, masa bos besar di suruh nunggu!" Angkasa terus menggerutu, sayangnya Bulan tak benar-benar fokus mendengarkan. Gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri.


Di depan pintu utama, mereka di sambut ramah oleh dua penjaga yang sigap membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk.


"Mas Angkasa, silahkan masuk. Tadi Tuan besar sudah berpesan bahwa beliau menunggu anda di ruangannya," ucap salah satu penjaga.


Angkasa mengangguk, "Ok, pak. Terima kasih, saya masuk dulu," Angkasa tersenyum ramah, lalu menggandeng tangan Bulan agar gadis itu berjalan cepat mengikutinya. Mendengar Langit sudah menunggunya, ia jadi tak enak. Karena selama ini, belum ada yang berani membuat Langit menunggu kecuali Jingga, pawangnya.


"Sa, aku pake high heels kalau kamu lupa!" omel Bulan, ia bahkan berjalan terseok-seok mengikuti langkah lebar Angkasa.


"Aku gak lupa, tapi kita harus cepat-cepat, Lan."


Angkasa membawa Bulan ke lift khusus untuk para petinggi perusahaan, ia tak mau mereka semakin terlambat jika menggunakan lift umum untuk para karyawan.


Lift tertutup setelah Angkasa menekan nomor lantai teratas gedung megah itu. Keduanya diam dalam keheningan. Sampai Angkasa tiba-tiba bicara.


"Lan, kamu gak pernah baper sama aku?"


Bulan menoleh, keningnya sedikit berkerut, ia lalu menggeleng. Membuat Angkasa mengerucutkan bibirnya tapi Bulan justru tertawa.


"Apasi, Sa? Salah minum obat yah? Tiba-tiba nanya gitu, kamu kan tahu, aku gak mau mikirin cinta-cintaan dulu. Males nyeseknya, males patah hatinya, males move onnya."


"Sampai kapan, Lan? Kita tambah tua loh, kan kata guru biologi kita dulu, kita itu harus memperbanyak keturunan."


"Kita? Kamu aja kali, aku enggak. Aku gak merasa tua tuh, aku masih ABG." Bulan kembali tertawa, ia bergelayut di lengan Angkasa, menyenderkan kepalanya di bahu pria itu, "Kamu itu sahabat terbaik aku, kakak juga buat aku, jangan hancurin semua itu dengan perasaan sesaat, Sa."


"Sesaat apaan, bertahun-tahun Lan, kamu-nya aja yang buta. Mata kamu ketutup belek bernama Bintang, jadi kamu gak bisa liat aku."


Lagi-lagi Bulan tertawa, Angkasa memang pernah beberapa kali mengungkapkan perasaannya pada Bulan, tapi sayangnya, Bulan selalu menganggap itu sebuah candaan untuk menghiburnya.


"Jangan bahas dia lagi, Sa. Aku males," kata Bulan. Betah bersandar di bahu Angkasa yang menurutnya sandaran ternyaman itu, sampai tak terasa mereka sudah sampai di lantai 15, lantai teratas gedung itu.


Mereka pun keluar dari lift, berjalan menyusuri sebuah lorong menuju ruangan paling ujung.


Dari kejauhan, pintu ruangan itu sudah terlihat. Pintu megah berwarna coklat klasik yang di bagian atasnya bertuliskan CEO LAGROUP. Entah mengapa Bulan jadi tegang, ia juga gugup. Padahal ia sudah mengenal Langit, tapi tetap saja aura pria itu memang berbeda. Kharismanya membuat siapa saja yang berhadapan dengan Langit merasa segan.


Dari semakin eratnya pegangan Bulan di lengannya, Angkasa tahu Bulan tengah tegang, ia lalu menoleh dan terkekeh melihat raut wajah Bulan yang tampak gugup. "Tegang banget, santai aja Lan," ucapnya.


Angkasa terkekeh, mengusap jemari Bulan yang masih melingkar di lengannya.


Tok tok tok


Angkasa mengetuk pintu sesaat setelah mereka berdiri di hadapan benda itu.


"Masuk.." sahut Langit dari dalam sana.


Angkasa menoleh, berdecak saat melihat keringat di dahi Bulan. Ia mengusap keringat itu dengan tangannya, lalu merapikan rambut poni Bulan yang sedikit lepek. "Jadi keringetan kan, jangan tegang Lan. Ada aku, aku juga interview bareng kamu."


Bulan mengangguk, ia bersiap-siap saat Angkasa membuka pintu.


Hal yang pertama Bulan lihat adalah senyum Langit, pria itu bahkan beranjak dari kursi kebesarannya untuk menyambut kedatangan mereka. Bulan dan Angkasa jadi tak enak, tapi mereka sangat terkesan dengan keramahan pria itu.


"Selamat pagi, Om. Eh pak," ralat Angkasa.


Bulan menyenggol lengan Angkasa, menegur pria itu dengan isyarat agar bersikap profesional meski Langit adalah Om-nya.


"Maaf pak," ucap Angkasa. Pria itu tersenyum kaku, menoleh pada Bulan yang tampak menunduk segan.


Langit justru tertawa, pria paruh baya itu mendekat dan memeluk Angkasa lalu bergantian memeluk Bulan, "Tidak apa-apa, jangan terlalu formal. Ayo duduk," ucapnya. Setiap kali melihat Angkasa atau Bulan, ia selalu teringat pada Bintang, putranya yang masih berada di Amsterdam.


Bintang masih berada di Amsterdam karena pria itu bekerja disana. Meski Langit dan Jingga sudah sangat ingin Bintang kembali tinggal bersama mereka, tapi mereka menghargai keputusan Bintang yang ingin tetap berada disana untuk bekerja, hitung-hitung mencari pengalaman kerja sebelum nanti Bintang mengurus kembali restonya yang sekarang di ambil alih oleh Jingga.


Bintang juga ingin keliling Eropa dulu sebelum nanti memutuskan untuk pulang dan kembali tinggal di tanah air.


"Bagaimana Bulan, kamu siap bergabung dengan LaGroup?" tanya Langit. Ia tersenyum di akhir kalimatnya.


Bulan mengangguk, ketegangan dan kegugupannya sedikit berkurang karena sikap hangat Langit. "Siap pak," jawabnya.


"Good, mulai sekarang kamu dan Angkasa bisa langsung bekerja."


"Hah?" Bulan mengerjap, ia menoleh pada Angkasa yang tampak tersenyum lebar. "Interview-nya bagaimana pak?"


"Tidak usah, anggap saja ini juga interview. Kamu di tempatkan di bagian desain grafis," ucap Langit dengan enteng, ia lalu menoleh pada Angkasa, "Dan kamu Angkasa, kamu temui papa kamu dan minta posisi yang pas untuk kamu."


"Baik Om, pak." Angkasa tersenyum kaku, lidahnya masih saja belibet, mungkin karena ia belum terbiasa memanggil Langit dengan sebutan pak.


Langit tertawa, kemudian meminta Angkasa mengantarkan Bulan ke ruangannya. Semua seperti sudah di setting rapi oleh Langit dan Angkasa, Bulan hanya tinggal mengikuti arahan mereka saja. Meski begitu mudah ia mendapatkan posisi itu, tapi Bulan berjanji dalam hati akan bekerja dengan giat dan bersungguh-sungguh. Ia akan membuktikan pada Langit, bahwa ia layak berada di posisinya sekarang.