
Pagi-pagi sekali, Angkasa sudah bertamu ke rumah Bulan. Pasalnya, pagi ini ia dan Bulan akan melakukan wawancara kerja sebagai formalitas sebelum mereka resmi di terima sebagai karyawan tetap di perusahaan besar, LaGroup.
Di temani Bumi yang belum pergi ke tokonya, mereka duduk di teras rumah seraya meminum kopi hitam yang masih mengepulkan asap, pertanda kopi itu masih sangat panas.
Di lengkapi dengan pisang goreng hangat yang sempat Bulan buatkan sebelum ia bersiap-siap.
"Haaaaah, nikmatnya hidup. Om Bumi, apa om bumi tahu keinginan terbesar aku?" Celetuk Angkasa sesaat setelah ia menyeruput kopinya.
Bumi menggeleng, tentu ia tak tahu, "Apa itu? Apa anak muda sukses sepertimu masih punya keinginan yang belum terpenuhi?"
"Ini keinginan terbesar aku, duduk tenang menikmati kopi hangat dan pisang goreng. Tanpa beban, tanpa kebisingan , tanpa tuntutan apapun. Rasanya begitu nyaman, apalagi udara disini sangat segar, hijau dan sederhana. Semoga saja masa tua aku bisa setenang ini," ungkapnya. Memang tak muluk-muluk, keinginannya sangat sederhana. Bukan hidup mewah dan berfoya-foya, Angkasa hanya ingin menghabiskan masa tuanya dengan tenang di sebuah desa yang asri.
Rumah sederhana milik Bumi dan Bulan memang sedikit jauh dari jalan utama atau jalan raya. Karena itu udara di sana masih bisa tertolong, apalagi di depan rumah itu ada sawah milik warga yang tengah hijau-hijaunya. Bumi sengaja membeli rumah itu untuk bisa hidup tenang bersama Bulan. Ia patut bersyukur, setelah kerjasamanya dengan LaGroup berjalan lancar, ia bisa membeli rumah sederhana itu. Meski pun ke toko miliknya sedikit jauh, apalagi jarak ke perusahaan LaGroup. Daerah itu memang sudah termasuk ke daerah kota hujan, Bogor.
Bumi dan Bulan baru sekitar satu tahun menempati rumah itu. Setelah melalui beberapa tahan renovasi agar bisa di huni dengan nyaman, akhirnya rumah itu bisa mereka tempati tahun lalu.
"Tuntutan?" ulang Bumi dengan kening mengkerut tajam. Hatinya bertanya-tanya, tuntutan apa yang di bebankan pada Angkasa? Karena setahunya, Alex dan Mega adalah orang tua yang bijak, mereka tak mungkin banyak menuntut pada putra semata wayang mereka.
Angkasa mengangguk, "Iya, om. Tuntutan pekerjaan yang kadang bikin keder. Apalagi kalau tanggal gajian dateng, pusing ngurus karyawan, om." Jelasnya, ia memang belum mempunyai asisten untuk mengurus semuanya, belum ada orang yang bisa ia percayai untuk menjadi tangan kanannya. "Aku ngurus cafe sendirian, om. Asisten aku yang dulu kan resign, om. Aku belum punya gantinya," Angkasa jadi curhat, tadinya ia ingin mengajak Bulan bekerja lagi dengannya, tapi ia sadar, ia belum bisa memberi gaji besar pada Bulan sebesar gaji LaGroup. Meski mungkin Bulan tak akan mempermasalahkan perihal gaji, tapi tetap saja Angkasa ingin yang terbaik untuk Bulan, dalam hal apapun itu!
Bumi bernafas lega, ia kira tuntutan apa. Ternyata tuntutan pekerjaan. Memang, tuntutan pekerjaan pun tak bisa di anggap remeh, banyak orang yang stress berat karena beban pekerjaan. Ia menepuk bahu Angkasa beberapa kali, tersenyum bangga pada pria muda itu, "Om justru bangga sama kamu. Di usia muda, kamu sudah mampu mengelola cafe sendiri, apalagi cafe milik kamu sudah banyak, itu sesuatu yang membanggakan dan patut di acungi jempol. Jiwa bisnis kamu luar biasa loh, gak semua orang punya itu."
Bumi tertawa, lalu mengangkat kedua tangannya, "Papa gak ikutan ya, nak."
Angkasa menghentikan ucapannya, menelan ludahnya dengan susah payah lalu perlahan menoleh. Ia tersenyum kaku saat mendapati Bulan berdiri di belakangnya dengan mata melotot.
"Bagus banget jadiin aku bahan ghibah! Angkasa Bin Alex, hukuman apa yang pas buat kamu?"
"Mijitin kamu, iya itu aja ya Lan," ucapnya memberi penawaran.
"Ish, sungguh terlalu. Jangan-jangan di belakang aku kamu sama papa sering ghibahin aku yah?" tanya Bulan penuh selidik.
Bumi sontak menggeleng, "Papa gak ikutan. Dia tuh yang sering," tuduh Bumi seraya menunjuk Angkasa.
"Lah, om. Kok aku doang, om yang suka mulai.."
"Papa mau ke toko, udah siang, assalamualaikum.." Bumi mengecup kening Bulan, berpamitan terburu-buru setelah ia berpesan pada Angkasa untuk menjaga putri kesayangannya itu.
Angkasa menggaruk kepalanya yang tak gatal, menutup pintu rumah Bulan lalu menguncinya. Tidak lupa juga ia memberikan kunci itu pada Bulan, lalu menarik tangan gadis itu menuju ke mobilnya. Lebih baik cari aman, segera mengajak Bulan pergi dengan alasan takut kesiangan ketimbang terkena omelan Bulan yang anehnya terkadang ia rindukan. Memang aneh, Angkasa sering merasa rindu terhadap omelan Bulan, bahkan Angkasa sering meminta Bulan mengomelinya meski pria itu tak melakukan kesalahan.