MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
PEMANDANGAN


Angkasa berlari menuju ke ruangan Bulan, ia harus mendapatkan maaf dari gadis itu. Beberapa kali ia mengumpat, merutuki kebodohannya yang sudah cemburu buta.


Sapaan dari karyawan ia abaikan, tujuannya ingin cepat menemui Bulan. Namun saat tiba di ruangan gadis itu, ternyata Bulan tak ada disana.


"Gilang, apa kamu liat Bulan?" Tanya Angkasa saat kebetulan Gilang melewatinya.


"Yayang Mbul lagi meeting sama pak Langit. Meeting dadakan katanya," jelas Gilang.


Semakin cemas saja batin Angkasa, Bintang juga pasti ikut meeting. Semenjak ia resmi menjadikan Bulan kekasih, entah mengapa ia kerap tak bisa menahan kecemburuannya. Padahal dulu ia sering mengalah dan membiarkan Bulan bersama Bintang, tapi sekarang hatinya begitu sensitif.


Bulan dekat sedikit saja dengan Bintang, ia sudah kalang kabut. Mungkin karena status di antara mereka sudah jelas. Haruskah ia kembali melepas Bulan? Agar ia bisa menahan diri dan tak menyakiti Bulan. Tapi ia belum rela, atau mungkin tak akan pernah rela.


***


"Selamat pagi semuanya, maaf aku terlambat," ucap gadis cantik berambut sebahu yang baru saja memasuki ruang meeting.


Semua orang menoleh, menatap gadis itu dengan tatapan kagum. Termasuk Bulan, namun kemudian ia melirik Bintang, pria itu tampak biasa saja.


"Tidak apa-apa nak, mari masuk," Langit menyambut gadis itu dengan ramah. Bahkan senyuman hangat pria itu berikan untuknya.


"Perkenalkan, ini Kimmy, putri tuan Bram. Tuan Bram berhalangan hadir karena harus mengurus perusahaannya yang lain, karena itu putrinya mewakili," jelas Langit. Ia menoleh pada Kimmy lalu gadis itu mengangguk.


"Salam kenal semuanya, semoga kita bisa menjadi tim yang baik," kata Kimmy.


Satu persatu dari mereka memperkenalkan diri, hingga tiba saatnya Bintang bicara, Kimmy memotongnya.


"Tidak usah memperkenalkan diri, aku sudah sangat mengenalmu, tuan muda," Kimmy mengedipkan sebelah matanya, menghampiri Bintang lalu memeluknya tanpa ragu. "Apa kabar?"


Bintang tersenyum, menyambut pelukan Kimmy dengan hangat, "Baik, kamu sendiri?"


Pemandangan itu membuat Bulan memalingkan wajahnya, ia tak nyaman melihat pelukan hangat antara Kimmy dan Bintang.


"Sangat baik, apalagi setelah bertemu denganmu." Kimmy mengedarkan pandangannya, melirik Gea yang duduk di sebelah Bintang. Ia berbisik pada Bintang, entah apa yang gadis itu bisikkan, sampai Bintang kemudian meminta Gea beralih tempat.


Hal yang membuat Bulan semakin panas. Namun sebisa mungkin ia meredam gejolak rasa di hatinya, ia terus menyebut nama Angkasa dalam hati. Bermaksud menyadarkan diri, bahwa sudah ada Angkasa di hidupnya.


Keakraban yang terjalin di antara Bintang dan Kimmy mampu membuat konsentrasi Bulan terbagi. Bulan mengikuti meeting, tapi pikirannya tak terfokus pada pembahasan dalam meeting.


"Siapa dia? Apa hubungannya dengan Bintang?"


***


Gea yang memanggilnya tak di hiraukan, Bulan ingin segera pergi ke ruangannya. Kedekatan Bintang dan Kimmy benar-benar menguras emosi. Belum lagi tawa lepas mereka selepas meeting usai, bahkan hingga Bulan di luar ruangan pun mereka masih terdengar tertawa. Entah apa yang mereka bincangkan, Langit pun ikut serta dan menunjukan kedekatannya dengan Kimmy.


