MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
KEDEKATAN ANGKASA BULAN


"Mau kemana?" Tanya Bintang saat Angkasa beranjak dari kursinya, padahal makanan yang ia pesan belum tandas bahkan masih banyak.


"Ke kelas bentar, ada yang lupa. Kalian lanjutin aja makannya," jawab Angkasa.


Bintang dan Zeni saling menatap, lalu mereka kembali menatap Angkasa dan mengangguk kompak, membiarkan Angkasa pergi meninggalkan mereka dan makanannya.


"Aneh tuh anak," celetuk Zeni.


"Mungkin emang ada yang kelupaan," komentar Bintang, meski sesungguhnya hatinya juga merasa ada yang aneh dengan Angkasa.


"Udah lah biarin, kita makan aja. Nanti juga balik lagi," ucap Zeni lagi.


Bintang mengangguk, ia kembali fokus dengan makanannya. "Jangan liatin aku, makan yang benar Zen!" tegur Bintang, meski sedari tadi ia menunduk dan fokus pada makanannya, tapi ia tahu Zeni terus menatapnya.


Zeni terkekeh, "Ternyata kamu nyadar aku liatin kamu."


Bintang menyeruput capuccino dinginnya, kemudian menoleh pada Zeni, "Kok aku kamu? Kaya biasanya aja Zen, Lo gue."


"Kenapa emang? Lebih bagus aku kamu kan?"


Bintang menghela nafas panjang, ia tak suka perubahan sikap Zeni padanya, "Aku nyamannya kamu ngomong Lo gue aja, seperti biasa."


"Kamu aja ngomongnya aku kamu kan? Kok aku gak boleh?"


"Bukannya gak boleh, Zen. Aku ngerasa gak nyaman aja. Sedikit aneh.." ucap Bintang dengan jujur. Meski bahasa aku kamu lebih baik, tapi untuk posisinya saat ini Bintang memilih Zeni bicara seperti biasanya. Ia benar-benar tak nyaman dan merasa aneh, karena itu lah ia tak mau kalau hubungan persahabatan mereka di campuri dengan cinta. Karena akhirnya mereka tak akan sama seperti dulu.


"Jahat deh," rengek Zeni.


Bintang kembali menghela nafas panjang, sepertinya percuma saja berdebat dengan Zeni, "Terserah kamu aja!"


Zeni tersenyum, namun senyumnya surut saat Bintang beranjak pergi meninggalkannya begitu saja. "Kok ninggalin aku?" tanya Zeni sedikit berteriak.


"Aku mau ke toilet, mau ikut?" sindir Bintang.


***


Bulan mengerjap saat ia merasa ada seseorang yang tengah mengusap puncak kepalanya. Perlahan kedua matanya terbuka dengan sempurna, ia sedikit terkejut saat mendapati seseorang duduk di sebelahnya, di bangku Cici.


"Angkasa?"


"Hai.." Angkasa tersenyum, lalu menahan tangan Bulan yang terus mengucek matanya, "Jangan di kucek, nanti perih Lan.." ucapnya dengan cemas.


"Kok kamu disini? Ini aku beneran tidur di kelas aku kan? Masa iya aku ngigau pindah ke kelas kamu?" ucap Bukan dengan polos, membuat Angkasa tertawa lalu menggeleng.


"Lo di kelas Lo kok. Gue kesini mau nganterin ini," Angkasa mengangkat sekantong makanan yang sengaja ia beli untuk Bulan, untuk memperlihatkannya pada gadis itu. "Tapi Lo-nya asik tidur. Mau bangunin kasian, kayanya Lo cape banget, apalagi nanti sore Lo mulai kerja."


"Tau aja aku laper, akhir-akhir ini aku emang cape banget. Maklum lah, aku kan di rumah udah belajar ngerjain semuanya sendiri. Mungkin karena belum terlalu terbiasa," Bulan mengambil roti yang Angkasa bawa, membukanya lalu memakannya, "Kamu udah makan?"


Angkasa mengangguk, "Udah, pelan-pelan aja makannya Lan, ini semua buat Lo."


Bulan tersenyum lebar lalu mengangguk, "Aku udah gak sabar buat kerja," ungkapnya.


Kalimat yang membuat Angkasa tertawa lalu menarik ujung hidung mancung Bulan dengan gemas, "Kenapa gak sabar?"


"Lebih cepat lebih baik, artinya, lebih cepat aku kerja, peluang buat aku dapet gaji juga makin cepat kan?"


Mereka tertawa bersama, tak menyadari ada seseorang yang tengah melihat keakraban mereka di ujung pintu.


Bintang yang semula mencari Angkasa, tanpa sengaja mendengar selentingan teman-teman sekelas Bulan yang membicarakan kedekatan Bulan dan Angkasa. Mereka bahkan mengatakan Bulan dan Angkasa sangat serasi.


Entah mengapa kalimat itu mengganggunya, membuat kakinya tanpa sadar melangkah ke kelas Bulan. Ternyata Angkasa memang ada disana, tengah asik bicara dengan Bulan yang tampak bahagia.


"Jadi kamu beneran disini, Sa. Dan kamu tahu kalau sekarang Bulan kerja.."


Lagi-lagi, Angkasa lebih tahu tentang Bulan dari pada dirinya. Lagi-lagi Bulan terbuka pada Angkasa dari pada pada dirinya.