"Lan, ish! Aku panggil-panggil juga, tungguin aku Lan!" Gea mengejar Bulan, merangkul bahu gadis itu agar tak kabur lagi. "Kenapa sih lemes banget?"


"Gak enak badan, mbak." Jawab Bulan asal, ia tak mau Gea melayangkan lebih banyak pertanyaan.


"Hah? Serius? Aku anter ke ruang pemeriksaan yuk!"


Bulan menggeleng, "Gak usah mbak, aku istirahat di ruangan aku aja."


"Ok ok, yuk cepetan ke ruangan kamu," Gea tampak cemas, menuntun Bulan memasuki lift.


Ada rasa bersalah yang menyusup di hati Bulan, ia membohongi Gea. Tapi untuk saat ini, ia tak bisa menjelaskan apa-apa.


Gea yang benar-benar mencemaskan Bulan mengantar gadis itu ke ruangannya, ternyata disana sudah ada Angkasa. Ia yang mengerti dengan situasi pun pamit pada Bulan, "Mbak ke ruangan dulu yah, kamu istirahat."


Bulan mengangguk seraya tersenyum, "Makasih ya mbak."


Gea mengangguk sebagai balasan, ia pamit pada Angkasa juga, lalu keluar dari ruangan Bulan.


"Kamu sakit?" Tanya Angkasa.


Bulan menggeleng, lalu duduk di kursi kerjanya. Tanpa memperdulikan keberadaan Angkasa, gadis itu menyibukkan diri dengan pekerjaan yang sebenarnya sudah selesai.


Angkasa mendekat, menyentuh kening Bulan yang kemudian di tepis oleh gadis itu.


"Aku udah bilang, gak usah perduliin aku lagi," kata Bulan. Ia menghela nafas panjang, kemudian berdiri dan menatap Angkasa yang jauh lebih tinggi darinya, "Lebih baik kita temenan lagi aja, Sa. Dulu kita gak pernah berantem kaya gini, kita gak pernah berdebat, kamu juga gak pernah bentak-bentak aku. Aku yang salah, tanpa berpikir panjang aku meminta kamu jadi pacar aku. Maafin aku, mungkin lebih baik kita emang sahabatan!"


Angkasa tersentak mendengar setiap kata yang Bulan lontarkan. Ia pun menyadari hal itu, bahwa semua yang Bulan bicarakan memang benar. Tapi untuk melepaskan Bulan, Angkasa rasa ia tak akan sanggup. Apalagi hubungan mereka baru berjalan dalam hitungan hari. Angkasa merasa sangat buruk, karena Bulan tak mampu bertahan dengannya lebih lama lagi. Itu artinya, ia gagal membuat gadis itu nyaman dan bahagia dengannya.


"Bulan.."


"Maafin aku, Sa.."


"Please dengerin aku dulu, aku tahu aku salah, aku udah bentak kamu dan aku minta maaf untuk itu. Kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, aku mohon. Kasih aku kesempatan untuk bikin kamu bahagia, seenggaknya setelah aku berhasil mengukir kenangan manis di hati kamu. Supaya nanti kamu bisa menyebutku mantan terindah. Please sayang.."


Bulan bergeming, ia tatap mata sendu penuh permohonan milik Angkasa. Raut wajah pria itu tampak memelas dan takut, penyesalan terlihat lebih besar dari semua rasa yang Angkasa tunjukan. Kedua alis pria itu nyaris bertemu, menggambarkan seberapa besar penyesalan dan permohonan yang ia tujukan pada sang kekasih. Rasa itu datang sekaligus, bercampur aduk membuat Angkasa semakin takut. "Sayang, please.."


"Sa, aku.."